Al-Quds, Purna Warta – Para tokoh media sosial asal Uni Emirat Arab (UEA) memuji delegasi negara tersebut karena tetap berada di ruang sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya.
Netanyahu menggunakan pidatonya untuk membela genosida di Gaza dan menyerang sejumlah pihak yang mengkritiknya, termasuk Wali Kota New York Zohran Mamdani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Iran, serta sejumlah pemerintah Eropa.
Netanyahu menyampaikan pidatonya pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York pada Kamis, sementara 77 delegasi negara meninggalkan ruang sidang sebagai bentuk protes terhadap genosida Israel di Gaza.
Ahmed Khalifa, salah satu tokoh media sosial terkemuka asal Emirat, merayakan kehadiran delegasi UEA dengan mengunggah foto Netanyahu ketika berpidato di hadapan ruang sidang yang sebagian besar telah kosong. Ia menulis, “UEA ADA DI RUANG SIDANG. Kami hadir. Kami tidak melarikan diri.”
Khalifa kemudian mengecam pihak-pihak yang meninggalkan ruang sidang dengan menulis, “Kalau kalian melarikan diri, itu bukan masalah kami!”
Influencer Emirat lainnya, Rauda Altenaiji, juga membela keputusan UEA tersebut. Ia menulis, “Kami tetap tinggal dan mendengarkan … Kami tetap Dubai, bahkan dalam politik.”
Unggahan-unggahan tersebut mendapat kecaman tajam dari sejumlah pengguna di platform X. Mereka menilai para influencer Emirat tersebut telah mengagung-agungkan keputusan UEA untuk tetap duduk di ruang sidang ketika Netanyahu membela tindakan Israel di Gaza yang mereka sebut sebagai genosida.
Seorang pengguna mempertanyakan sikap UEA dengan menyinggung dukungan negara tersebut terhadap Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) di Sudan. Pengguna itu menulis, “Mengapa kalian harus melarikan diri?” dan mengatakan bahwa Abu Dhabi melakukan “hal yang persis sama di Sudan seperti yang dilakukan Israel di Gaza.”
“Tetap berada di meja perundingan sementara Gaza terbakar merupakan bentuk keterlibatan. Diplomasi tidak dapat menutupi sikap tidak bertindak ketika terjadi genosida,” tulis pengguna X lainnya sebagai tanggapan atas kehadiran UEA di ruang sidang.
Netanyahu, yang menjadi subjek surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza, menyerang pihak-pihak yang meninggalkan ruang sidang dan menyebut mereka sebagai “pengecut.”
Pernyataan tersebut kemudian digunakan untuk mengkritik UEA di platform X. Salah seorang pengguna menulis, “UEA tetap tinggal. Mereka adalah para pengecut yang paling menjijikkan.”
Hampir tiga tahun genosida di Gaza tidak menghentikan UEA untuk mempertahankan hubungan diplomatik, perdagangan, dan keamanan secara penuh dengan Israel.
UEA tetap menjadi mitra dagang Arab terbesar bagi Israel, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai 3,2 miliar dolar AS pada 2025, sementara Israel terus melakukan agresi militer terhadap Gaza setelah menandatangani gencatan senjata pada Oktober tahun lalu.
Menurut angka terbaru yang dilaporkan Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 lainnya sejak rezim tersebut melancarkan perang di wilayah itu pada 7 Oktober 2023.


