Al-Quds, Purna Warta – Gerakan perlawanan Palestina Hamas menyampaikan apresiasi atas serangan rudal terbaru Iran terhadap rezim Israel sebagai bentuk pembelaan terhadap rakyat Lebanon dan Poros Perlawanan.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, Hamas menegaskan bahwa menghentikan agresi Israel terhadap negara-negara Muslim di kawasan kini harus menjadi prioritas utama.
“Di tengah berlanjutnya kejahatan dan agresi pendudukan Zionis terhadap rakyat kami di Gaza, Tepi Barat, dan al-Quds yang diduduki, serta terhadap rakyat Lebanon yang bersaudara, menghentikan agresi Zionis dan kejahatannya telah menjadi prioritas yang mendesak,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Hamas menekankan bahwa “kini semakin jelas bahwa perilaku agresif entitas Zionis yang tidak terkendali merupakan sumber utama seluruh ketegangan di kawasan.”
Gerakan perlawanan Palestina itu menyatakan bahwa kebijakan agresif Israel yang terus-menerus merupakan ancaman permanen bagi keamanan dan stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Hamas juga memperingatkan dampak serius dari tindakan Israel terhadap tatanan internasional.
Gerakan tersebut menyerukan negara-negara Muslim untuk membentuk front persatuan dalam menghadapi agresi dan berbagai rencana Israel di kawasan Asia Barat.
“Agresi Zionis terhadap Gaza, Lebanon, dan Iran tidak hanya menargetkan pihak-pihak tersebut, melainkan merupakan serangan terhadap seluruh dunia Islam dan sumber dayanya,” tegas Hamas.
Hamas menambahkan bahwa kondisi ini menuntut “seluruh komponen umat untuk berdiri bersama menghadapi serangan yang terus berlangsung serta memperkuat segala bentuk solidaritas dan dukungan yang dapat membantu menghalangi pendudukan dan membendung eskalasi agresinya.”
Gerakan itu juga menyoroti bahwa Israel berulang kali menunjukkan ketidakpatuhannya terhadap berbagai komitmen dan perjanjian.
“Pendudukan telah membuktikan—melalui agresi yang terus berlanjut terhadap Gaza, Lebanon, dan Iran, serta melalui pengkhianatan berulang, pengingkaran komitmen, dan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah ditandatangani—bahwa ia adalah entitas yang tidak menghormati perjanjian maupun kesepahaman apa pun, serta terus melanggar berbagai kesepakatan dan kewajiban internasional,” lanjut pernyataan tersebut.
Sementara itu, otoritas pendudukan Israel pada Senin mengumumkan penutupan seluruh perlintasan menuju Jalur Gaza setelah serangan rudal terbaru Iran terhadap sasaran-sasaran di wilayah pendudukan.
Pihak Israel mengklaim langkah tersebut merupakan bagian dari prosedur keamanan sebagai respons terhadap perkembangan terkini. Namun, penutupan itu terjadi ketika warga Palestina di Gaza masih sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan setelah hampir tiga tahun perang, kehancuran, dan pengungsian massal.
Berbagai organisasi hak asasi manusia Palestina dan internasional berulang kali mengecam penggunaan perlintasan dan akses bantuan sebagai alat tekanan politik maupun militer, serta menilai tindakan tersebut sebagai bentuk hukuman kolektif yang dilarang oleh hukum internasional.
Kantor Media Pemerintah Gaza memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pengepungan dan pembatasan bantuan yang masih berlangsung.
Otoritas Gaza juga menyerukan kepada United Nations, organisasi kemanusiaan, negara-negara mediator, dan masyarakat internasional agar segera melakukan intervensi.
Fakta terkait: Serangan rudal Iran yang disebut dalam pernyataan Hamas terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangkaian serangan Israel di Lebanon selatan dan kawasan pinggiran selatan Beirut. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran internasional akan meluasnya konflik di Timur Tengah, sementara berbagai upaya diplomatik terus dilakukan untuk mencegah eskalasi yang lebih besar. Di saat yang sama, kondisi kemanusiaan di Gaza tetap menjadi perhatian utama berbagai lembaga internasional karena keterbatasan pasokan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan dasar lainnya bagi penduduk sipil.


