Hamas: Diamnya Masyarakat Internasional Mendorong Netanyahu Melakukan Lebih Banyak Kejahatan

Hamas B

Gaza, Purna Warta – Hamas memperingatkan bahwa sikap diam dan ketidakmampuan yang tak dapat dibenarkan dari masyarakat internasional mendorong Benjamin Netanyahu—yang mereka sebut sebagai penjahat perang—beserta anggota kabinetnya untuk terus melakukan kejahatan.

Menurut laporan  Shehab News Agency, Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam sebuah pernyataan memperingatkan bahwa kejahatan tentara rezim pendudukan Zionis terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza masih terus berlanjut.

Dalam pernyataan Hamas disebutkan:

“Kasus terbaru dari kejahatan ini adalah serangan udara pada siang hari ini terhadap sebuah kendaraan sipil di kamp pengungsi Al-Maghazi, tempat para pengungsi tinggal. Akibat serangan ini, tiga orang gugur. Tadi malam juga terjadi kejahatan mengerikan yang menyebabkan lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, gugur di utara Jalur Gaza. Eskalasi kejahatan ini menunjukkan berlanjutnya genosida dan melemahkan upaya-upaya untuk melaksanakan komitmen yang tercantum dalam perjanjian gencatan senjata.”

Hamas menambahkan:

“Diam dan ketidakmampuan masyarakat internasional yang tak dapat dibenarkan dalam menghadapi kejahatan-kejahatan ini dan agresi terhadap bangsa-bangsa, mendorong Netanyahu sang penjahat perang dan anggota kabinet terorisnya untuk terus melakukan kejahatan.”

Gerakan perlawanan Palestina itu kembali menyeru masyarakat internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan semua pihak terkait untuk segera bangkit menghentikan rangkaian pembantaian dan kejahatan harian yang dilakukan tentara rezim pendudukan serta para pemukim terorisnya terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat, serta melindungi rakyat Palestina dari ancaman genosida dan pengusiran paksa yang masih mengintai mereka.

Laporan media internasional juga menyebut bahwa serangan terbaru di kamp pengungsi Al-Maghazi dan wilayah Gaza utara terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata dan meningkatnya tekanan internasional untuk menghidupkan kembali negosiasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *