Berlin, Purna Warta – Seorang guru sekolah dasar di Luksemburg, Fatima Kurtic, diberhentikan dari pekerjaannya setelah mengunggah sejumlah konten di Instagram yang berisi kritik terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza dan dukungan terhadap rakyat Palestina.
Kementerian Pendidikan Nasional Luksemburg menyatakan bahwa keputusan pemecatan tersebut diambil karena sejumlah unggahan Kurtic dinilai mengandung unsur antisemitisme. Namun, Kurtic membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa unggahannya ditujukan untuk mengkritik pemerintah Israel dan ideologi Zionisme, bukan ditujukan kepada masyarakat Yahudi ataupun agama Yahudi.
Setelah pemecatannya diumumkan, sejumlah murid, orang tua siswa, dan pendukung menggelar aksi damai untuk menuntut keadilan serta meminta agar Kurtic dipekerjakan kembali sebagai guru.
Fatima Kurtic merupakan penyintas perang Bosnia. Ia tiba di Luksemburg sebagai pengungsi pada tahun 2002 saat masih berusia sekitar delapan tahun dan pernah tinggal di kamp pengungsi selama empat tahun.
Kurtic menyatakan bahwa pemecatan tersebut melanggar haknya atas kebebasan berekspresi. Menurutnya, seluruh unggahan yang dibuat hanya berisi dukungan terhadap rakyat Palestina dan penolakan terhadap kekerasan di Gaza, tanpa mengandung ujaran kebencian terhadap orang Yahudi ataupun agama Yahudi.
Ia menegaskan bahwa dirinya akan tetap menyuarakan dukungan terhadap Palestina meskipun telah kehilangan pekerjaannya. Kurtic juga mengatakan bahwa ia tidak menerima keputusan tersebut dan telah mengajukan gugatan hukum melalui kuasa hukumnya untuk membatalkan pemecatan itu.
Di media sosial Instagram, Kurtic memiliki lebih dari 111.000 pengikut. Selain menyuarakan dukungan terhadap Palestina, ia juga pernah mengajak masyarakat memboikot perusahaan Grosbusch yang berbasis di Luksemburg karena menjual kurma yang disebut berasal dari permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Menurut Kurtic, pemecatan dilakukan tanpa adanya peringatan sebelumnya. Kuasa hukumnya berpendapat bahwa bukti yang diajukan oleh Kementerian Pendidikan tidak cukup untuk menjadi dasar pemberhentian dirinya sebagai guru.
Kurtic juga mengungkapkan bahwa dirinya menjadi sasaran kampanye terkoordinasi setelah unggahannya mengenai keberhasilannya mendorong salah satu jaringan ritel besar di Luksemburg menghentikan penjualan produk-produk Israel menjadi viral.
Ia menegaskan bahwa aktivitas politik dan advokasinya tidak pernah dibawa ke dalam proses pembelajaran di sekolah. Selain itu, Kurtic menyatakan bahwa Kementerian Pendidikan mengakses akun media sosial pribadinya, mengambil tangkapan layar unggahan-unggahannya, kemudian menggunakan materi tersebut sebagai dasar proses yang berujung pada pemecatannya, sehingga menurutnya turut mempersulit peluangnya untuk mengajar di lembaga pendidikan lain.


