Purna Warta – Stadion belum sepenuhnya tenang ketika Jude Bellingham sudah berlari meninggalkan kerumunan rekan-rekannya. Saat pemain Inggris lain masih merayakan gol, gelandang berusia 23 tahun itu justru bergegas menuju lapangan sendiri sambil mengepalkan tangan ke arah tribune.
Selebrasi bukan prioritas bagi Jude Bellingham. Bagi prajurit The Three Lions itu, pertandingan belum selesai dan kemenangan belum benar-benar menjadi milik Inggris.
Sikap itu menggambarkan karakter yang melekat pada pemain Real Madrid tersebut. Ia tidak hanya berburu gol, tetapi juga terus mendorong ritme permainan, mengejar bola, dan memaksa timnya tetap percaya hingga peluit panjang berbunyi.
Karakter itulah yang kembali membawa Inggris melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026. Dua gol Bellingham memastikan kemenangan 2-1 atas Norwegia dalam laga yang berlangsung hingga babak tambahan.
Pertandingan tidak berjalan sesuai keinginan Inggris. Norwegia mampu menutup hampir seluruh ruang sehingga aliran bola pasukan Thomas Tuchel kerap terhenti sebelum memasuki sepertiga akhir lapangan.
Dalam situasi itu, Bellingham tidak menunggu bola datang di posisi ideal. Ia berkali-kali turun lebih dalam, menerima umpan dengan membelakangi gawang, lalu membawa bola ke depan untuk membuka jalur serangan.
Perannya bahkan semakin luas setelah Eberechi Eze masuk menggantikan Declan Rice pada babak kedua. Bellingham bergerak lebih ke belakang demi membantu Inggris kembali menguasai permainan yang sempat didikte lawan.
Meski demikian, dominasi tetap sulit diraih. Inggris baru memperoleh jawaban lewat kualitas individu sang gelandang yang mampu menciptakan peluang melalui pergerakan agresif dan keberanian menusuk pertahanan lawan.
Kontribusi Bellingham sepanjang turnamen jauh melampaui catatan golnya. Ia menjadi pemain yang pertama meminta bola, pertama melakukan tekanan, sekaligus pertama meningkatkan tempo ketika permainan tim melambat.
Enam gol yang sudah dicetaknya di Piala Dunia 2026 membuat namanya sejajar dengan Harry Kane sebagai sumber utama produktivitas Inggris. Keduanya menghasilkan 12 dari total 13 gol The Three Lions sepanjang turnamen.
Bellingham menilai kekuatan terbesar Inggris justru berada pada aspek mental. “Saya pikir pertandingan terdiri dari banyak aspek yang berbeda. Sebagiannya teknis, taktis. Bagi saya, yang terbesar adalah aspek psikologis dan bagaimana Anda menghadapi kemunduran serta kesulitan. Tim ini kembali memperlihatkan bahwa kami mampu melakukannya, dan itu adalah kemampuan yang sangat berharga.”
Ucapan tersebut terasa selaras dengan jalannya pertandingan. Inggris berkali-kali berada dalam tekanan, tetapi tidak kehilangan keyakinan hingga kesempatan terakhir datang.


