Gaza Kembali Dibombardir: Kisah Pengkhianatan AS-Israel

Gaza fire

Gaza, Purna Warta – Pada Selasa dini hari, Gaza dibombardir oleh serangan udara dan darat Israel, menewaskan lebih dari 320 warga Palestina serta melukai atau menyebabkan ratusan lainnya hilang hanya dalam waktu lima jam. Agresi yang diperbarui ini—dengan dukungan penuh dari AS—membuktikan ketidakpedulian Tel Aviv dan Washington terhadap kesepakatan internasional.

Baca juga: Serangan Rezim Israel Terhadap Wisma Tamu PBB

Setelah lebih dari satu tahun Gaza dibombardir oleh serangan tanpa henti Israel yang menelan puluhan ribu korban jiwa, Hamas dan Israel sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh AS dan pihak lainnya. Fase pertama dari gencatan senjata ini, yang diterapkan pada Januari, mencakup pertukaran tahanan Palestina dan Israel. Namun, setelah fase ini berakhir pada Maret, fase kedua tidak pernah terwujud.

Bahkan selama gencatan senjata awal, Tel Aviv terus melanggar perjanjiannya dengan menargetkan warga sipil Palestina, menutup jalur perbatasan, dan menghentikan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Israel terpaksa menerima gencatan senjata karena beberapa faktor: perang yang berkepanjangan dan melelahkan, menurunnya moral serta ketahanan fisik tentaranya, perlawanan Palestina yang tetap berlanjut meski Gaza diblokade, serta meningkatnya tekanan domestik dari keluarga para tahanan Israel dan fraksi-fraksi politik, terutama terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Setelah fase pertama gencatan senjata, tekanan terhadap kabinet Netanyahu mulai mereda. Salah satu kekhawatiran utamanya adalah kemungkinan runtuhnya koalisi pemerintahannya, terutama jika partai-partai sayap kanan menarik dukungan mereka sebagai bentuk protes terhadap negosiasi gencatan senjata lebih lanjut.

Awalnya, AS berusaha memposisikan dirinya sebagai mediator, tetapi kini mereka secara terang-terangan mendukung serangan terbaru Israel. The Wall Street Journal mengutip seorang pejabat Israel yang mengklaim bahwa mantan Presiden AS Donald Trump telah memberi lampu hijau bagi Israel untuk melanjutkan serangan di Gaza. Pejabat itu juga mengonfirmasi bahwa Tel Aviv telah memberi tahu Washington tentang rencana tersebut sebelumnya—fakta yang kemudian diakui oleh Gedung Putih.

Selama berminggu-minggu, Hamas telah memperingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata yang dimediasi AS dengan keterlibatan utusan khusus Trump, Steve Witkoff. Hamas menuduh Israel sengaja menghambat negosiasi fase kedua untuk membenarkan serangan baru mereka di Gaza.

Baca juga: Protes Genosida Gaza di Washington Digelar di Depan Gedung Putih

Satu-satunya tuntutan Hamas adalah melanjutkan fase kedua gencatan senjata, tetapi Israel justru berusaha memperpanjang fase saat ini tanpa benar-benar berkomitmen untuk mengakhiri perang atau menarik pasukannya sepenuhnya dari Gaza. Alih-alih bertindak sebagai mediator netral, AS justru meningkatkan ancaman terhadap Hamas, mengusulkan perpanjangan gencatan senjata selama satu bulan dengan syarat pembebasan lebih banyak tahanan Israel, sambil meningkatkan retorika tentang kemungkinan kembali ke perang skala penuh.

Dukungan Washington terhadap pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata sekali lagi menunjukkan bahwa AS tidak bisa dipercaya—baik sebagai mediator maupun sebagai penandatangan perjanjian internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *