Tel Aviv, Purna Warta – Dampak psikologis dari sirene serangan udara yang terus-menerus dan serangan perlawanan yang tiada henti telah memicu lonjakan gangguan kesehatan mental di kalangan pemukim, karena rezim berjuang untuk mengatasi tekanan pencegahan strategis Iran dan serangan presisi perlawanan Lebanon.
Selama berhari-hari, penduduk wilayah Palestina yang diduduki telah terjebak dalam siklus kepanikan, dipaksa untuk melarikan diri antara tempat perlindungan bom dan rumah mereka dalam sekejap karena rudal dan drone Iran dan Hizbullah menembus pertahanan udara rezim.
Laporan dari dalam wilayah pendudukan mengkonfirmasi peningkatan tajam dalam kecemasan, PTSD, dan gangguan psikologis lainnya, yang secara langsung terkait dengan ketidakmampuan rezim untuk memberikan keamanan atau stabilitas.
Besarnya krisis terlihat jelas dari frekuensi serangan yang sangat tinggi: hanya dalam waktu tiga hingga empat jam, beberapa gelombang serangan Iran dan Hizbullah berulang kali memicu sirene darurat di seluruh wilayah pendudukan di utara. Setiap rudal atau drone yang datang memaksa para pemukim untuk berlindung, dan mereka hanya keluar setelah tanda aman diberikan—jika memang tanda aman diberikan.
Yang memperparah kekacauan, media dan pejabat Israel mengakui bahwa sirene sering berbunyi bahkan ketika tidak ada ancaman nyata, sementara dalam kasus lain, rudal menyerang tanpa peringatan sama sekali. Lingkungan yang tidak menentu dan tidak dapat diprediksi ini telah memperdalam trauma psikologis, membuat para pemukim berada dalam keadaan ketakutan dan ketidakpastian yang konstan.
Krisis ini semakin intensif sejak perang yang dipaksakan AS terhadap Iran—yang dijuluki “Perang Ramadan” oleh poros perlawanan—meningkat, mengungkap kerapuhan pertahanan rezim Israel dan kerugian manusia yang dahsyat akibat agresinya.
Saat pasukan Iran dan sekutunya terus menegaskan hak mereka untuk membela diri, keruntuhan psikologis penduduk pendudukan menjadi pengingat yang jelas tentang ketidakberlanjutan proyek Zionis dalam menghadapi perlawanan yang gigih.


