Rincian Percakapan Telepon Tegang antara Trump dan Netanyahu

Telepon

Washington, Purna Warta – Jaringan televisi CNN, mengutip dua jurnalis Amerika Serikat, mengungkap rincian percakapan telepon yang berlangsung tegang antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

CNN mengungkap detail percakapan telepon yang penuh ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu. Media Amerika tersebut mengklaim bahwa dalam percakapan itu Trump melontarkan teguran keras kepada Netanyahu karena dianggap menghambat tercapainya kesepakatan terkait Gaza.

Berdasarkan laporan CNN, percakapan tersebut berlangsung pada September tahun lalu. Rinciannya dimuat dalam sebuah buku yang ditulis oleh dua jurnalis Amerika, Maggie Haberman dan Jonathan Swan.

Menurut kedua penulis itu, pada saat itu Trump tengah berupaya mendorong tercapainya kesepakatan mengenai Gaza, tetapi ia menilai Netanyahu tidak menunjukkan kerja sama yang diperlukan. Dalam percakapan tersebut, Trump dikutip mengatakan kepada Netanyahu, “Saya sudah muak dengan tingkah lakumu. Saya telah melakukan segala hal untuk mendukungmu, dan sebaiknya kamu menyelesaikan urusan sialan ini. Semua orang sudah lelah denganmu.”

CNN juga melaporkan bahwa Trump kemudian berkata kepada Netanyahu, “Semua orang Yahudi sudah lelah denganmu; bahkan orang-orang Yahudi yang ikut dalam panggilan telepon ini pun sudah lelah denganmu.” Yang dimaksud Trump adalah Jared Kushner dan Steve Witkoff, dua penasihat dekatnya.

CNN menambahkan bahwa dalam percakapan tersebut Trump juga menyebut sejumlah keputusan kontroversial yang pernah diambilnya untuk mendukung rezim Zionis selama masa kepresidenannya, meskipun ia tidak menjelaskan secara rinci keputusan-keputusan tersebut.

Maggie Haberman mengatakan bahwa setelah percakapan itu masih terjadi sejumlah pembicaraan lain yang juga berlangsung tegang antara Trump dan Netanyahu. Menurutnya, percakapan tersebut menjadi titik awal kondisi hubungan kedua pihak saat ini serta mencerminkan besarnya ketidakpuasan di Gedung Putih dan di kalangan penasihat Trump, termasuk Kushner dan Witkoff.

Haberman juga menyebut serangan rezim Zionis terhadap Qatar sebagai titik balik yang memperkuat pandangan negatif sebagian pejabat pemerintahan Trump terhadap kabinet rezim Zionis. Ia mengatakan serangan itu terjadi ketika Amerika Serikat sedang berupaya mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan.

Pada September tahun lalu, rezim Zionis melancarkan serangan ke Doha, ibu kota Qatar, yang menargetkan delegasi Gerakan Hamas yang saat itu sedang membahas usulan Amerika Serikat mengenai gencatan senjata dan pertukaran tawanan di Gaza. Serangan tersebut menuai kecaman luas dari negara-negara Arab dan masyarakat internasional serta dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Qatar.

Pada awal Juni, situs berita Axios juga melaporkan, mengutip para pejabat Amerika Serikat, bahwa Trump dalam percakapan telepon dengan Netanyahu menegurnya karena meningkatkan eskalasi militer di Lebanon. Dalam percakapan itu Trump dikutip mengatakan, “Kalau bukan karena saya, sekarang Anda sudah berada di penjara.”

Trump dalam pembicaraan tersebut juga menyatakan ketidakpuasannya atas meningkatnya ketegangan di Lebanon dan menilai tindakan rezim Zionis telah melemahkan jalannya perundingan dengan Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *