Al-Quds, Purna Warta – – Menteri Perang rezim Zionis, Yisrael Katz, menyatakan bahwa militer Israel akan tetap berada “untuk waktu yang tidak terbatas” di wilayah-wilayah yang didudukinya di Lebanon, Suriah, dan Jalur Gaza.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di beberapa front kawasan.
Berdasarkan data resmi pemerintah Lebanon yang dikutip dalam laporan tersebut, sejak 2 Maret hingga saat ini, serangan militer Israel telah menyebabkan lebih dari 4.200 warga Lebanon tewas dan lebih dari 12.000 orang lainnya terluka.
Rezim Zionis saat ini masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Sebagian kawasan tersebut telah berada di bawah pendudukan selama beberapa dekade, sementara wilayah lainnya diduduki dalam periode 2013 hingga 2024.
Di Jalur Gaza, militer Israel disebut telah menguasai dan mengendalikan lebih dari 50 persen wilayah tersebut melalui operasi militer yang terus berlangsung.
Sementara itu, di Suriah, Israel telah menduduki Dataran Tinggi Golan sejak Perang Arab-Israel tahun 1967. Setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024, Israel dilaporkan memperluas kehadiran militernya di sejumlah wilayah Suriah.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Israel berulang kali menyatakan akan mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah yang dianggap memiliki nilai strategis, termasuk zona penyangga di Lebanon selatan, Dataran Tinggi Golan, dan wilayah-wilayah tertentu di Jalur Gaza. Menurut pejabat Israel, langkah tersebut diklaim sebagai bagian dari kebijakan keamanan untuk mencegah ancaman dari kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon dan Suriah secara konsisten menolak keberadaan pasukan Israel di wilayah mereka serta menuntut penarikan penuh sesuai ketentuan hukum internasional dan berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejumlah negara dan organisasi internasional juga terus menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan wilayah Lebanon dan Suriah serta penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Sementara itu, situasi keamanan di Gaza, Lebanon selatan, dan perbatasan Suriah-Israel masih tetap bergejolak. Berbagai upaya mediasi internasional untuk mencapai gencatan senjata dan meredakan ketegangan terus berlangsung, namun hingga kini belum menghasilkan penyelesaian menyeluruh terhadap konflik yang terjadi di ketiga wilayah tersebut.


