Ansarullah Yaman Puji Kemenangan Hizbullah pada Perang 2006 sebagai Teladan bagi Dunia Arab dan Muslim

HIzbullah

Sanaa, Purna Warta – Gerakan perlawanan Ansarullah Yaman memuji kemenangan dan pengorbanan Hizbullah dalam menghadapi perang Israel terhadap Lebanon pada 2006 sebagai model bagi dunia Arab dan Muslim.

Dalam pernyataan untuk memperingati 20 tahun kemenangan Juli, Biro Politik Ansarullah pada Jumat menyampaikan ucapan selamat kepada Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, serta perlawanan Islam Lebanon atas kekalahan bersejarah yang dialami Israel.

Menurut pernyataan tersebut, perang Israel selama 34 hari gagal mencapai tujuan politik dan militernya. Sementara itu, Hizbullah berhasil membentuk “keseimbangan daya tangkal strategis dan aturan baru dalam keterlibatan” dengan rezim Israel.

Ansarullah menambahkan bahwa kemenangan Hizbullah turut menggagalkan berbagai proyek Amerika Serikat dan Israel di kawasan, termasuk rencana yang disebut sebagai “Timur Tengah Baru”.

Ansarullah juga memberikan penghormatan kepada mendiang Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah, dengan menyoroti dukungannya terhadap rakyat Palestina dan Yaman serta perjuangannya membela masyarakat tertindas di berbagai belahan dunia.

“Target AS dan Israel terhadap Lebanon dan Hizbullah pada 2006 maupun sejak 2023 berkaitan dengan dukungan kelompok perlawanan tersebut terhadap Palestina serta penolakannya terhadap proyek-proyek AS-Israel di Lebanon dan kawasan yang lebih luas,” kata Ansarullah.

Presiden Dewan Politik Tertinggi Yaman, Marsekal Lapangan Mahdi Al-Mashat, juga menyampaikan ucapan selamat kepada rakyat, tentara, dan kelompok perlawanan Lebanon dalam memperingati kemenangan tersebut.

“Kemenangan yang diraih oleh tentara, rakyat, dan perlawanan merupakan kekalahan bersejarah bagi Israel dan menggagalkan rencananya untuk mendominasi Timur Tengah,” kata Al-Mashat. Ia menekankan pentingnya mempertahankan formula “tentara, rakyat, dan perlawanan.”

Ia memperingatkan bahwa berbagai upaya politik untuk melemahkan formula tersebut “tidak akan memberikan manfaat bagi Lebanon maupun stabilitasnya.”

Al-Mashat juga menyerukan kepada para pemimpin politik Lebanon agar tetap menghormati pengorbanan para pejuang perlawanan dan personel militer Lebanon.

Israel melancarkan agresi besar-besaran terhadap Lebanon pada 12 Juli 2006, dengan melakukan serangan udara secara luas serta operasi darat di berbagai wilayah negara tersebut selama 34 hari berikutnya.

Serangan Israel menghantam kawasan permukiman, jalan, jembatan, bandara, fasilitas listrik, dan berbagai infrastruktur sipil lainnya. Lebih dari 1.000 orang tewas dalam serangkaian serangan tersebut.

Hizbullah menggagalkan tujuan yang dideklarasikan Israel dengan menghadapi pasukan darat Israel melalui strategi perang asimetris serta meluncurkan rudal ke berbagai sasaran di wilayah yang diduduki Israel.

Perang tersebut berakhir dengan gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 14 Agustus 2006, yang kemudian memaksa Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *