“Aksi Israel, Bukan Iran, yang Memicu Anti-Semitisme”: Warganet Bereaksi atas Serangan pada Hari Raya Yahudi di Sydney

Israel

Canberra, Purna Warta – Setelah penembakan mematikan dalam sebuah acara hari raya Yahudi di Australia, para pengguna media sosial menyalahkan tindakan Israel sebagai pemicu meningkatnya apa yang disebut sebagai “anti-Semitisme”, sembari menepis upaya rezim tersebut untuk menyalahkan Iran, meskipun otoritas setempat mengaitkan para pelaku dengan kelompok teroris Daesh (ISIS).

Baca juga: Otoritas Palestina Kecam Rencana Israel yang “Berbahaya” untuk Membangun 9.000 Rumah Permukiman di Tepi Barat

Sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka ketika dua orang bersenjata—ayah dan anak—melepaskan tembakan di sebuah acara hari raya Yahudi di Sydney pada Minggu.

Satu orang yang diduga sebagai pelaku tewas di lokasi kejadian, sementara pelaku lainnya berada dalam kondisi kritis.

Iran mengecam serangan “kejam” tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan, “Kekerasan teror dan pembunuhan massal harus dikutuk, di mana pun itu terjadi, karena bersifat melanggar hukum dan kriminal.”

Menanggapi insiden penembakan itu, jurnalis Kanada Aaron Maté menulis di platform X bahwa serangan tersebut dipicu oleh kemarahan atas kekejaman Israel dan impunitas yang diterimanya.

“Lima belas warga sipil tewas dalam pembantaian yang menargetkan komunitas Yahudi Sydney. Pada hari ketika Israel membantai 15 warga sipil Palestina di Gaza, angka itu justru berada di batas bawah rata-rata selama lebih dari dua tahun genosida,” tulisnya.

“Kekejaman Israel dan impunitas yang dinikmatinya tanpa diragukan lagi merupakan pendorong utama anti-Semitisme di seluruh dunia,” tambah Maté.

Ia juga mencatat bahwa Israel mengeksploitasi insiden tersebut untuk membenarkan kejahatannya terhadap rakyat Palestina dan untuk menyerukan pengetatan lebih lanjut terhadap aksi-aksi protes anti-genosida.

“Untuk menunjukkan betapa kecilnya kepedulian Israel dan para pembelanya terhadap anti-Semitisme, banyak pihak mengeksploitasi pembantaian Sydney untuk membenarkan penolakan Israel terhadap negara Palestina, secara tanpa dasar menyalahkan Iran, serta menuntut penyensoran lebih keras terhadap protes anti-genosida.”

Pernyataan Maté muncul di tengah klaim juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, yang menyebut unggahan Baghaei di X sebagai “menyesatkan”.

Dalam peristiwa penembakan tersebut, seorang warga Muslim yang berada di lokasi turut campur tangan, melucuti senjata salah satu penyerang di Bondi Beach dan berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.

Media Australia mengidentifikasi pria tersebut sebagai Ahmed al-Ahmed, 43 tahun, warga Sydney dan ayah dua anak, yang memiliki toko buah di kawasan Sutherland.

Baca juga: ICC Tolak Banding Israel untuk Membatalkan Surat Perintah Penangkapan Netanyahu

Mantan anggota Parlemen Inggris George Galloway memuji al-Ahmed sebagai seorang “pahlawan” dan menyerukan kepada raja Inggris—sebagai kepala negara simbolis Australia—untuk menganugerahinya George Cross.

Galloway juga mengecam upaya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengaitkan pengakuan Australia terhadap negara Palestina dengan serangan hari Minggu tersebut. Ia menegaskan bahwa Israel terus membunuh warga Palestina di Gaza dengan darah dingin saat dunia menyaksikan.

“Jika itu terjadi di pantai Gaza, bukan di Bondi, Anda bahkan tidak akan mendengarnya. Netanyahu menyalahkan Australia karena mengakui Palestina. Ia tampak bernafsu memulai perang dengan Iran. Dan kelihatannya itu dimulai di Venezuela,” ujarnya, merujuk pada peningkatan postur militer Amerika Serikat di kawasan Karibia.

Jurnalis Yahudi Amerika Max Blumenthal juga mengecam eksploitasi serangan tersebut oleh kalangan Zionis untuk “mengalihkan amarah mereka kepada [wali kota Muslim New York] Zohran Mamdani, aktivisme solidaritas Palestina, dan Iran—kepada siapa pun yang mengancam apartheid Israel—alih-alih kepada para pelaku sebenarnya, yang tampaknya adalah simpatisan ISIS (Daesh) yang tetap diberikan izin kepemilikan senjata meskipun berada di bawah pemantauan keamanan negara Australia selama setidaknya enam tahun.”

Ia menambahkan bahwa kaum Zionis tidak peduli terhadap keselamatan orang-orang Yahudi dan lebih tertarik mendorong kebijakan Israel.

“Anti-Semitisme adalah bahan bakar bagi Zionisme dan justifikasi utama bagi ‘negara Yahudi’ yang berlandaskan supremasi etnis. Dengan eksploitasi terang-terangan atas penembakan Bondi, mereka sekali lagi menunjukkan bahwa mereka lebih peduli memajukan agenda genosida Israel daripada melindungi orang-orang Yahudi.”

Analis politik Israel Ori Goldberg menyatakan dalam sebuah unggahan bahwa Israel menggunakan warga Yahudi Australia untuk “tujuan-tujuan tercela”.

Ia merujuk pada laporan media Israel yang pada saat bersamaan mengaitkan para penyerang Sydney dengan sel Daesh, dengan gerakan perlawanan Lebanon Hizbullah, dan dengan Iran.

“Media Israel (satu saluran!) melaporkan hal berikut: ‘penembak Sydney memiliki hubungan dengan sel ISIS [Daesh]! Serangan itu memiliki unsur yang terkait dengan Hizbullah! Iran berada di balik semuanya!’ Ini adalah kebohongan panik,” tulisnya.

Otoritas Australia meyakini bahwa para pelaku telah menyatakan baiat kepada kelompok teroris Daesh. Salah satu pelaku, Naveed Akram (24 tahun), diketahui pernah diperiksa enam tahun lalu karena kedekatannya dengan sebuah sel terorisme Daesh yang berbasis di Sydney.

Dalam unggahan di X, akademisi sejarah dari London School of Economics and Political Science (LSE), Matthew Ghobrial Cockerill, mengecam spekulasi yang mengaitkan serangan tersebut dengan nasionalisme Palestina, ideologi anti-Zionis sekuler, atau Iran, sebagai “tidak jujur” dan “bodoh”.

“Serangan ini dimotivasi oleh kelompok ekstremis Sunni heterodoks—ISIS [Daesh]—yang mengutuk semua bentuk nasionalisme (termasuk Palestina) sebagai bid’ah dan bahkan menganggap Hamas sebagai Muslim palsu yang layak dieksekusi. Kelompok ini juga mengutuk semua Syiah sebagai murtad yang layak dibunuh, sehingga klaim adanya hubungan dengan Iran menjadi tidak masuk akal,” jelasnya.

Menanggapi laporan media Australia yang menuduh Teheran terlibat dalam serangan tersebut, profesor hukum dan sejarawan hukum Nina Farnia mengatakan, “Australia tampaknya mengalihkan kesalahan atas rasisme dan anti-Semitisme ‘buatan Australia’ kepada Iran, sebuah negara yang berjarak ribuan kilometer dan justru berada di bawah tekanan keras rasisme dan imperialisme Barat.”

Sementara itu, produser media keturunan Kashmir Sarbaz Roohulla Rezvi memuji Republik Islam Iran karena mengeluarkan pernyataan yang mengecam insiden tersebut.

“Selama 12 hari agresi Israel-AS terhadap Iran yang menewaskan lebih dari 1.200 warga sipil Iran tak berdosa, tidak satu pun otoritas Australia mengeluarkan kecaman. Australia seharusnya belajar tentang kemanusiaan dari Iran,” ujarnya.

Dengan menekankan bahwa Daesh telah “dibina secara aktif” oleh dinas-dinas keamanan Barat selama puluhan tahun, aktivis politik Inggris Carlos Martinez menegaskan bahwa “tanggung jawab utama atas serangan keji ini berada pada Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.”

Australia sendiri menyaksikan kemarahan publik yang meluas atas genosida Israel terhadap rakyat Palestina selama dua tahun terakhir, dengan demonstrasi besar terjadi di berbagai kota sejak Oktober 2023.

Para demonstran menyuarakan kemarahan atas jatuhnya korban sipil, penghancuran rumah-rumah, serta kejahatan perang rezim tersebut yang terus berlangsung di Jalur Gaza.

Laporan media lokal dan unggahan media sosial menunjukkan bahwa sentimen publik semakin mencerminkan kemarahan terhadap krisis kemanusiaan di Gaza, dengan para pengunjuk rasa menuntut pemerintah Australia untuk mengecam genosida rezim Israel dan menghentikan penjualan senjata ke Tel Aviv.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *