Purna Warta – Pemerintah Haiti mengatakan akan memperpanjang status darurat dan patroli malam menanggapi kekerasan geng yang berlanjut. Kekerasan geng di Haiti sangat parah hingga mampu melumpuhkan aktivitas ibukota negara tersebut dalam pertempuran sengit menguasai kota.
Baca Juga : Usaha Ukraina Menembus Perbatasan Rusia Berujung Kegagalan
Patroli malam selama 3 hari sudah diumumkan awal minggu ini akan tetapi geng-geng terus menyerangi kantor polisi dan kantor-kantor lainnya di malam hari. Polisi nasional kewalahan mengatasi serangan geng yang tersebar di banyak titik dengan terbatasnya staf dan sumber daya lainnya.
Serangan geng dimulai seminggu lalu, tak lama setelah Perdana Menteri Ariel Henry setuju untuk menunda pemilu hingga 2025. Perdana Menteri menyetujui penundaan itu sembari menghadiri pertemuan para pemimpin negara-negara Karibia di Guyana.
Sedangkan di dalam negeri, geng-geng membakari kantor-kantor polisi, menyerang bandara internasional utama yang hingga kini masih tutup dan menyerbu 2 penjara terbesar negeri. Serbuan mereka di 2 penjara tersebut mengakibatkan lebih dari 4.000 narapidana kabur, ini tentu saja menambahkan keruhnya situasi.
Baca Juga : Ukraina Menjadi Penampungan Senjata Jadul Amerika dan Eropa
Ariel Henry sendiri, perdana menteri Haiti kini sedang berada di Puerto Rico. Ia dalam perjalanan pulang menuju Haiti terpaksa merubah arah dan mendarat di Puerto Rico karena bandara sudah dikuasai oleh geng. Belasan orang sudah meninggal dalam sejumlah serangan termasuk sejumlah aparat keamanan. Kekeran juga membuat lebih dari 15.000 orang menjadi tunawisma. Secara umum, dalam setahun terakhir sekitar 300.000 orang kehilangan rumahnya akibat kekerasan geng yang merajalela.


