Ankara, Purna Warta – Peretas Turki mengungkap dan mengejek Menteri Perang Israel, Israel Katz, setelah menipunya agar menjawab panggilan video. Serangan siber ini merupakan peningkatan terbaru yang menargetkan pejabat rezim. Peretas Turki itu mendapatkan nomor pribadi Israel Katz dan memulai panggilan video.
Baca juga: Warga Yaman Berunjuk Rasa untuk Kebebasan Gaza, Menentang Agresi Israel
Katz keliru menjawab sebelum langsung menutup telepon. Namun, para penyerang berhasil menangkap dan menyebarkan tangkapan layar wajahnya yang kebingungan dan tampak seperti sedang berperang di internet. Nomor telepon menteri tersebut kemudian terputus.
Serangan ini secara luas dianggap sebagai pembalasan atas unggahan Katz di media sosial Turki pada bulan Agustus, ketika ia mengeluarkan pesan keras terhadap Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang memicu kemarahan di Turki.
Laporan menyebutkan seorang peretas bahkan berhasil menghina Katz sebelum panggilan tersebut terputus. Ini adalah yang terbaru dari serangkaian penghinaan siber terhadap tokoh-tokoh senior rezim Zionis.
Pada bulan Agustus, ponsel pribadi mantan menteri kehakiman Ayelet Shaked dilaporkan diretas setelah ia mengeklik tautan berbahaya. Para penyerang mendapatkan akses penuh ke perangkatnya meskipun telah ada peringatan sebelumnya dari petugas keamanan. Insiden lain juga menargetkan tokoh-tokoh budaya.
Menurut Jerusalem Post, puluhan aktor Israel ditipu melalui skema phishing dengan berpura-pura mengikuti audisi film baru. Para peretas meminta video uji coba dan dokumen pribadi, termasuk salinan paspor dan alamat. Para korban kemudian menerima pesan-pesan ancaman yang terkait dengan para penyerang.
Seorang aktris mengungkapkan bahwa ia diminta untuk mengirimkan video pribadi tentang kesesuaiannya untuk sebuah proyek yang diduga terkait dengan pembuat film Ari Folman.
Baca juga: Trump Berjanji Menghukum Mereka yang Bertanggung Jawab atas Kekerasan Politik
Kampanye semacam itu semakin intensif, dengan media-media Israel mengklaim tujuannya adalah untuk mengumpulkan data pribadi yang dapat mendukung operasi lebih lanjut di wilayah pendudukan. Meningkatnya gelombang serangan siber telah menimbulkan pertanyaan serius mengenai kemampuan rezim untuk melindungi pejabat dan lembaganya.


