Media Zionis: Pemuda Barat Banyak Masuk Islam Sejak Penyerangan Gaza

Islam

London, Purna Warta – Sejak diluncurkannya operasi “Badai Al-Aqsa” pada 7 Oktober 2023 dan penyerangan Gaza, wacana publik di kalangan masyarakat Barat mengalami pergeseran besar. Salah satu perkembangan paling mencolok adalah meningkatnya kritik terhadap tindakan Israel dan kecaman yang semakin meluas terhadap rezim tersebut atas kejahatan perang yang dilakukan di Gaza.

Baca juga: Berapa Bayaran yang Diberikan Rezim Zionis untuk Menghancurkan Setiap Rumah di Gaza?

Sebuah media berbahasa Ibrani mengakui bahwa sejak penyerangan di Gaza telah menarik perhatian banyak pemuda Barat kepada Islam, bahkan mendorong sebagian besar dari mereka untuk memeluk agama tersebut.

Dalam laporannya, situs berita dan analisis Israel, Mekomit, menyatakan bahwa meskipun lebih dari satu juta warga Amerika telah masuk Islam sejak tahun 2001, tren ini meningkat secara signifikan setelah 7 Oktober dan serangan Israel ke Jalur Gaza.

Media Zionis tersebut juga mencatat bahwa fenomena ini tidak hanya terlihat di Eropa, tetapi juga terjadi di berbagai negara, mulai dari Australia hingga Prancis. Banyak anak muda menyatakan bahwa keteguhan dan ketabahan rakyat Gaza menghadapi penjajahan Israel menjadi alasan utama mereka tertarik dan akhirnya memilih masuk Islam.

Bagian lain dari laporan itu menyoroti tren utama lainnya, yakni rasa empati yang mendalam dari pemuda non-Muslim di negara-negara Barat terhadap penderitaan rakyat Gaza. Empati ini berkembang menjadi solidaritas terhadap Islam, yang mereka pandang sebagai agama yang mewakili perjuangan rakyat Palestina. Banyak dari mereka kemudian melakukan eksplorasi spiritual dan akhirnya menemukan jalan menuju Islam.

Perdana Menteri Inggris Kecam Yel-Yel Anti-Zionis
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengecam grup musik punk-rap “Bob Vylan” karena meneriakkan slogan anti-Zionis saat tampil di festival musik Glastonbury. Saat tampil pada Sabtu lalu, band tersebut dilaporkan mengajak penonton untuk meneriakkan “Death to the IDF” (artinya: “Matilah Tentara Israel”).

Dalam wawancaranya dengan The Telegraph, Starmer menyatakan,

“Tidak ada pembenaran untuk ujaran kebencian yang mengerikan seperti ini.”

Ironisnya, kecaman Starmer terhadap protes anti-Zionis ini muncul di tengah standar ganda negara-negara Barat, di mana serangan terhadap Muslim atau suara-suara pro-Palestina sering dibungkus atas nama ‘kebebasan berpendapat’. Namun, kritik sekecil apapun terhadap Israel langsung dianggap sebagai pelanggaran.

Sebelumnya, polisi Jerman—yang dikenal sangat pro-Tel Aviv—juga bertindak represif terhadap demonstran yang memprotes perang di Gaza, sebagai bagian dari dukungan mereka terhadap kebijakan Zionis.

Politisi Pro-Palestina di Sydney Luka Parah Akibat Serangan Polisi
Dalam insiden terpisah, Hannah Thomas, mantan calon anggota parlemen dari Partai Hijau Australia, mengalami penganiayaan brutal oleh polisi saat mengikuti aksi protes di Sydney yang menentang sebuah perusahaan pemasok peralatan militer ke Israel.

Baca juga: Israel Perintahkan Pembongkaran Lebih dari 100 Bangunan Palestina di Kamp Tepi Barat

Thomas mengalami cedera serius pada matanya. Ia kemudian didakwa dengan tuduhan menghalangi atau melawan petugas polisi serta tidak mematuhi perintah polisi.

Perempuan berusia 35 tahun ini harus dilarikan ke rumah sakit setelah penangkapannya karena luka yang cukup parah. Menurut pengacaranya kepada media ABC, ada kemungkinan ia kehilangan penglihatan di mata kanannya.

Aksi protes tersebut merupakan dukungan terhadap Palestina dan penolakan terhadap rezim Zionis, yang berlangsung di Belmore, sebuah kawasan di barat daya Sydney.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *