Paris, Purna Warta – Pemimpin partai sayap kanan Perancis, National Rally, Marine Le Pen, menuduh Uni Eropa (UE) sedang menyiapkan “proyek perang terencana” di front timur, yang menurutnya menandai pergeseran drastis dari janji perdamaian menuju militerisasi.
Baca Juga : Menlu Rusia Hidupkan Kembali Usulan Pindahkan Markas PBB ke Sochi
Berbicara dalam sebuah acara di wilayah Loire, Senin (9/6), Le Pen menyatakan bahwa UE kini terlalu fokus pada persiapan perang. “Uni Eropa menjanjikan perdamaian, tapi kini seluruh energinya diarahkan pada proyek perang terencana,” ujarnya di hadapan para pendukung koalisi Patriots for Europe.
Le Pen bahkan menyebut bahwa seluruh komisi tematik di Parlemen Eropa kini “secara patologis” terobsesi menyiapkan konflik di wilayah Timur. “Kami, orang Eropa, tahu betul harga dari pertumpahan darah. Kami tidak ingin perang, kami tidak ingin pemimpin yang bermain jadi tentara!” tegasnya.
Seruan Melawan Militerisasi dan Sentralisasi UE
Pernyataan Le Pen mencerminkan kekhawatiran yang tumbuh di kalangan politisi kanan Eropa terhadap arah kebijakan UE yang semakin militeristik, terutama di tengah ketegangan yang memburuk dengan Rusia. Ia selama ini konsisten menolak integrasi militer Eropa yang lebih dalam, dan lebih memilih solusi diplomatik serta kedaulatan nasional.
Baca Juga : Israel Akui Kirim Sistem Rudal Patriot ke Ukraina, Ubah Kebijakan Militer
Acara tersebut sekaligus memperingati satu tahun kemenangan elektoral koalisi sayap kanan Patriots for Europe dalam pemilu Parlemen Eropa. Pertemuan ini juga menjadi panggung konsolidasi kekuatan partai-partai kanan Eropa yang menentang sentralisasi kekuasaan UE dan kebijakan imigrasi terbuka.
Hadirkan Tokoh-Tokoh Kanan Eropa
Acara dihadiri oleh sejumlah tokoh kanan-populis Eropa, termasuk Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, Wakil PM Italia Matteo Salvini (Partai League), pemimpin Vox Spanyol Santiago Abascal, dan mantan PM Ceko Andrej Babis. Mereka menyuarakan penolakan terhadap dominasi birokrasi Brussel, dan mendorong kedaulatan nasional sebagai prioritas.
Momen ini juga menunjukkan semakin besarnya kekuatan blok sayap kanan Eropa, yang semakin percaya diri setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS pada awal 2025.
Kritik Terhadap Kepemimpinan Macron
Le Pen tak melewatkan kesempatan untuk menyindir Presiden Emmanuel Macron. Ia mempertanyakan kapasitas pemerintah Perancis untuk menangani konflik besar. “Bagaimana bisa Perancis menghadapi perang skala besar, jika pemerintah tak mampu mengendalikan kerusuhan usai laga PSG vs Inter?” sindirnya.
Baca Juga : Putin Sahkan Strategi Panjang untuk Kembalikan Kejayaan Angkatan Laut Rusia
Komentarnya itu menyiratkan bahwa ketidakstabilan dalam negeri mencerminkan kegagalan manajemen negara secara umum—dan memperlemah posisi Perancis dalam inisiatif militer apa pun yang dipimpin Uni Eropa.


