Moscow, Purna Warta – Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi menyetujui strategi pengembangan angkatan laut jangka panjang demi mengembalikan posisi Rusia sebagai kekuatan maritim global. Strategi ini bertajuk Strategi Pengembangan Angkatan Laut Rusia hingga Tahun 2050 dan disahkan pada akhir Mei lalu, menurut penasihat Kremlin, Nikolai Patrushev. Patrushev, yang dikenal sebagai sekutu dekat Putin dan mantan perwira KGB, mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara dengan Argumenti i Fakti.
Baca Juga : Sekjen NATO Desak Peningkatan 400% Pertahanan Udara Hadapi Ancaman Rusia
Menurut Patrushev, Rusia sedang perlahan mengembalikan posisinya sebagai salah satu kekuatan laut terkemuka di dunia. Ia menekankan pentingnya visi jangka panjang terhadap dinamika ancaman dan tantangan global di lautan. Ia juga menambahkan bahwa strategi ini menjadi dasar untuk menentukan arah dan prioritas modernisasi Armada Laut Rusia.
Meski tidak merinci isi dokumen, pengumuman ini muncul di tengah lonjakan tajam belanja pertahanan Rusia yang kini mendekati tingkat era Perang Dingin jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB). Kendati mengalami kerugian dalam perang Ukraina, termasuk tenggelamnya beberapa kapal besar, Rusia masih dianggap memiliki angkatan laut terkuat ketiga di dunia—di bawah China dan Amerika Serikat.
Armada dan Ambisi Maritim Rusia
Berdasarkan data militer terbuka, Rusia saat ini memiliki 79 kapal selam, termasuk 14 kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir, serta 222 kapal perang lainnya. Armada utamanya, Armada Utara, bermarkas di Severomorsk, dekat Laut Barents. Peningkatan ini menjadi bagian dari respons terhadap perlombaan kekuatan laut global, khususnya di kawasan Arktik dan Pasifik.
Sebagai catatan, Departemen Pertahanan AS memperkirakan armada laut China akan mencapai 460 kapal tempur pada tahun 2030. Dalam konteks ini, strategi baru Rusia tampak sebagai langkah penyeimbang atas dominasi Barat dan ekspansi China di laut internasional.
Latihan Gabungan Rusia, China, dan Iran
Tahun ini, Rusia, China, dan Iran kembali menggelar latihan militer gabungan di Teluk Persia dalam latihan yang dinamakan Marine Security Belt. Latihan edisi ketujuh ini berlangsung di bagian utara Samudra Hindia dan melibatkan partisipasi dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Tujuan utamanya adalah memperkuat keamanan kawasan dan meningkatkan koordinasi militer antara ketiga negara.
Baca Juga : UNICEF: Kemiskinan Anak di Inggris Ancam Perkembangan Dini
Latihan mencakup berbagai operasi laut seperti misi pencarian dan penyelamatan, manuver anti-pembajakan, serta latihan artileri. Rusia mengirimkan dua korvet dan satu kapal tanker, sementara China mengerahkan kapal perusak dan kapal suplai. Negara-negara pengamat seperti Pakistan, Afrika Selatan, Oman, dan Uni Emirat Arab turut hadir menyaksikan latihan tersebut.


