London, Purna Warta – Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyerukan peningkatan besar-besaran dalam sistem pertahanan udara dan rudal aliansi militer Barat tersebut. Ia menegaskan perlunya peningkatan hingga 400% sebagai respons terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh serangan udara Rusia dalam perang Ukraina. Pernyataan ini disampaikan Rutte dalam pidatonya di Chatham House, London, awal pekan ini.
Baca Juga : UNICEF: Kemiskinan Anak di Inggris Ancam Perkembangan Dini
Menurut Rutte, perang di Ukraina telah menunjukkan betapa rentannya langit Eropa terhadap serangan rudal dan drone. Ia menyebut perlindungan udara saat ini belum memadai dan NATO harus melakukan “lompatan kuantum” dalam strategi pertahanannya. “Kami menyaksikan bagaimana Rusia meluncurkan teror dari udara, dan karena itu kami harus perkuat perisai langit Eropa,” tegasnya.
Seruan ini muncul menjelang KTT NATO yang akan digelar di Den Haag akhir bulan ini. Dalam pertemuan tersebut, para anggota NATO akan membahas penguatan pertahanan udara serta reformasi anggaran militer. Fokus utamanya adalah kesiapan jangka panjang menghadapi ancaman Rusia, bahkan jika perang di Ukraina berakhir.
Investasi Pertahanan NATO Akan Melonjak
Rutte menyatakan bahwa transformasi pertahanan NATO harus mencakup produksi ribuan kendaraan lapis baja dan tank, jutaan peluru artileri, dan sistem pertahanan udara yang jauh lebih canggih. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kredibilitas pertahanan kolektif NATO. Ia juga menekankan bahwa ancaman dari Rusia bersifat jangka panjang dan tidak akan hilang dengan sendirinya.
Di sisi lain, Amerika Serikat mulai mendorong negara anggota NATO untuk menaikkan target belanja militer mereka. Presiden AS Donald Trump akan meminta agar alokasi anggaran pertahanan dinaikkan menjadi 5% dari PDB, jauh di atas target sebelumnya yang hanya 2%. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut bahwa sebagian besar anggota mulai mendukung usulan tersebut dan kemungkinan akan disahkan dalam KTT di Den Haag.
Baca Juga : Partai Ultra-Ortodoks Desak Bubarnya Knesset, Sebut Netanyahu “Beban”
Inggris dan Sekutu Percepat Persenjataan Ulang
Inggris menjadi salah satu negara yang paling aktif dalam memperkuat kapasitas militernya. Pemerintah Inggris baru saja mengumumkan rencana membangun 12 kapal selam bertenaga nuklir dan enam pabrik amunisi baru. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman militer dari Rusia.
Tren serupa juga terjadi di negara-negara anggota NATO lainnya yang mempercepat produksi dan pembelian senjata untuk memenuhi target pengeluaran baru. Seruan Rutte soal peningkatan 400% pertahanan udara menjadi simbol perubahan besar dalam sikap NATO—dari reaktif menjadi siap untuk konfrontasi jangka panjang.


