London, Purna Warta – Anak-anak yang tumbuh di wilayah termiskin di Inggris menghadapi hambatan serius dalam mencapai tahap perkembangan penting sebelum usia lima tahun akibat kemiskinan. Hal ini diungkapkan dalam laporan terbaru UNICEF UK yang dikaji oleh The Guardian. Organisasi ini mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan, termasuk mencabut batas tunjangan anak dua orang.
Baca Juga : Partai Ultra-Ortodoks Desak Bubarnya Knesset, Sebut Netanyahu “Beban”
UNICEF memetakan data dari berbagai otoritas lokal di Inggris dan mengaitkannya dengan kondisi kesehatan serta pendidikan anak. Indikator yang digunakan antara lain kesehatan gigi, status berat badan, serta frekuensi kunjungan ke unit gawat darurat. Hasilnya menunjukkan ketimpangan yang mencolok antara anak-anak di lingkungan miskin dan mereka yang tinggal di daerah makmur.
Anak-anak di lima wilayah paling miskin—Blackpool, Knowsley, Liverpool, Hull, dan Middlesbrough—menempati posisi terbawah dalam lima dari enam indikator kesejahteraan anak. Mereka tertinggal dalam hal perkembangan mental dan fisik, lebih rentan terhadap masalah kesehatan, serta sulit mengakses layanan medis. Angka ini memperlihatkan krisis perkembangan dini yang semakin parah di Inggris.
Kesenjangan Kesehatan Anak Meningkat Drastis
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa anak-anak usia sekolah di daerah termiskin dua kali lebih mungkin mengalami obesitas dibandingkan anak-anak di wilayah kaya. Sekitar 29% dari mereka mengalami kerusakan gigi yang tidak tertangani, dibandingkan hanya 15% di daerah yang lebih sejahtera. Selain itu, kunjungan ke UGD oleh anak-anak di wilayah miskin 55% lebih sering terjadi.
UNICEF memperingatkan bahwa situasi ini mencerminkan ketidaksetaraan kesehatan yang semakin memburuk, yang berakar dari meningkatnya angka kemiskinan anak. Jika tidak ada langkah nyata sekarang, generasi mendatang akan dibebani penyakit yang seharusnya bisa dicegah sejak dini.
Baca Juga : Situs Kuno Suriah Dijarah, Artefak Dijual Bebas di Internet
Seruan Mendesak untuk Reformasi Kebijakan
UNICEF UK mendesak pencabutan batas tunjangan anak dan peningkatan investasi di sektor kesehatan dan pendidikan anak usia dini. CEO UNICEF UK, Philip Goodwin, menekankan bahwa tanpa kebijakan yang berani dan cepat, ratusan ribu anak akan terus menjadi korban kelalaian sistemik. Ia menilai ketimpangan ini tidak dapat dibiarkan terus berlanjut.
Pernyataan ini didukung oleh Sarah Woolnough dari The King’s Fund, yang menyebut laporan tersebut sebagai peringatan keras terhadap dampak kemiskinan terhadap kesehatan anak. “Masalah kesehatan seumur hidup dimulai sejak masa kanak-kanak,” ujarnya. Pemerintah, katanya, harus menjadikan pengentasan kemiskinan sebagai prioritas utama bila ingin menciptakan generasi anak paling sehat sepanjang sejarah.
Respons Pemerintah Dianggap Belum Cukup
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah menegaskan komitmennya untuk menurunkan angka kemiskinan anak. Ia menyatakan tekad untuk membawa perubahan dalam strategi nasional yang akan datang. Namun, tanggapan dari juru bicara pemerintah dinilai masih belum menjawab akar persoalan.
Baca Juga : Sempat Ditembak, Calon Presiden Kolombia Selamat setelah Jalani Operasi
Pemerintah memang mengklaim telah membentuk satuan tugas khusus dan menjalankan berbagai program seperti sarapan gratis dan peningkatan dana sekolah. Tapi banyak ahli menilai kebijakan itu belum sebanding dengan skala masalah yang ada. Kesenjangan dalam perkembangan anak usia dini tetap melebar, meski program-program bantuan telah berjalan.


