London, Purna Warta – Kedutaan Besar Iran di London mengecam Amerika Serikat karena memiliki sejarah panjang dalam melakukan serangan mematikan terhadap upacara pernikahan di Afghanistan, Irak, dan Yaman, seraya menyoroti insiden terbaru di Provinsi Hormozgan, Iran.
Dalam sebuah unggahan di X pada Kamis, kedutaan tersebut merujuk pada serangan AS terhadap sebuah upacara pernikahan di kota pelabuhan Kuhestak, Kabupaten Sirik, dan menyebutnya sebagai bagian dari pola serangan mematikan yang telah berlangsung lama oleh pasukan AS dan sekutu yang didukung Washington terhadap acara pernikahan warga sipil.
“Jika Anda ingin mengubah sebuah pernikahan menjadi pemakaman, serahkan saja kepada militer teroris AS. Mereka memiliki rekam jejak panjang dalam melakukan hal tersebut,” tulis kedutaan tersebut.
Misi diplomatik Iran itu kemudian mencantumkan sejumlah insiden yang, menurutnya, menunjukkan pola tersebut.
Kedutaan mengatakan bahwa pada 1 Juli 2002, lebih dari 100 orang tewas dalam pemboman sebuah pesta pernikahan di Desa Kakarak, Provinsi Uruzgan, Afghanistan.
Kedutaan tersebut mengatakan bahwa pada September 2003, sebuah pesta pernikahan di Fallujah, Irak, dibom, menyebabkan lebih dari lima orang tewas atau terluka. Pada Mei 2004, tambahnya, sebuah serangan bom yang menargetkan pesta pernikahan di Desa Bakar al-Dhib, Provinsi Anbar, Irak, menewaskan 42 orang.
Pada Oktober 2004, sebuah pesta pernikahan lainnya di Fallujah dibom dan menewaskan 13 orang, termasuk mempelai pria, menurut kedutaan.
Pernyataan tersebut juga merujuk pada serangan 6 Juli 2008 terhadap sebuah pesta pernikahan di Deh Bala, Provinsi Nangarhar, Afghanistan, yang menurutnya menewaskan 47 orang, termasuk mempelai perempuan.
Kedutaan juga menyebut serangan terhadap sebuah pesta pernikahan pada November 2008 di Wagh Baghtu, Provinsi Kandahar, Afghanistan, yang menewaskan 37 orang, termasuk 23 anak-anak.
Menurut kedutaan, 18 orang, termasuk sembilan anak-anak, juga tewas pada Juni 2012 dalam serangan terhadap sebuah pesta pernikahan di Provinsi Logar, Afghanistan.
Kedutaan Besar Iran juga menyinggung pemboman sebuah pesta pernikahan pada 28 September 2015 di Wahijah, Taiz, Yaman. Kedutaan menyatakan bahwa 131 perempuan dan anak-anak tewas dalam serangan yang dilakukan oleh koalisi yang didukung AS.
Kedutaan tersebut menyebut serangan 1 September 2026 terhadap sebuah pesta pernikahan di Kuhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, sebagai contoh terbaru dalam rangkaian serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa puluhan orang tewas atau terluka.
“Hentikan kejahatan perang, adili para penjahat perang,” tegas kedutaan.
Militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah wilayah di Provinsi Hormozgan sekitar pukul 20.00 waktu setempat pada Selasa, dengan sebuah bangunan tempat tinggal di pelabuhan Kuhestak—tempat sebuah upacara pernikahan sedang berlangsung—termasuk di antara lokasi yang terkena serangan.
Serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai 68 lainnya, dengan seorang anak berusia empat tahun termasuk di antara korban tewas.
Iran secara resmi memprotes serangan tersebut melalui surat yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden Dewan Keamanan PBB, dengan menyebutnya sebagai kejahatan perang serta menyerukan agar Washington dikecam dan dimintai pertanggungjawaban.
Iran juga menegaskan bahwa serangan terhadap Kuhestak bukanlah insiden yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola serangan AS yang lebih luas terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil sejak dimulainya agresi militer pada 1 Maret.


