Oslo, Purna Warta – Perusahaan dana pensiun terbesar di Norwegia, KLP, mengumumkan bahwa pihaknya telah memutuskan investasi (divestasi) dari dua perusahaan yang menjual senjata kepada rezim Israel, yang digunakan dalam perang di Gaza.
Dalam pernyataannya pada hari Senin, KLP menyatakan bahwa mereka tidak lagi menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan asal Amerika Serikat, Oshkosh Corporation, dan perusahaan asal Jerman, ThyssenKrupp, karena penjualan produk mereka kepada pihak-pihak yang menggunakan alat tersebut dalam “pelanggaran hukum internasional secara sistematis.”
Oshkosh Corporation dikenal memproduksi kendaraan militer dan truk, sementara ThyssenKrupp memproduksi berbagai macam produk, mulai dari lift, mesin industri, hingga kapal perang.
“Pada Juni 2024, KLP menerima laporan dari PBB yang menyebutkan sejumlah perusahaan terlibat dalam penyediaan senjata atau peralatan kepada [Israel], dan senjata-senjata itu digunakan di Gaza,” ujar Kiran Aziz, Kepala Investasi Bertanggung Jawab KLP.
Perusahaan dana pensiun Norwegia itu menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan kedua perusahaan sebelum mengambil keputusan ini. Dalam percakapan tersebut, Oshkosh mengonfirmasi bahwa mereka telah, dan masih, menjual peralatan yang digunakan oleh [Israel] di Gaza.
Selain itu, KLP juga menyebut bahwa ThyssenKrupp mengonfirmasi bahwa mereka memiliki “hubungan jangka panjang dengan [Israel]”, termasuk pengiriman empat kapal perang tipe Sa’ar 6 untuk Angkatan Laut Israel antara November 2020 hingga Mei 2021. Perusahaan Jerman itu juga mengungkapkan rencana untuk mengirimkan sebuah kapal selam kepada Angkatan Laut Israel pada akhir tahun ini.
KLP menyampaikan bahwa ketika mereka menanyakan kepada kedua perusahaan tersebut soal mekanisme pengawasan dan penilaian risiko terkait penggunaan peralatan mereka, “keduanya gagal mendokumentasikan uji tuntas (due diligence) yang diperlukan terkait potensi keterlibatan mereka dalam pelanggaran hukum kemanusiaan internasional.”
Ini bukan pertama kalinya KLP melakukan divestasi dari perusahaan yang terlibat dalam dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Pada tahun 2021, KLP juga menarik investasinya dari 16 perusahaan, termasuk raksasa telekomunikasi Motorola, karena keterkaitan mereka dengan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Sementara itu, Dana Kekayaan Negara Norwegia, yang memiliki aset senilai sekitar 1,9 triliun dolar AS, juga tengah berada di bawah tekanan publik untuk melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan yang dituduh membantu Israel dalam perang di Gaza serta mendukung kebijakan perluasan permukiman di Tepi Barat.


