Lee Jae-myung Resmi Dilantik Sebagai Presiden Korea Selatan, Janjikan Dialog dengan Korea Utara

Lee Jae-myung Resmi Dilantik Sebagai Presiden Korea Selatan, Janjikan Dialog dengan Korea Utara

Seoul, Purna Warta Presiden baru Korea Selatan, Lee Jae-myung, resmi dilantik pada Rabu (waktu setempat) setelah meraih kemenangan dalam pemilu kilat yang digelar menyusul lengsernya Presiden sebelumnya, Yoon Suk Yeol. Dalam pidato pertamanya, Lee menekankan pentingnya perdamaian melalui dialog dengan Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK/Korea Utara) dan memperingatkan bahaya ekonomi yang ditimbulkan oleh meningkatnya proteksionisme global.

Lee, seorang politisi tengah-kiri, meraih 49,4% suara, mengalahkan kandidat konservatif Kim Moon-soo yang memperoleh 41,2%. Kemenangan ini secara otomatis menjadikannya pemimpin tertinggi angkatan bersenjata Korea Selatan, di tengah ketegangan yang masih berlangsung dengan Korea Utara.

Baca Juga : Amerika Latin Tingkatkan Pemutusan Hubungan Diplomatik dengan ‘Israel’ atas Perang Gaza

Fokus pada Dialog dan Penyembuhan Luka Perang
Usai pengesahan resmi hasil pemilu, Lee langsung memegang kendali militer dan melakukan panggilan dengan komandan tertinggi, menginstruksikan pasukan untuk tetap siaga menghadapi kemungkinan provokasi dari Korea Utara. Namun, ia menegaskan komitmennya terhadap pendekatan damai.

“Kita akan menyembuhkan luka-luka akibat perpecahan dan perang, serta membangun masa depan yang damai dan sejahtera,” ujar Lee dalam pidato pelantikannya di Majelis Nasional. “Seburuk apapun, perdamaian tetap lebih baik daripada perang.”

Perubahan Arah Kebijakan Terhadap Korea Utara
Pernyataan Lee menandai perubahan arah dibandingkan kebijakan keras pendahulunya, Yoon Suk Yeol, yang lebih menitikberatkan pada kekuatan militer dan syarat-syarat ketat untuk berdialog. Lee berjanji akan “mencegah provokasi nuklir dan militer dari Korea Utara, sambil membuka saluran komunikasi dan mengejar dialog serta kerja sama demi perdamaian di Semenanjung Korea.”

Analis dari Korea Institute for National Unification, Hong Min, menyebut bahwa pendekatan Lee “tanpa prasyarat” menunjukkan tekadnya untuk menyelesaikan perbedaan melalui diplomasi.

Baca Juga : Rusia Akan Luncurkan 100+ Satelit untuk Kendali Drone

Ancaman Ekonomi Global Jadi Fokus Pemerintahan
Selain isu Korea Utara, Lee juga menyoroti ancaman ekonomi global terhadap Korea Selatan. Hanya beberapa jam setelah ia dilantik, Amerika Serikat mengumumkan tarif 50% terhadap ekspor baja dan aluminium Korea Selatan, memukul sektor industri utama negara tersebut.

“Perubahan cepat dalam tatanan global, seperti meningkatnya proteksionisme dan restrukturisasi rantai pasokan, mengancam keberlangsungan kita,” kata Lee, menandakan bahwa pemerintahannya akan memprioritaskan keamanan ekonomi dan daya saing nasional dalam iklim perdagangan yang makin tidak stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *