Montevideo, Purna Warta – Uruguay menutup kantornya di Quds yang diduduki sebagai bentuk solidaritas dengan Gaza. Tindakan Uruguay ini menyusul keputusan Israel untuk merebut kendali penuh atas Gaza, sebuah kampanye yang menurut beberapa laporan akan menargetkan penduduk sipil.
Baca juga: Mogok Massal di Israel Seiring Meningkatnya Seruan Gencatan Senjata di Gaza
Pemerintah Uruguay telah memutuskan untuk menangguhkan perjanjian kerja sama yang ditandatangani pada Desember 2024 antara Badan Riset dan Inovasi Nasional Uruguay dan sebuah universitas Israel di Quds yang diduduki (Yerusalem) dan menutup Kantor Inovasinya di Yerusalem sebagai bentuk solidaritas dengan warga Gaza.
Menurut kantor berita Palestina, Ma’an, Menteri Luar Negeri Uruguay, Mario Lubetkin, mengutip perkembangan terkini di Timur Tengah dan tindakan tentara Israel di Gaza sebagai alasan keputusan tersebut.
Kabinet Uruguay mengecam pendudukan Israel atas Kota Gaza sebagai pelanggaran hukum internasional.
Menanggapi hal tersebut, Kedutaan Besar Israel di Montevideo menyatakan penyesalannya, mengaitkan penangguhan tersebut dengan perbedaan pendapat politik.
Baca juga: Jihad Islam Tanggapi Keputusan Israel Mengusir Penduduk Gaza Selatan
Tindakan Uruguay ini menyusul keputusan Israel untuk merebut kendali penuh atas Gaza, sebuah kampanye yang menurut beberapa laporan menargetkan penduduk sipil.
Selasa lalu, sekitar 24 negara Barat menyerukan akses kemanusiaan tanpa batas ke Gaza, dan beberapa negara, termasuk Inggris, Spanyol, Australia, Prancis, Kanada, Luksemburg, Portugal, dan Irlandia, mengumumkan rencana untuk mengakui Palestina pada Sidang Umum PBB mendatang di New York.


