Buenos Aries, Purna Warta – Peraih Nobel Perdamaian asal Argentina, Adolfo Pérez Esquivel, telah mengajukan petisi ke pengadilan federal agar menegakkan putusan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan menahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, atas tuduhan genosida dan kejahatan perang apabila ia berkunjung ke negara Amerika Selatan tersebut.
Baca juga: Pejabat Israel Kecam Netanyahu karena Minta Maaf kepada Qatar atas Serangan Tanpa Provokasi
“Jika ia datang ke sini, atas undangan Presiden [Javier] Milei, secara logis, ia (Netanyahu) akan menghadapi perlawanan. Dan kami berharap ia tidak datang ke negara ini,” kata Pérez pada Senin.
Argentina, yang mengakui yurisdiksi ICC, secara hukum berkewajiban melaksanakan putusannya, tegasnya.
Pérez menuduh Israel dengan sengaja menargetkan warga sipil di Gaza, menegaskan bahwa serangan rezim Tel Aviv telah menyebabkan kematian sekitar 20.000 anak.
Ia juga mengecam pemerintahan Milei yang sebelumnya menyatakan tidak akan melaksanakan surat perintah penangkapan jika Netanyahu berkunjung. Presiden Milei diketahui semakin mempererat hubungan dengan Israel.
“Posisi pengadilan itu jelas,” ujarnya, menyebut sikap pemerintah sebagai “tanda negatif bagi demokrasi” dan bukti keterikatan Argentina yang semakin erat dengan Israel dan Amerika Serikat.
Pérez, 93 tahun, dianggap sebagai salah satu tokoh pejuang hak asasi manusia paling disegani di Amerika Latin. Ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 1980 atas perlawanan damainya terhadap kediktatoran militer di Argentina, setelah sebelumnya dipenjara dan disiksa karena aktivismenya, sebelum kemudian menjadi pembela keadilan sepanjang hayat.
Petisi tersebut diajukan ketika Milei, seorang pendukung setia Netanyahu, terus memperkuat hubungan dengan Israel. Pekan lalu, ia bahkan menerima penghargaan B’nai B’rith atas apa yang disebut organisasi tersebut sebagai komitmen tak tergoyahkan terhadap Israel.
Netanyahu semula dijadwalkan mengunjungi Argentina usai lawatannya ke AS pekan ini, namun kabarnya membatalkan rencana tersebut. Pejabat Israel menyebut kunjungan itu dibatalkan “karena alasan teknis.”
Dalam kesempatan lain, Pérez juga menyinggung sikap Washington.
Baca juga: Trump Tawarkan Rencana Akhiri Perang di Gaza; Hamas Sebut Rencana Dekat dengan Visi Israel
“AS mendukung Israel, bahkan dengan hak vetonya di PBB,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Washington merupakan penghalang terbesar bagi tercapainya resolusi damai atas konflik tersebut.
Ia menuding Israel telah lama berupaya menghalangi pendirian negara Palestina, dengan dukungan sekutu-sekutu berpengaruhnya.
Pérez juga mengkritik PBB, menyatakan lembaga itu telah dilemahkan oleh tekanan Amerika Serikat.
“PBB harus direformasi dan didemokratisasi. Kami, bangsa-bangsa di dunia, menginginkan perdamaian. Namun yang kita saksikan saat ini sangat berbahaya,” katanya, menyoroti kegagalan PBB menghentikan baik kampanye militer berdarah Israel di Gaza maupun perang di Ukraina.
Pérez menekankan bahwa sebagian besar komunitas Yahudi berbahasa Spanyol di Argentina—yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia dengan jumlah sekitar 250.000 orang—sangat kritis terhadap tindakan rezim Tel Aviv di Gaza.
Sebagai contoh, ia menyebut aktor Yahudi-Argentina Norman Briski, yang mengecam kekejaman militer Israel di Gaza dan kemudian menghadapi serangan anti-Semit.
Ia juga menyinggung kolaborasinya dengan aktivis Yahudi dan pro-Palestina di Argentina, termasuk kampanye Not in Our Name di Buenos Aires yang bertujuan mencari solusi damai.
Selain itu, Pérez memuji tujuan dari Global Sumud Flotilla yang berupaya menembus blokade Israel di Gaza dan memberikan bantuan.
Mengenai prospek gencatan senjata di Gaza, ia menegaskan: “Israel harus menghentikan genosida ini, yang terus dilakukan setiap hari dengan membombardir rumah sakit, sekolah, dan menghancurkan kehidupan sebuah bangsa. Itu sungguh sangat, sangat buruk, dan umat manusia harus membantu.”
Pérez juga menuduh negara-negara Barat bersikap hipokrit.
“Di satu sisi, negara-negara Eropa berbicara tentang menginginkan perdamaian, tetapi mereka terus membantu Israel. PBB bungkam. AS terus menekan untuk melenyapkan bangsa Palestina,” pungkasnya.


