Havana, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, mengecam sanksi baru yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran, menyebutnya sebagai “tindakan sewenang-wenang dan ilegal” yang melemahkan hukum internasional dan menghambat negosiasi antara Teheran dan Washington.
Baca Juga : Marine Le Pen Tuding UE Siapkan “Proyek Perang Terencana” di Timur Eropa
Pada hari Sabtu, Departemen Keuangan AS memasukkan 10 individu dan 27 institusi yang terkait dengan Iran ke dalam daftar sanksi barunya.
Perlu dicatat bahwa sembilan dari individu yang dijatuhi sanksi adalah warga negara Iran, sementara satu lainnya adalah warga negara Tiongkok. Perusahaan-perusahaan yang dikenai sanksi berlokasi di UEA, Iran, dan Tiongkok.
Kecaman atas Penangkapan Kapal Madleen oleh Israel
Menanggapi penyergapan kapal Madleen oleh pasukan pendudukan Israel, Rodriguez mengutuk tindakan tersebut dan menganggap penahanan kapal serta awaknya sebagai upaya untuk menghalangi bantuan kemanusiaan yang bertujuan untuk mematahkan blokade terhadap Jalur Gaza.
Ia menegaskan bahwa “blokade Israel terhadap Jalur Gaza adalah ilegal,” dan menyerukan agar segera diakhiri. Ia menambahkan, “Cukup sudah genosida terhadap rakyat Palestina.”
Baca Juga : Menlu Rusia Hidupkan Kembali Usulan Pindahkan Markas PBB ke Sochi
Freedom Flotilla Berusaha Menembus Blokade Gaza
Kapal Madleen yang berbendera Inggris membawa muatan bantuan kemanusiaan simbolis, termasuk beras dan susu formula bayi untuk Gaza. Misi ini diselenggarakan oleh koalisi pro-Palestina Freedom Flotilla Coalition (FFC) dan bertujuan untuk menarik perhatian pada krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di wilayah yang terkepung tersebut.
Namun, kapal tersebut tidak pernah mencapai tujuannya. Menurut saluran Telegram FFC, kapal dicegat pada dini hari Senin sebelum berhasil menembus blokade laut Israel.
Rincian Penyerangan
Kementerian Luar Negeri Israel mengkritik misi tersebut dan menuduh para aktivis, termasuk Greta Thunberg, hanya mencari perhatian media.
Kementerian tersebut mempublikasikan video yang menunjukkan para aktivis yang ditahan sedang dikawal, disertai unggahan di X yang bertuliskan, “Pertunjukan telah usai.”
FFC melaporkan bahwa pasukan Israel menggunakan drone (quadcopters) untuk mengepung kapal dan menyemprotkan cairan putih yang belum diketahui jenisnya. Hingga kini, zat tersebut belum dapat diidentifikasi secara pasti.
Baca Juga : Israel Akui Kirim Sistem Rudal Patriot ke Ukraina, Ubah Kebijakan Militer
Kapal Madleen akhirnya ditarik oleh Angkatan Laut Israel ke pelabuhan Ashdod. Pihak berwenang Israel mengonfirmasi bahwa 12 aktivis pro-Palestina di kapal tersebut telah ditahan dan akan dideportasi kembali ke negara asal masing-masing.


