Bagaiman Nasib Dolar?

Dolar

Washington, Purna Warta – Juru bicara Gedung Putih pada hari Senin mengatakan bahwa menurut pandangan Presiden AS, langkah-langkah yang diambil oleh kelompok BRICS tidak dapat diterima karena dianggap “bertentangan dengan kepentingan negara ini.”
Trump sebelumnya menyatakan bahwa negara mana pun yang mendukung kebijakan anti-Amerika dari BRICS akan dikenakan tarif tambahan sebesar 10%, tanpa pengecualian terhadap kebijakan tersebut.

Baca juga: “Boom Boom Tel Aviv”: Lagu yang Terus Membuat Zionis Murka

Pernyataan Trump ini telah memicu reaksi dari sejumlah pejabat BRICS, termasuk Presiden Brasil.
Lula da Silva menanggapi ancaman tarif tambahan terhadap negara-negara anggota BRICS dengan mengatakan, “Menurut saya, ini bukan tindakan yang serius dan bertanggung jawab jika seorang presiden dari negara besar seperti AS mengancam dunia melalui internet.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga menyatakan bahwa perang tarif dan dagang tidak akan membawa kemenangan dan bahwa usulan seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa.

Donald Trump mengancam negara-negara anggota BRICS sementara AS sendiri selama bertahun-tahun telah menggunakan dolar sebagai senjata finansial dan perdagangan.
Status dolar sebagai cadangan devisa global telah memungkinkan AS menjatuhkan sanksi, mengeluarkan negara dari sistem SWIFT, dan menyita aset-aset untuk mencapai tujuan politik dan geopolitiknya di seluruh dunia.

Oleh karena itu, banyak negara mulai mempertimbangkan alternatif dan menggunakan mata uang lokal mereka dalam upaya untuk mendesak de-dolarisasi sistem pembayaran mereka.
Selain itu, utang besar AS terhadap lembaga-lembaga keuangan global telah menyebabkan negara-negara kehilangan kepercayaan terhadap dolar.

Dalam konteks ini, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan bahwa kepercayaan terhadap dolar telah melemah. Utang AS kini mencapai angka fantastis sebesar 37 triliun dolar.

Baca juga: Qassam: Keputusan Paling Bodoh Netanyahu Adalah Mempertahankan Pasukannya di Gaza

Lebih jauh lagi, para pakar menilai bahwa pengumuman mendadak mengenai tarif besar oleh Trump dan kebijakan perdagangan yang tidak stabil telah mendorong para investor untuk menarik dana mereka dari aset-aset di AS, yang pada akhirnya menyebabkan pelemahan nilai dolar.

Dengan demikian, tampaknya kepentingan AS justru lebih banyak dirugikan akibat kebijakan yang diterapkan oleh para pejabatnya sendiri. Namun, Trump tetap bersikukuh untuk memberlakukan tekanan sepihak terhadap negara lain demi memaksimalkan kepentingan AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *