AS Setujui Penjualan Senjata Senilai $5 Miliar kepada Arab Saudi, saat Perbarui Agresi terhadap Iran

jual

Washington, Purna Warta – Washington telah menyetujui paket penjualan senjata potensial senilai $5 miliar kepada Arab Saudi yang akan memperluas secara signifikan kemampuan serangan presisi kerajaan tersebut, ketika Amerika Serikat meningkatkan perang agresinya terhadap Iran.

Kesepakatan tersebut mencakup lebih dari 10.000 perangkat pemandu yang dirancang untuk mengubah bom konvensional menjadi senjata presisi yang dapat diarahkan dan memiliki jangkauan lebih jauh.

Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan tersebut pada Jumat. Paket itu juga mencakup lebih dari 10.000 bom serbaguna yang diminta Riyadh, baik varian seberat 500 pon (230 kilogram) maupun 2.000 pon (900 kilogram).

Sistem pemandu tersebut akan mengubah “bom bodoh” atau dumb bombs yang tidak memiliki sistem pemandu menjadi amunisi akurat yang mampu menghantam sasaran pada jarak yang lebih jauh dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.

Washington mengklaim bahwa transfer senjata tersebut melayani kepentingan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan memperkuat Arab Saudi, yang disebutnya sebagai sekutu utama non-NATO serta kontributor penting bagi stabilitas politik dan pembangunan ekonomi di Teluk Persia.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa senjata-senjata tersebut akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk melancarkan serangan udara terhadap ancaman regional saat ini maupun yang berpotensi muncul, memperkuat kemampuan pertahanan kerajaan, serta meningkatkan kompatibilitas antara sistem persenjataan Saudi dan sistem yang digunakan oleh pasukan AS serta mitra-mitra lainnya di Teluk Persia.

Boeing, kontraktor pertahanan AS yang berbasis di Virginia, telah ditunjuk sebagai kontraktor utama dalam potensi penjualan tersebut.

Persetujuan ini diberikan ketika Washington memperluas transfer senjata dan kerja sama militer di seluruh kawasan Teluk Persia, sekaligus memperbarui perang ilegalnya terhadap Iran.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan babak baru agresi terhadap Iran, delapan bulan setelah melakukan serangan-serangan tanpa provokasi terhadap negara tersebut. Iran segera membalas dengan rentetan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap wilayah-wilayah yang diduduki Israel, serta pangkalan dan kepentingan AS di seluruh kawasan.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 7 April. Pada 18 Juni, presiden Iran dan Amerika Serikat menandatangani sebuah memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri perang dan memulai proses diplomatik selama 60 hari guna menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang masih ada.

Serangan AS yang kembali dilancarkan sekali lagi memicu serangan balasan Iran.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *