Doktrin Baru Iran di Selat Hormuz Menempatkan Posisi AS Dalam Dilema Strategis

Hormuz

Tehran, Purna Warta – Selat Hormuz telah lama menjadi jalur maritim paling strategis di dunia, sebagai koridor sempit yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global setiap hari.

Selama beberapa dekade, wacana mengenai penutupan Selat Hormuz lebih dipandang sebagai alat penangkal (deterrence), yakni kartu strategis yang dimiliki Teheran untuk mencegah aksi militer terhadapnya tanpa benar-benar berniat menggunakannya. Namun, menurut laporan ini, perhitungan tersebut berubah setelah perang yang disebut sebagai agresi militer terhadap Iran.

Laporan menyatakan bahwa setelah tercapainya gencatan senjata dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU), Iran membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat tertentu, sementara Amerika Serikat disebut berkomitmen menghentikan berbagai tindakan militernya di kawasan Teluk Persia.

Menurut laporan tersebut, penghentian ancaman dan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran maupun Lebanon merupakan salah satu prasyarat untuk mencapai kesepakatan jangka panjang. Namun, laporan menuduh Washington tetap melakukan berbagai pelanggaran terhadap kesepahaman tersebut.

Disebutkan bahwa pelanggaran terbaru terjadi ketika militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap wilayah selatan Iran yang menargetkan fasilitas sipil dan pertahanan, yang kemudian dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui serangan terhadap sejumlah sasaran militer Amerika Serikat di beberapa negara Arab.

Selat Hormuz menjadi bagian dari doktrin pembalasan

Laporan menyebutkan bahwa Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar kartu tawar dalam diplomasi, melainkan telah menjadi bagian dari mekanisme pembalasan otomatis Iran terhadap setiap serangan di masa mendatang.

Serangan terbaru Amerika Serikat terhadap fasilitas di Provinsi Hormozgan dan Mahshahr disebut sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati sebelumnya.

Sumber yang dikutip Press TV menyatakan bahwa Iran kini meninggalkan pola respons terbatas yang selama ini diterapkan. Menurut laporan tersebut, setiap serangan baru terhadap wilayah Iran akan direspons dengan dua langkah utama, yaitu:

Penutupan penuh Selat Hormuz bagi seluruh lalu lintas pelayaran.
Serangan balasan terhadap sedikitnya dua sasaran musuh untuk setiap satu sasaran Iran yang diserang.

Laporan menyebut perubahan ini sebagai transformasi besar dalam doktrin pertahanan Iran yang bertujuan meningkatkan efek pencegahan terhadap setiap aksi militer di masa depan.

Iran menegaskan kendali atas Selat Hormuz

Markas Pusat Khatam al-Anbiya, yang dikutip dalam laporan, menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kedaulatan Iran dan bukan wilayah operasi bebas bagi Amerika Serikat.

Menurut sumber Press TV, nota kesepahaman juga memberikan kewenangan kepada Iran untuk mengatur pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut sesuai mekanisme yang ditetapkan Teheran.

Laporan menambahkan bahwa Iran mengharuskan kapal tanker minyak dan kapal dagang mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh otoritas Iran, serta memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan tersebut akan mendapat respons dari angkatan bersenjata Iran.

Ancaman Trump dan respons Iran

Laporan menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam kemungkinan melakukan serangan militer baru terhadap Iran serta mempertimbangkan langkah-langkah lain, termasuk operasi terhadap Pulau Kharg.

Sumber yang dikutip Press TV menyatakan Iran menolak ancaman tersebut dan menegaskan bahwa tekanan semacam itu hanya akan menghambat proses perundingan serta meningkatkan risiko terhadap keamanan Selat Hormuz.

Perhitungan strategis Iran

Menurut laporan tersebut, keyakinan Iran didasarkan pada sejumlah faktor, termasuk posisi geografis Selat Hormuz serta kemampuan perang asimetris yang dimilikinya.

Laporan menjelaskan bahwa Iran mengandalkan kapal cepat, ranjau laut, rudal anti-kapal, dan taktik kawanan (swarm tactics) untuk membatasi ruang gerak armada Amerika Serikat di perairan sempit Selat Hormuz.

Selain itu, laporan menilai bahwa Amerika Serikat menghadapi berbagai tantangan domestik maupun internasional yang membatasi ruang geraknya dalam melakukan konfrontasi militer berkepanjangan.

Dampak ekonomi global

Press TV menilai bahwa penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar terhadap pasar energi dunia karena sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati jalur tersebut.

Menurut laporan, kondisi tersebut akan memengaruhi negara-negara yang bergantung pada ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia sekaligus meningkatkan tekanan internasional agar jalur pelayaran tetap terbuka.

Laporan menyimpulkan bahwa Amerika Serikat kini menghadapi dua pilihan: menerima realitas strategis baru dan menyesuaikan kebijakannya, atau meningkatkan eskalasi yang berpotensi memicu penutupan Selat Hormuz beserta konsekuensi ekonomi dan keamanan yang luas.

 

Oleh : Meja analisa Pemberitaan Iran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *