Tehran, Purna Warta – Pada pagi hari tanggal 28 Februari, langit di atas Minab—sebuah kota biasa di Provinsi Hormozgan, Iran selatan—tampak cerah. Siswa-siswi Sekolah Shajareh Tayyebeh memasuki halaman sekolah satu per satu; anak-anak perempuan mengenakan kerudung putih dan anak-anak laki-laki membawa tas sekolah warna-warni.
Saat itu sekitar pukul 10.45 pagi waktu setempat, hanya beberapa menit sebelum bel istirahat berbunyi. Lalu, secara tiba-tiba, langit biru yang tenang bergemuruh hebat. Tiga ledakan beruntun menghantam bangunan sekolah. Rudal demi rudal meninggalkan jejak kematian dan kehancuran.
Serangan “tiga ketukan” (triple-tap strike) menerjang sekolah dasar tersebut. Atap sekolah, yang dihiasi gambar bunga merah muda dan dedaunan hijau, roboh menimpa anak-anak di bawahnya.
Serangan beruntun tiga kali ini—dalam terminologi militer dikenal sebagai serangan “triple-tap”—menghancurkan sekolah secara total. Tiga rudal menghantam lokasi yang sama dalam jeda waktu yang sangat singkat, tepat di tempat anak-anak berlindung di bawah perlindungan guru-guru mereka.
Tak ada lagi yang pernah mendengar bunyi bel istirahat. Yang tersisa hanyalah kesenyapan bagai di pemakaman.
Analisis citra satelit dan pemeriksaan terhadap puing-puing rudal oleh berbagai media menyimpulkan bahwa amunisi yang digunakan dalam serangan tersebut adalah rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat—senjata yang diproduksi dan dimiliki oleh Amerika Serikat.
CNN, yang biasanya dikenal dengan pemberitaannya yang menyudutkan Iran, menganalisis rekaman video pada saat dampak ledakan dan mengonfirmasi bahwa rudal yang digunakan memang rudal jelajah Tomahawk milik Amerika.
Namun, yang jauh lebih mengerikan daripada senjata itu sendiri adalah taktik yang digunakan. Sekolah tersebut tidak hanya dihantam satu kali, melainkan ditargetkan tiga kali berturut-turut dalam waktu singkat.
Pola “triple-tap” ini secara khusus dirancang untuk memastikan semua orang di dalam bangunan target tewas. Taktik ini umumnya digunakan untuk menghancurkan target militer, bukan metode yang secara masuk akal bisa terjadi akibat ketidaksengajaan pada sebuah sekolah dasar.
Sejak jam-jam pertama setelah serangan keji tersebut, AS dan rezim Israel menolak bertanggung jawab atas kejahatan perang yang mengerikan ini. Presiden AS Donald Trump menyalahkan Iran, mengklaim bahwa rudal-rudal Iran “kurang presisi.” Padahal, kebenaran terlalu gamblang untuk disembunyikan.
Sebagaimana dibuktikan oleh fakta-fakta yang ada, serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika. Pakar militer independen yang menganalisis rekaman video mengidentifikasi rudal tersebut pada fase akhir penerbangannya sebagai Tomahawk Amerika.
Seorang analis senior di McKenzie Intelligence Services menyatakan bahwa rudal tersebut menunjukkan “semua ciri khas Tomahawk AS pada fase akhir penerbangannya.” Wes Bryant, seorang analis keamanan nasional yang pernah bertugas di Angkatan Udara AS, JUGA mengonfirmasi bahwa itu adalah rudal Tomahawk dan mengatakan bukti-bukti mengarah pada “operasi Amerika yang disengaja dan sangat presisi.”
Investigasi CNN yang diterbitkan awal bulan ini mengungkap skandal yang bahkan lebih besar. Menurut laporan tersebut, komandan senior militer AS menyetujui serangan tersebut meskipun ada peringatan dari sistem intelijen Pentagon bahwa data intelijen yang digunakan untuk mengidentifikasi target sudah usang (outdated).
Bahkan The New York Times menulis dalam analisisnya bahwa serangan terhadap sekolah di Minab terjadi akibat “kesalahan penargetan yang disebabkan oleh data intelijen usang yang disuplai oleh Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA).”
Namun, pembenaran apa yang bisa diterima untuk sebuah “kesalahan penargetan” ketika tiga rudal, satu demi satu, menghantam sekolah yang persis sama?
Beberapa bulan setelah kejahatan mengerikan itu, operasi pencarian dan evakuasi di sekolah dan area sekitarnya akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya 62 potongan tubuh para siswa. Setelah melalui tes DNA, identitas 32 di antaranya berhasil dikonfirmasi.
Lima bulan kemudian, Minab kembali diselimuti duka mendalam. Kota itu sekali lagi berbalut warna hitam. Sekali lagi, peti-peti jenazah diusung di atas bahu para pelayat yang berduka.
Ada ibu-ibu yang, hanya beberapa bulan sebelumnya, menaruh tas ke tangan anak-anak mereka, merapikan kerudung mereka, memperhatikan langkah kaki mereka yang menjauh, dan tersenyum. Kini, ibu-ibu yang sama—dan ayah-ayah yang sama—dengan tangan yang sama pula, mengiringi peti-peti jenazah yang telah menggantikan tas-tas sekolah berwarna-warni itu.
Tidak pernah ada yang memberi tahu mereka bahwa mengucapkan selamat tinggal pada sepotong bagian tubuh bisa jauh lebih menyiksa daripada berpisah dengan jasad yang utuh.
Pada Rabu pagi, peti-peti jenazah berukuran kecil itu mulai bergerak lagi melewati jalanan Minab yang padat. Namun kali ini, tidak ada peti jenazah berat yang bersandar di bahu para pelayat. Setiap peti hanya berisi beberapa potongan tulang yang dibungkus kain putih—sisa-sisa jasad dari anak-anak yang dulunya memasuki sekolah itu sambil tertawa, melompat, dan bersuka ria.
Di atas bahu warga Minab yang berduka, terdapat kotak-kotak kecil berisi 62 potongan tubuh dari 32 anak: Sebuah tangan mungil yang terputus di pergelangan. Sebuah kaki yang masih terbungkus sisa-sisa sandal plastik yang hangus. Sebuah batang tubuh tanpa anggota badan.
Itu adalah prosesi iring-iringan potongan tubuh yang terpisah-pisah—sebuah Karbala di zaman modern—melintas di depan kamera ketika sebagian besar media arus utama dunia secara pengecut menolak mempublikasikan gambar-gambar tersebut. Para ibu dan ayah berdiri berdampingan, mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya kepada apa pun yang tersisa dari anak-anak mereka yang terbunuh.
Di antara kerumunan, jerit tangis duka membumbung tinggi di jalanan, bukan hanya karena gugurnya orang-orang yang mereka cintai, tetapi juga karena cara mereka dibunuh.
Namun, ada satu peti jenazah yang tetap kosong. Di tengah begitu banyak kesedihan dan kepedihan perpisahan, ada satu kisah yang lebih menyayat hati dibanding yang lainnya: kisah Makan Nasiri, seorang siswa kelas satu Sekolah Shajareh Tayyebeh yang jasadnya belum ditemukannya hingga saat ini.
Ia adalah seorang anak laki-laki bermata binar dengan senyum manis yang memperlihatkan celah dari salah satu gigi susunya yang tanggal. Ia adalah siswa terbaik di kelasnya, selalu penuh energi dan siap menjawab pertanyaan guru. Tidak ada satu pun potongan tubuhnya yang ditemukan sejauh ini.
Bahkan di antara 62 potongan tubuh yang ditemukan, tetap tidak ada jejak Makan. Yang tersisa darinya hanyalah sebuah sepatu dan selembar sweter biru bernoda darah, yang ditarik dari balik reruntuhan setelah pemboman sekolah pada 28 Februari tersebut.
Hari ini, barang-barang peninggalan itu disimpan di dalam lemari kaca di dalam masjid di sebelah sekolah. Ayah Makan, Cyrus Nasiri, mencari tanpa lelah di antara puing-puing sejak hari serangan dan selama berhari-hari setelahnya, berharap dapat menemukan jejak sekecil apa pun dari putranya.
Pada minggu-minggu berikutnya, setiap kali muncul kabar bahwa potongan tubuh lainnya telah ditemukan, ayah yang patah hati itu selalu kembali ke lokasi pemboman.
“Bahkan jika mereka hanya menemukan satu kuku jari saja, saya akan kembali,” katanya dalam sebuah wawancara. Dalam wawancara lainnya, dengan mata tergenang air mata, ia bertanya: “Ke mana lagi saya harus mencari putra saya?”
Dalam perang di mana rudal berpemandu presisi dapat memilih targetnya dengan akurasi milimeter, bagaimana mungkin seorang anak berusia tujuh tahun bisa terhantam “karena tidak sengaja”?
Kasus Makan akhirnya ditutup dengan status “hilang.” Seorang anak laki-laki yang pergi ke sekolah pada suatu pagi yang cerah membawa buku dan tas punggungnya tidak pernah kembali ke rumah. Bahkan tidak ada satu pun bagian tubuh yang tersisa bagi keluarganya untuk dimakamkan.
AS pada awalnya membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut, tetapi kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri untuk terungkap. Namun hingga hari ini, AS tidak pernah menyampaikan permohonan maaf resmi maupun membayar ganti rugi apa pun. Investigasi Pentagon yang diminta oleh para senator AS pun hingga kini masih belum dirilis.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan beberapa organisasi hak asasi manusia dengan enggan mengecam serangan tersebut.
Ravina Shamdasani, juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB, mengatakan: “Keluarga dari anak-anak perempuan yang terbunuh berhak mendapatkan kebenaran.” Namun, kebenaran itu tetap terkurung di dalam berkas-berkas Pentagon yang tersegel, membungkam kenyataan kelam tentang teror di siang bolong tersebut.
Jika serangan seperti itu terjadi di sebuah sekolah di New York, London, atau Sydney, bagaimana dunia akan bereaksi? Apakah hal itu akan tetap disebut sebagai “kesalahan”? Apakah investigasi akan ditunda berbulan-bulan? Apakah dunia akan memilih untuk berpaling dan melupakannya?
Dengan darah mereka yang membasahi tembok-tembok sekolah yang hancur, anak-anak Minab telah mengukir selamanya nama-nama pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan yang tidak terampunkan ini. Dan suatu hari nanti, dunia harus menjawab atas sikap diamnya—sikap diam yang kriminal.
Kata-kata dari ibu Makan yang berduka berdiri sebagai tuntutan abadi terhadap “Setan Besar” dan para pelayannya dari kaum Zionis: “Merek membunuh putra saya dua kali. Sekali dengan rudal mereka, dan sekali lagi dengan keheningan mereka.”
Sekolah di Minab telah hancur. Namun, ingatan sejarah Iran tidak akan pernah bisa dihancurkan. Selama pertanyaan-pertanyaan di seputar Makan tetap tidak terjawab, nurani kolektif dunia juga akan tetap terkubur di bawah reruntuhan sekolah itu.
Enam puluh dua potongan tubuh milik 32 siswa yang gugur kini telah dibaringkan di peraduan terakhirnya. Namun satu anak masih hilang di tengah reruntuhan sejarah.
Malam ini, perairan Teluk Persia tampak lebih tenang, seolah-olah tahu bahwa enam puluh dua pecahan cahaya akhirnya telah kembali ke pelukan tanah Minab. Bisikan yang dibawa oleh gelombang-gelombang itu bukan lagi bisikan rasa sakit, melainkan kedamaian setelah lima bulan penantian yang menyiksa.
Ini adalah kisah seorang anak bernama Makan, seorang anak yang bahkan tidak diizinkan oleh Amerika untuk kembali ke pelukan keluarganya yang berduka. Semangat dari anak laki-laki itu—yang dulunya pergi ke sekolah untuk belajar abjad, tersenyum dengan celah gigi susunya yang tanggal—kini mempelajari huruf-huruf baru di atas jasad-jasad yang gugur ini.
Dengan tinta abadi dari darah orang-orang tak berdosa dan kebiadaban Amerika, anak laki-laki kecil itu menuliskan sebuah kisah baru bagi bangsa-bangsa di dunia—sebuah kisah yang ditulis dengan tinta yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh hujan maupun angin sepoi-sepoi.
Ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Ini adalah awal baru bagi sejarah negeri ini—sejarah yang ditulis dengan darah dan di balikkan dengan rasa bangga.
Oleh Maryam Bashirpour
Maryam Bashirpour adalah seorang peneliti universitas dan penulis yang berdomisili di Teheran.


