Dari Kekuasaan Menjadi Kepanikan: Bagaimana Ketakutan terhadap Rudal Iran Membuat Trump Larikan Diri dari Turki dengan Kendaraan Katering

Fear

Oleh Prof. Abdullahi Danladi

Purna Warta – Ada saat-saat ketika sejarah tidak membutuhkan pidato panjang. Satu gambar saja sudah cukup.

Dunia kini dipenuhi laporan bahwa setelah kunjungan terakhirnya ke Turki, Presiden Amerika Serikat Donald Trump harus dipindahkan secara diam-diam menggunakan kendaraan katering atau layanan makanan, di tengah kekhawatiran akan serangan rudal Iran.

Terlepas dari apakah setiap detail dalam kisah dramatis tersebut pada akhirnya dapat dikonfirmasi atau tidak, simbolisme yang terkandung di dalamnya telah menarik perhatian jutaan orang.

Presiden yang disebut-sebut sebagai presiden paling berkuasa di dunia, sekaligus panglima tertinggi dari mesin militer yang dianggap paling tangguh di dunia, harus menghilang dari pandangan publik karena ketakutan terhadap rudal.

Tidak ada yang salah dengan mengambil langkah-langkah keamanan. Seorang kepala negara berhak mendapatkan perlindungan, dan pemerintahan yang bertanggung jawab tidak mungkin begitu saja membiarkan pemimpinnya menghadapi risiko pembunuhan. Namun, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih mendalam—pertanyaan yang melampaui Trump, Iran, ataupun politik pembalasan.

Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik ketika peristiwa ini dibandingkan dengan kisah mengenai hari-hari terakhir Pemimpin Revolusi Islam yang gugur sebagai syahid, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Menurut berbagai laporan, ketika ia diperingatkan mengenai ancaman Amerika untuk membunuhnya dan didesak agar berpindah ke lokasi yang lebih aman, ia menolak meninggalkan posisinya. Alasannya sederhana: bagaimana mungkin ia mencari keselamatan pribadi sementara rakyat Iran sendiri masih berada dalam ancaman bahaya?

Sulit menemukan kontras yang lebih mencolok.

Satu pemimpin dibawa pergi secara diam-diam dengan perlindungan rahasia karena kematian mungkin datang melalui sebuah kendaraan pengangkut. Sementara pemimpin lainnya menolak bersembunyi meskipun telah berulang kali diminta melakukannya, karena ia menganggap nasib rakyatnya tidak dapat dipisahkan dari nasib dirinya sendiri.

Ini bukan sekadar kisah tentang keamanan. Ini adalah kisah tentang kepemimpinan. Ini adalah kisah tentang perbedaan antara memiliki kekuasaan dan menjadi perwujudan dari sebuah perjuangan.

Amerika Serikat mungkin memiliki kapal induk, senjata nuklir, satelit, jaringan intelijen, dan perangkat militer paling canggih. Namun, ketika ancaman menjadi cukup serius, presidennya harus disembunyikan dan dipindahkan menggunakan kendaraan layanan yang tampak biasa.

Kekuatan militer terbesar di dunia dapat melindungi seorang presiden dengan teknologi yang hampir tidak terbayangkan, tetapi tidak dapat membuatnya kebal terhadap rasa takut. Inilah kenyataan yang tidak nyaman mengenai kekuasaan: kepemilikan senjata tidak menghilangkan kerentanan.

Sebuah negara mungkin memiliki kekuatan penghancur yang cukup untuk memusnahkan kota-kota, tetapi individu yang mengendalikan kekuatan tersebut tetaplah manusia yang dapat merasa takut terhadap drone atau rudal yang datang ke arahnya.

Dan tepat di sinilah sikap Pemimpin Iran yang gugur sebagai syahid tersebut menunjukkan kontras yang begitu mendalam. Ketika diberi tahu bahwa musuh-musuhnya ingin membunuhnya, responsnya bukanlah, “Di mana bunker yang paling aman?”, atau “Di mana tempat persembunyian yang paling terlindungi?”, atau “Seberapa cepat saya bisa menghilang?”

Sebaliknya, posisinya adalah bahwa ia tidak dapat begitu saja menyelamatkan dirinya sendiri sementara jutaan rakyat Iran tetap berada dalam ancaman serangan Amerika-Israel.

Pada tingkat intelektual, keputusan tersebut layak mendapatkan perhatian dan penghargaan yang serius karena mencerminkan konsep kepemimpinan yang asing bagi budaya politik modern yang penuh privilese dan perlindungan berlapis.

Penguasa modern sering kali hidup di balik tembok. Rakyat hidup di luarnya. Penguasa bepergian dengan iring-iringan pengamanan. Rakyat bepergian dalam kondisi penuh ketidakamanan. Penguasa memiliki pengawal. Rakyat diharapkan melindungi diri mereka sendiri. Penguasa memiliki tempat perlindungan bawah tanah. Rakyat diminta menanggung konsekuensi dari keputusan yang dibuat di istana-istana kepresidenan.

Namun, konsep kepemimpinan revolusioner membalikkan keadaan tersebut. Pemimpin sejati berkata: jika rakyat saya terancam, saya tidak dapat bersembunyi demi keselamatan diri sendiri. Jika kesyahidan merupakan nasib yang harus dihadapi oleh sesama warga negara saya, saya juga harus siap menghadapinya.

Ini merupakan pemahaman yang berbeda mengenai kekuasaan politik. Ia berakar pada gagasan Islam bahwa kepemimpinan bukan sekadar sebuah hak istimewa, melainkan amanah, yaitu kepercayaan suci yang harus dipertanggungjawabkan. Dan tidak ada peristiwa dalam memori Islam yang lebih kuat mengukuhkan filosofi ini daripada peristiwa Karbala.

Imam Husain (a.s.) tidak melarikan diri dari bahaya, meskipun ia memiliki pilihan untuk menyelamatkan hidupnya. Ia mengetahui bahwa pasukan yang menghadapinya jauh lebih kuat. Ia mengetahui konsekuensi yang mungkin terjadi. Namun, ia menolak menukar keselamatan pribadinya dengan menyerah terhadap kebenaran.

Karena itu, Karbala menghancurkan anggapan bahwa orang yang paling kuat selalu merupakan orang yang memiliki senjata paling banyak. Terkadang, orang yang paling kuat adalah orang yang menolak untuk diancam, ditindas, atau ditakut-takuti.

Itulah sebabnya sikap Ayatullah Khamenei memiliki resonansi yang begitu kuat dalam kosakata revolusioner tentang perlawanan. Seorang pemimpin yang siap menghadapi kematian tidak mudah diintimidasi oleh ancaman pembunuhan.

Anda dapat mengancam jabatannya. Anda dapat mengancam hartanya. Anda dapat mengancam keamanannya. Anda dapat mengancam nyawanya. Namun, ketika seseorang telah menerima bahwa kematian bukanlah kekalahan terakhir, senjata psikologis berupa ancaman pembunuhan mulai kehilangan kekuatannya.

Dan inilah tepatnya alasan mengapa kesyahidan secara historis telah menakutkan imperium. Imperium memahami cara melawan pasukan. Mereka memahami cara menghancurkan infrastruktur. Mereka memahami cara memberlakukan sanksi. Mereka memahami cara membunuh individu. Namun, mereka kesulitan mengalahkan suatu bangsa yang telah mengubah pengorbanan menjadi sumber kekuatan.

Tragedi politik kontemporer adalah bahwa terlalu banyak pemimpin telah terbiasa meminta rakyat biasa menunjukkan keberanian yang mereka sendiri tidak bersedia tunjukkan.

Mereka mengirim para pemuda ke medan perang sementara keluarga mereka sendiri tetap berada jauh dari medan pertempuran dengan aman. Mereka menyerukan kepada warga untuk menanggung kesulitan sementara kehidupan mereka sendiri terlindungi dari kesulitan tersebut. Mereka berbicara tentang pengorbanan dari dalam kompleks yang dijaga ketat.

Dan ketika bahaya datang, naluri pertama mereka sering kali bukan berdiri bersama rakyat, melainkan menghilang di balik lapisan-lapisan pengamanan. Inilah yang membuat kontras antara Trump dan Ayatullah Khamenei menjadi begitu jelas.

Ini bukan sekadar persoalan bahwa yang satu bepergian dengan kendaraan layanan makanan sementara yang lain menolak bersembunyi. Kedua gambaran tersebut mewakili dua hubungan psikologis yang sangat berbeda dengan kekuasaan.

Tentu saja, langkah-langkah keamanan yang bertanggung jawab bukanlah tindakan pengecut. Tidak ada pengamat serius yang akan berpendapat bahwa seorang pemimpin politik harus dengan sengaja membuka dirinya terhadap pembunuhan hanya untuk membuktikan keberanian.

Seorang pemimpin memiliki kewajiban untuk mempertahankan kemampuannya dalam melayani rakyat. Namun, terdapat perbedaan mendalam antara perlindungan yang wajar dan keterpisahan dari nasib rakyat. Ujian yang sebenarnya muncul ketika keselamatan pribadi bertentangan dengan keamanan dan solidaritas bersama.

Dan di sinilah keputusan Ayatullah Khamenei menjadi begitu kuat. Ia menolak meninggalkan rakyatnya bukan karena menganggap dirinya kebal secara fisik dan bukan pula karena ia tidak memahami kemampuan musuh-musuhnya.

Melainkan karena ia memandang kepemimpinan sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab. Inilah jenis kepemimpinan yang tidak dapat diciptakan oleh konsultan hubungan masyarakat. Ia tidak dapat dibeli dengan miliaran dolar. Ia tidak dapat dihasilkan oleh teknologi militer. Ia terbentuk melalui iman dan keyakinan.

Dan inilah pelajaran yang seharusnya lebih ditakuti oleh orang-orang berkuasa di dunia daripada rudal mana pun: seorang pemimpin yang takut akan kematian dapat dikendalikan melalui ancaman kematian. Namun, seorang pemimpin yang telah menerima kesyahidan tidak mudah dikendalikan oleh ancaman tersebut.

Rudal mungkin menghancurkan tubuh. Pembunuhan mungkin menyingkirkan seseorang. Namun, hal itu tidak serta-merta menghancurkan gagasan yang membuat seseorang rela mati.

Bahkan, sejarah berulang kali menunjukkan hal yang sebaliknya: terkadang kematian seorang pemimpin yang teguh justru memberikan kehidupan yang jauh lebih besar kepada perjuangannya daripada yang dapat dicapainya ketika masih hidup.

Karbala adalah contoh yang paling nyata. Kesyahidan Imam Husain (a.s.) tidak mengubur pesannya. Kesyahidannya justru mengabadikannya. Upaya untuk memadamkan perlawanan berubah menjadi sarana yang membuat perlawanan memperoleh bahasa perjuangan yang abadi.

Pada akhirnya, sejarah akan menilai para pemimpin berdasarkan banyak hal—kebijakan mereka, kemenangan mereka, kesalahan mereka, dan konsekuensi dari semua itu. Namun, sejarah juga akan mengajukan sebuah pertanyaan yang lebih sederhana:

Ketika ancaman datang, di manakah sang pemimpin?

Apakah ia berada di belakang rakyatnya? Apakah ia berada di depan mereka? Ataukah ia hanya bersembunyi di suatu tempat demi keselamatan dirinya sendiri?

Prof. Abdullahi Danladi adalah anggota Islamic Movement in Nigeria.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *