Purna Warta – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut gagal tercapai, tetapi menurut pengakuan para pejabat Barat dan media Amerika, para agresor juga menghadapi kebuntuan strategis dan kekalahan di medan perang maupun arena politik.
Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut gagal tercapai, tetapi menurut pengakuan para pejabat Barat dan media Amerika, para agresor juga menghadapi kebuntuan strategis serta kekalahan di medan perang dan arena politik.
Perang ini dimulai dengan serangan besar-besaran dan pembantaian warga sipil, termasuk para pelajar yang tidak bersalah. Dalam waktu singkat, perang tersebut meluas dan menimbulkan dampak kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang besar, sekaligus memicu beragam reaksi dari media internasional.
Media-media dunia berupaya membentuk narasi mengenai perang ini berdasarkan sudut pandang masing-masing. Menelaah berbagai pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang situasi perang yang sebenarnya dan prospek perkembangannya.
Media Inggris
The Hill: Kongres AS harus menghentikan perang terhadap Iran
Dalam sebuah artikel yang ditulis William S. Becker, The Hill menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki alasan yang jelas untuk membutuhkan Kongres yang tegas dan siap memulihkan keseimbangan kekuasaan dalam pemerintahan setelah pemilihan umum November. Jika perang terhadap Iran masih berlanjut, salah satu tugas pertama Kongres yang baru seharusnya adalah mengakhiri perang tersebut.
Menurut artikel itu, Trump mengatakan bahwa ia tidak akan melanjutkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan umum. Namun, belum jelas apa yang akan dilakukannya setelah pemilu.
Perang terhadap Iran, selain merampas kewenangan Kongres dalam memutuskan perang, merusak perekonomian, serta menyebabkan kematian warga Amerika dan Iran, juga melanggar kesepakatan moral yang sakral antara para pemimpin militer dan keluarga-keluarga Amerika. Kesepakatan tersebut menjamin bahwa anak-anak mereka hanya akan dikirim ke medan perang apabila terdapat ancaman nyata dan mendesak terhadap keamanan nasional serta tidak ada pilihan lain selain menggunakan kekuatan militer.
Penulis menyebutkan bahwa keserakahan, dendam pribadi, kesombongan, dan ketidakmampuan mengambil pelajaran dari sejarah turut berperan dalam perang ini.
Menurutnya, CNBC melaporkan bahwa Trump memiliki saham di perusahaan-perusahaan minyak dan gas. Investasi besar yang dilakukannya dalam enam bulan pertama perang dilaporkan menghasilkan keuntungan hingga 4,4 juta dolar AS. Putra-putra Trump juga berinvestasi di perusahaan-perusahaan pertahanan yang memperoleh kontrak pertahanan bernilai miliaran dolar sejak ayah mereka kembali menjabat sebagai presiden.
Mengenai dendam pribadi, penulis menyatakan bahwa Trump menggantikan kesepakatan diplomatik pada masa pemerintahan Barack Obama untuk membatasi program nuklir Iran dengan perang. Duta Besar Inggris, dalam sebuah telegram diplomatik yang bocor, menyebut tindakan tersebut sebagai “vandalisme diplomatik”.
Adapun mengenai kesombongan, Robert Kagan dari Brookings Institution menilai bahwa tujuan Trump di Iran tidak mungkin dicapai. Namun, Trump berulang kali menunjukkan bahwa dirinya tidak bersedia menerima kekalahan.
Dengan merujuk pada Perang Vietnam, penulis mengingatkan bahwa Richard Nixon menjanjikan pengakhiran perang pada 1968. Akan tetapi, dengan menghambat upaya perdamaian yang dilakukan Lyndon B. Johnson, Nixon justru melanjutkan perang tersebut. Dalam empat tahun antara intervensinya dan pemilihan umum 1972, lebih dari 20.000 personel militer Amerika tewas, lebih dari 100.000 lainnya terluka, dan lebih dari satu juta warga Vietnam terbunuh.
Doktrin Powell juga menegaskan bahwa Amerika Serikat hanya boleh menggunakan kekuatan militer sebagai pilihan terakhir, dengan tujuan yang jelas, analisis biaya dan risiko, jalan keluar yang dapat dipercaya, serta dukungan domestik dan internasional. Menurut penulis, Trump mengabaikan seluruh prinsip tersebut.
Penulis menyimpulkan bahwa Kongres berikutnya harus menghentikan perang. Namun, hal itu tidak akan terlaksana kecuali para pemilih pada 3 November memilih wakil-wakil rakyat yang berprinsip dan cukup berani untuk mengajukan ancaman pemakzulan yang kredibel terhadap Trump.
Perang berlangsung di Iran, tetapi kini bola berada di tangan para pemilih Amerika.
The Cradle: Iran menyebut doktrin keamanan baru Netanyahu telah mati sebelum diterapkan
Situs berita The Cradle melaporkan bahwa Iran menanggapi doktrin keamanan baru Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis Israel, dengan menyebutnya sebagai doktrin yang “sudah mati sebelum diterapkan”.
Ibrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, melalui sebuah unggahan berbahasa Ibrani di platform X, menyatakan bahwa doktrin keamanan baru rezim Zionis tersebut “sudah mati sebelum diterapkan dan tidak memberikan jalan keluar sedikit pun, bahkan tambahan waktu sekalipun”.
Ia menambahkan bahwa akhir rezim tersebut akan berupa “kehancuran di tangan kehendak rakyat Iran yang pemberani dan Front Perlawanan”.
Menurut The Cradle, Netanyahu memperkenalkan doktrin baru itu dua hari sebelum tanggapan Iran tersebut. Doktrin tersebut menekankan tindakan militer “preemtif” atau pendahuluan untuk menghadapi ancaman, menggantikan pendekatan “pengekangan”. Strategi itu mencakup serangan yang disebut preventif serta pembentukan “zona penyangga” di Lebanon, Gaza, dan Suriah.
Doktrin yang terdiri atas sepuluh poin tersebut menekankan sejumlah hal, antara lain:
– Mempertahankan keunggulan militer dan teknologi.
– Mencegah musuh memperoleh senjata nuklir.
– Memperluas kemampuan intelijen dan daya tangkal.
– Memperkuat pertahanan terhadap rudal, pesawat nirawak, serangan siber, dan infiltrasi lintas perbatasan.
– Meningkatkan anggaran militer.
– Mengurangi ketergantungan pada pemasok asing.
– Memperkuat produksi senjata dalam negeri.
– Mengembangkan kecerdasan buatan, teknologi kuantum, dan teknologi antariksa.
– Membentuk aliansi internasional dan regional untuk menghadapi Iran dan Poros Perlawanan.
Menurut The Cradle, sebuah analisis Al Jazeera menyebut doktrin tersebut sebagai “manuver politik” menjelang pemilihan umum 27 Oktober di wilayah pendudukan.
Sementara itu, Institute for National Security Studies Israel menggambarkannya sebagai “titik balik” dalam kebijakan rezim tersebut. Lembaga itu menyatakan bahwa doktrin tersebut menempatkan identitas Yahudi di atas demokrasi, memandang perdamaian sebagai “alat” dan bukan “tujuan”, serta menolak keberadaan negara-negara Arab yang berdaulat dan mandiri.
Media Arab
Al Jazeera: “Badai kelaparan” mengancam ketahanan pangan dunia
Dalam sebuah artikel, Al Jazeera menulis bahwa “badai kelaparan” merupakan fenomena struktural dan kompleks yang disebabkan oleh perubahan iklim, kekeringan, kelangkaan air, peperangan, kenaikan biaya energi dan transportasi, serta gangguan rantai pasok pangan.
Krisis ini mengancam ketahanan pangan jutaan orang melalui penurunan produksi pertanian dan kenaikan harga bahan makanan.
Fenomena El Niño juga berpotensi memperburuk krisis dengan meningkatkan kekeringan dan merusak tanaman pangan utama.
Di sisi lain, perang Rusia–Ukraina dan penutupan Selat Hormuz mengganggu pengiriman biji-bijian, bahan bakar, dan pupuk kimia sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap pasar global. Penimbunan barang dan spekulasi keuangan turut mendorong kenaikan harga dan memperparah kelangkaan.
Di dunia Arab, negara-negara seperti Yaman, Sudan, dan sejumlah wilayah Suriah menghadapi kondisi ketahanan pangan yang kritis.
Jika situasi ini terus berlangsung, dampaknya dapat berupa gejolak sosial, ketidakstabilan politik, dan peningkatan migrasi.
Oleh karena itu, diperlukan reformasi kebijakan pertanian, pengelolaan konsumsi air, penguatan produksi dalam negeri, penyimpanan cadangan pangan strategis, serta pengendalian monopoli dalam jaringan distribusi.
Ra’y al-Youm: Kekalahan Trump dalam pemilu dapat memengaruhi kebijakan AS terhadap Iran, Gaza, dan Lebanon
Dalam sebuah artikel, Ra’y al-Youm menulis bahwa kekalahan Donald Trump dalam pemilihan paruh waktu dan hilangnya kendali atas kedua kamar Kongres dapat meningkatkan pembatasan politik dan kelembagaan terhadap pemerintah Amerika Serikat. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi penanganan isu Iran, Gaza, dan Lebanon.
Dalam persoalan Iran, perubahan ini dapat mengubah perhitungan kedua belah pihak mengenai kemungkinan perundingan atau eskalasi ketegangan. Namun, hal tersebut tidak serta-merta akan mengurangi konflik.
Di Gaza, peningkatan pengawasan oleh Partai Demokrat dapat memperluas perdebatan mengenai bantuan militer kepada Israel, perlindungan warga sipil, dan gencatan senjata. Meski demikian, perubahan nyata dalam kebijakan belum tentu terjadi.
Di Lebanon, perselisihan internal di Amerika Serikat dapat melemahkan peran Washington sebagai mediator atau justru mendorong Trump mencapai kesepakatan untuk meredakan konflik.
Secara keseluruhan, kekalahan Trump dalam pemilu tidak serta-merta berarti merosotnya pengaruh Amerika Serikat. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat membuat penggunaan pengaruh itu menjadi lebih rumit dan sulit diprediksi.
Negara-negara Arab, menurut artikel tersebut, perlu memperkuat koordinasi regional dan mendukung penyelesaian politik untuk mencegah meluasnya perang dan ketidakstabilan.
Al Mayadeen: Kemenangan militer atas Iran dapat berujung pada kekalahan ekonomi Amerika
Dalam sebuah artikel, Al Mayadeen menulis bahwa persoalan utama Donald Trump bukan semata-mata mengalahkan Iran, melainkan memaksakan kehendak Amerika Serikat tanpa menimbulkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan terhadap perekonomian negaranya sendiri.
Menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November, kenaikan harga minyak dan gangguan ekspor energi dapat memicu ketidakpuasan pemilih serta melemahkan posisi politik Trump. Karena itu, kemenangan militer atas Iran justru dapat berujung pada kekalahan ekonomi Amerika Serikat.
Menurut penulis, Iran tidak harus meraih kemenangan militer untuk memperoleh keuntungan strategis. Iran cukup mempertahankan kemampuan daya tangkal dan ketahanan ekonominya, sekaligus meningkatkan biaya yang harus ditanggung Washington untuk melanjutkan perang.
Pada saat yang sama, terdapat kemungkinan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan serangan karena pertimbangan politik menjelang pemilu. Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka dan belum sepenuhnya tertutup.
Artikel tersebut juga menyoroti kerentanan ekonomi Amerika Serikat terhadap guncangan harga minyak, kemungkinan terbentuknya gelembung ekonomi di sektor kecerdasan buatan, serta terbatasnya pengaruh impor solar Rusia terhadap harga energi.
Pada akhirnya, perlawanan Iran dapat menjadi ujian penting bagi masa depan politik Trump dan kredibilitas strategis Amerika Serikat.
Media Rusia dan Tiongkok
Russia Today: Kenaikan harga bahan bakar memicu protes di Prancis
Dalam laporan berjudul “Pemberontakan, Penjarahan, dan Kemarahan: Akankah Kekerasan Menyelesaikan Masalah Para Pemimpin Prancis?”, Russia Today (RT) membahas gelombang demonstrasi besar-besaran di Prancis.
Media tersebut menulis bahwa kenaikan harga bahan bakar, biaya hidup, kebijakan penghematan pemerintah, dan tindakan kepolisian merupakan sejumlah faktor utama yang memicu ketidakpuasan para demonstran.
Menurut laporan itu, harga bahan bakar di Prancis pada akhir bulan lalu mencapai 2,40 euro per liter. Ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota untuk memprotes kondisi ekonomi dan sosial.
Demonstrasi tersebut berlangsung ketika perang Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Iran serta kekhawatiran mengenai keamanan energi semakin menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi Eropa.
Meskipun tuntutan para demonstran Prancis tidak berkaitan langsung dengan perang terhadap Iran, berlanjutnya konflik dan terganggunya pasar energi dapat meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi sehingga semakin membebani rumah tangga Eropa.
Situasi ini kembali mengangkat persoalan mengenai dampak ekonomi kebijakan militer negara-negara Barat dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat.
RT juga menyoroti upaya Marine Le Pen dan kelompok-kelompok kiri Prancis untuk memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat demi kepentingan politik. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi dinamika politik dalam negeri Prancis.
CGTN: Mengapa Netanyahu mengumumkan doktrin keamanan baru menjelang pemilu Israel?
Dalam sebuah laporan berjudul “Mengapa Netanyahu Mengumumkan Doktrin Keamanan Nasional Baru Menjelang Pemilu Israel?”, CGTN menulis bahwa Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis Israel, memperkenalkan doktrin keamanan baru menjelang pemilihan parlemen pada 27 Oktober.
Doktrin tersebut menekankan pencegahan ancaman melalui tindakan militer preemtif atau pendahuluan serta pembentukan zona penyangga di wilayah perbatasan.
Menurut laporan itu, Li Zixin, seorang pakar dari China Institute of International Studies, menilai bahwa doktrin tersebut menurunkan ambang batas penggunaan kekuatan militer oleh Israel dan meningkatkan risiko serangan sepihak terhadap Iran.
Para pakar Tiongkok juga menilai bahwa waktu pengumuman strategi tersebut menunjukkan upaya Netanyahu memanfaatkan operasi militer dalam beberapa tahun terakhir untuk kepentingan pemilu sekaligus menampilkan efektivitas kebijakan keamanannya.
Pada saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan dukungannya terhadap pemilihan kembali Netanyahu melalui sebuah surat. Trump juga mengklaim bahwa Iran telah mengalami kerugian militer dan ekonomi yang sangat besar.
Menurut para pakar, dukungan timbal balik antara Washington dan Tel Aviv dipengaruhi oleh kepentingan politik menjelang pemilu maupun kesamaan pendekatan kedua pihak terhadap Iran.
CGTN memperingatkan bahwa kembali menguatnya keselarasan antara Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel, disertai penekanan pada serangan preemtif, dapat meningkatkan risiko dimulainya kembali konflik dan meluasnya ketegangan di kawasan Asia Barat.


