Lieberman: Saya Tidak Yakin Netanyahu Secara Mental Layak Menjadi Perdana Menteri

Liberman

Al-Quds, Purna Warta – Ketua partai oposisi Israel, Yisrael Beiteinu (Israel Rumah Kami), mengkritik pernyataan terbaru Perdana Menteri rezim Israel Benjamin Netanyahu. Ia menegaskan bahwa dirinya meragukan kelayakan Netanyahu untuk menjabat sebagai perdana menteri, termasuk dari segi kemampuan mentalnya.

Avigdor Lieberman, ketua partai Yisrael Beiteinu, kembali mengkritik pernyataan terbaru Netanyahu menjelang penyelenggaraan pemilihan parlemen, sebagai bagian dari kritiknya terhadap kebijakan perdana menteri tersebut.

Lieberman menyinggung klaim terbaru Netanyahu mengenai Iran dan menegaskan:

“Kemarin, Netanyahu mengatakan bahwa Iran sudah berada di ambang kehancuran kami dengan bom-bom nuklirnya. Saya tidak yakin Netanyahu layak menjadi perdana menteri dari segi mental, fisik, maupun kognitif.”

Sementara itu, Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Umum militer rezim Israel sekaligus ketua partai Yashar, mengatakan bahwa Netanyahu berbohong mengenai penghancuran program nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa tidak ada ancaman langsung dan segera yang mengharuskan dilancarkannya serangan militer terhadap Iran.

Dalam konteks yang sama, Yair Golan, ketua Partai Demokrat Israel, juga menuduh Netanyahu berupaya memanfaatkan opsi militer demi kepentingan politik. Ia memperingatkan agar Israel tidak diseret ke dalam konfrontasi lain yang didorong oleh kepentingan pribadi.

Dalam sebuah pesan di media sosial X, Golan menggambarkan Netanyahu sebagai pemimpin lemah yang terjebak dalam upaya mempertahankan kekuasaan. Ia menulis:

“Netanyahu adalah pemimpin yang sakit dan lemah, yang berpegang teguh pada kekuasaan dengan segala cara dan bersedia membahayakan keamanan Israel demi menyelamatkan dirinya sendiri.”

Ketua Partai Demokrat Israel itu menegaskan bahwa Netanyahu tidak memiliki legitimasi untuk memulai konfrontasi militer baru demi tujuan politik dan pribadi, terlebih menjelang pemilihan umum. Ia menekankan bahwa nyawa para personel militer dan warga Israel tidak boleh dijadikan alat dalam persaingan politik perdana menteri.

Pemilihan Knesset (Parlemen Israel) dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober, di tengah berbagai krisis internal, perselisihan politik, serta meningkatnya tekanan internasional terhadap rezim Israel akibat agresi militernya di Gaza, perluasan permukiman ilegal, dan kekerasan para pemukim di Tepi Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *