Arbain: Perjalanan Abadi untuk Mengenang, Melawan, dan Menghidupkan Kembali Pesan Karbala

Arbain

Purna Warta – Ketika hari keempat puluh (Arbain) setelah syahidnya Imam Husain bin Ali (as), cucu Nabi Muhammad (saw), tiba, jutaan orang dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Karbala setelah menempuh perjalanan spiritual dari Najaf.

Jalan-jalan menuju Karbala kembali dipenuhi oleh lautan manusia – pria, wanita, orang tua, dan anak-anak berjalan dengan satu tujuan bersama: untuk memperbarui komitmen mereka terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Imam Husain (as) dan para syuhada Karbala lainnya, serta menjaga agar ingatan akan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah manusia tetap hidup.

Jalan kaki Arbain dari Najaf ke Karbala telah muncul sebagai salah satu perkumpulan damai terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir, sejak jatuhnya rezim Saddam. Namun, maknanya tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau jarak fisik yang ditempuh para peziarah dalam perjalanan menuju Najaf.

Hakikat sejati Arbain terletak pada makna spiritual, historis, dan moralnya yang mendalam. Ini adalah perjalanan untuk mengenang, gerakan kesadaran, dan pernyataan bahwa kebenaran, keadilan, dan martabat manusia tidak dapat dihapus oleh perjalanan waktu.

Bagi mereka yang tidak dapat pergi ke Irak, perjalanan kaki Arbain simbolis diselenggarakan di berbagai belahan dunia. Dari Afrika hingga Asia, Eropa hingga Amerika, jutaan orang berpartisipasi dalam pawai peringatan ini, mengubah komunitas mereka sendiri menjadi perpanjangan jalan menuju Karbala.

Perjalanan simbolis ini menunjukkan bahwa pesan Imam Husain (as) tidak terbatas pada tanah atau orang tertentu; melainkan, ia telah menjadi seruan universal bagi umat manusia untuk melawan ketidakadilan dan membela prinsip-prinsip moral.

Tragedi Karbala pada tahun 61 H (680 M) adalah momen penting dalam sejarah Islam. Imam Husain (as), cucu tercinta Nabi Muhammad (saw) dan anggota Keluarga Suci (Ahlul Bait), menghadapi tatanan politik yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip suci Islam. Penolakannya untuk melegitimasi kebejatan dan ketidakadilan tidak didorong oleh ambisi pribadi atau keinginan akan kekuasaan duniawi.

Sebaliknya, itu adalah sikap yang berakar pada upaya menjaga kebenaran, martabat, dan fondasi etis Islam seperti yang diperkenalkan oleh kakeknya, Rasulullah (saw).

Pengorbanan di Karbala sangat besar. Imam Husain (as), bersama dengan anggota keluarganya dan para sahabat setia, menghadapi pasukan yang sangat banyak dan memilih untuk menerima syahid daripada menyerah pada penghinaan. Ia menolak untuk membaiat seorang lalim dan pemabuk seperti Yazid.

Para penyintas tragedi itu, terutama Imam Zainal Abidin (as) dan Sayyidah Zainab binti Ali (sa), membawa pesan abadi itu melampaui medan perang, memastikan bahwa dunia akan memahami realitas apa yang terjadi di dataran gurun Karbala.

Keberanian dan keyakinan teladan mereka mengubah momen kekalahan yang tampak nyata menjadi kemenangan abadi kebenaran atas kebatilan, martabat atas kehinaan, kebenaran atas kekuatan.

Oleh karena itu, Arbain bukan sekadar peringatan atas peristiwa sejarah; ia adalah kelanjutan dari misi mereka yang selamat dari Karbala dan membawa pesannya ke depan. Ia mewakili penolakan umat manusia untuk membiarkan penindasan dan despotisme menulis ulang sejarah atau membungkam suara kebenaran dan keadilan.

Tindakan fisik berjalan kaki dari Najaf ke Karbala memiliki makna simbolis yang dalam. Setiap langkah yang diambil oleh para peziarah dari seluruh dunia mewakili gerakan sadar menuju kesadaran, pengorbanan, dan tanggung jawab moral.

Jutaan peziarah ini tidak sekadar bepergian ke tujuan geografis, tetapi mereka memulai perjalanan batin, menjauh dari ketidakpedulian menuju komitmen, menjauh dari diam dan keterlibatan menuju tanggung jawab.

Jalan menuju Karbala menjadi sekolah kehidupan di mana pelajaran tentang keberanian, kesabaran, kasih sayang, pengorbanan, dan perlawanan dipelajari. Di sepanjang rute menuju makam Imam Husain (as), orang-orang biasa menyambut orang asing ke dalam rumah mereka, memberi mereka makanan, air, dan tempat berlindung, serta melayani mereka dengan kerendahan hati dan kasih sayang yang luar biasa.

Budaya kemurahan hati dan keramahan yang luar biasa ini mencerminkan semangat persaudaraan dan ketidakegoisan yang diwakili oleh Imam Husain (as) dan para sahabatnya.

Di dunia yang semakin ditandai oleh perpecahan, permusuhan, dan materialisme, Arbain menghadirkan model interaksi manusia yang berbeda. Jutaan orang dari berbagai negara, budaya, dan latar belakang sosial bersatu di sekitar visi moral bersama. Bahasa kebangsaan, etnis, dan status sosial menghilang, digantikan oleh identitas bersama yang dibangun di sekitar komitmen terhadap keadilan dan rasa hormat terhadap martabat manusia.

Salah satu kontribusi terbesar Arbain adalah perannya dalam menjaga kesadaran tentang penderitaan yang dialami oleh Keluarga Nabi Muhammad (saw). Sejarah sering menyaksikan upaya para lalim yang berkuasa untuk mengendalikan narasi, menekan kebenaran yang tidak nyaman, dan membiarkan peristiwa-peristiwa tertentu hilang dari ingatan publik. Namun, pesan Karbala bertahan karena generasi-generasi menolak untuk melupakannya.

Arbain berfungsi sebagai pengingat bahwa keluarga Nabi Suci (saw) tidak hanya dihormati melalui ungkapan cinta dan rasa hormat, tetapi juga menanggung kesulitan besar dalam membela dan menjaga prinsip-prinsip Islam.

Ia mengajak umat manusia untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang tetap relevan di setiap zaman: Apa yang harus dilakukan orang ketika ketidakadilan menjadi hal yang normal? Tanggung jawab apa yang dimiliki individu ketika kebenaran terancam oleh kekuasaan? Apakah diam di hadapan penindasan adalah bentuk kegagalan?

Melalui pertanyaan-pertanyaan mendesak ini, Karbala melampaui sejarah dan menjadi pesan hidup untuk masa kini dan peta jalan untuk masa depan.

Daya tarik universal dari perlawanan Imam Husain (as) terletak pada kenyataan bahwa perjuangannya mewakili prinsip kemanusiaan yang abadi: penolakan untuk tunduk pada ketidakadilan. Meskipun berakar pada sejarah Islam, pelajaran dari Karbala bergema dengan semua orang yang menghargai kebebasan, kebenaran, martabat, dan keadilan. Di berbagai budaya dan masyarakat, mereka yang berjuang melawan penindasan menemukan inspirasi dalam keberanian Imam Husain (as).

Oleh karena itu, Arbain bukan sekadar ekspresi duka dan ratapan. Ia adalah gerakan kesadaran. Ia mengubah duka menjadi tanggung jawab dan peringatan menjadi tindakan. Ia mengajarkan bahwa kesetiaan sejati kepada Imam Husain (as) tidak terbatas pada air mata dan ikatan emosional; sebaliknya, ia membutuhkan komitmen terhadap nilai-nilai yang korbankan nyawanya – kebenaran, keadilan, martabat, dan perlawanan terhadap segala bentuk tirani.

Di dunia saat ini, di mana tirani dan ketidakadilan telah menjadi hal yang normal, di mana misinformasi dan narasi yang menyimpang sering membentuk pemahaman publik, Arbain memberikan kesempatan untuk menghubungkan kembali umat manusia dengan pelajaran moral yang mendalam. Ia mengingatkan orang bahwa kekuasaan tanpa keadilan tidak dapat menciptakan legitimasi yang langgeng, dan bahwa kebenaran, bahkan ketika ditindas, memiliki kekuatan yang pada akhirnya akan muncul.

Jalan menuju Karbala pada Hari Arbain, karena itu, bukan sekadar jalan yang ditempuh dengan kaki, tetapi jalan yang ditempuh oleh hati dan pikiran. Setiap tahun, jutaan orang berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir Imam Husain (as), tetapi tujuan sebenarnya adalah kebangkitan hati nurani.

Mereka berjalan untuk mengingat sebuah tragedi, tetapi mereka juga berjalan untuk memperbarui ikrar baiat dan komitmen bahwa ketidakadilan tidak boleh pernah diterima dan bahwa jiwa manusia harus selalu berjuang untuk kebenaran dan martabat.

Arbain adalah suara Karbala yang bergema melintasi abad dan generasi. Ia adalah deklarasi bahwa perlawanan Imam Husain (as) dan syahidnya yang agung serta penderitaan yang dialami keluarganya tidak akan pernah dilupakan. Ia adalah pengingat bahwa meskipun kebatilan dapat meraih kemenangan sementara, kemenangan hakiki adalah milik mereka yang berdiri dengan kebenaran.

Pertanyaan abadi Karbala terus menghadapi setiap generasi: Ketika kebenaran dan kebatilan berhadapan muka, di mana kita berdiri?

Dan melalui jejak langkah mereka dalam perjalanan menuju Karbala, jutaan peziarah Arbain ini terus memberikan jawabannya.

 

Profesor Abdullahi Danladi adalah anggota Gerakan Islam di Nigeria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *