Utusan: AS Tekan Negara‐negara agar tidak Dukung Resolusi Iran di IAEA

iaea

Tehran, Purna Warta – Duta Besar Iran untuk organisasi internasional di Wina menuduh Amerika Serikat melakukan tekanan politik terhadap negara‐negara agar tidak mendukung sebuah resolusi yang melarang serangan terhadap fasilitas nuklir damai.

Baca juga: Israel Lancarkan Serangan Darat di Kota Gaza

Draf resolusi itu, yang diajukan oleh Iran dan lima negara lainnya ke Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke-69, menyerukan pelarangan segala bentuk serangan atau ancaman terhadap situs nuklir yang berada di bawah Pengamanan IAEA.

Reza Najafi pada Selasa (16 September 2025) mengatakan bahwa AS tidak memiliki argumen yang sah untuk menentang resolusi tersebut, yang berakar pada norma internasional lama, termasuk Resolusi Dewan Keamanan PBB 487, yang mengecam serangan Israel tahun 1981 terhadap reaktor nuklir Irak.

Ia menambahkan bahwa prinsip-prinsip resolusi itu selaras dengan Piagam PBB, Statuta IAEA, dan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), serta sebelumnya telah disetujui dalam konferensi peninjauan NPT.

Najafi juga menyoroti bahwa Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi, meskipun kurang memadai, telah menegaskan bahwa tidak boleh ada serangan dalam kondisi apa pun.

Ia memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas yang menyimpan bahan nuklir dapat menimbulkan dampak bencana terhadap lingkungan dan kesehatan publik.

Resolusi ini muncul setelah agresi AS–Israel terhadap Iran pada bulan Juni lalu, yang menargetkan fasilitas nuklir negara tersebut.

Iran menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklirnya yang berada di bawah pengawasan IAEA telah membahayakan personel, keamanan bahan nuklir, lingkungan, serta kredibilitas rezim non-proliferasi.

Iran telah mencari dukungan internasional untuk resolusi ini, dengan para dutanya mengadakan pertemuan dengan kementerian luar negeri di berbagai ibu kota, serta konsultasi serupa juga berlangsung di Tehran.

Meski terdapat kesepakatan luas mengenai prinsip-prinsip resolusi tersebut, Najafi menyatakan tekanan politik membuat beberapa negara menahan dukungan. Hingga kini, hanya lima negara selain Iran yang telah menyetujui draf tersebut.

Baca juga: Enam Belas Negara Peringatkan Israel agar Tidak Serang Armada Bantuan ke Gaza

Utusan Iran itu menambahkan bahwa masih belum jelas sejauh mana tekanan AS akan memengaruhi hasil pemungutan suara final, yang dijadwalkan berlangsung pada 18 September.

Ia mengatakan bahwa logika menuntut dukungan terhadap resolusi itu, meskipun logika tidak selalu menang dalam politik internasional.

Najafi menyinggung dua tahun kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina, khususnya perempuan dan anak-anak, yang dibiarkan tanpa tanggapan oleh komunitas internasional.

Ia mengkritik sistem internasional pasca-Perang Dunia II yang memusatkan kekuasaan di tangan segelintir negara, dengan menyebut hak veto AS di Dewan Keamanan sebagai penghalang bahkan bagi resolusi gencatan senjata paling dasar.

Iran bersama Belarus, Tiongkok, Rusia, Venezuela, dan Nikaragua telah mengajukan draf resolusi itu ke Konferensi Umum IAEA.

Resolusi tersebut menegaskan perlunya melarang segala bentuk serangan atau ancaman terhadap fasilitas nuklir damai di bawah Pengamanan IAEA, dengan menyatakan bahwa tindakan semacam itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan ancaman bagi perdamaian serta keamanan global.

Konferensi Umum IAEA ke-69 dibuka pada Senin dan akan berlangsung hingga 19 September.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *