Purna Warta – Kelompok peretas Hanzala dalam pengumuman terbarunya menyatakan:
“Kami, tim Hanzala, hari ini memulai tahap baru operasi terhadap Lockheed Martin.”
Baca juga: Juru Bicara Netanyahu Mengundurkan Diri Setelah Rekaman Audio Bocor Mengungkap Kritik Keras
Dalam lanjutan pernyataannya, Hanzala menambahkan bahwa mereka kini telah sepenuhnya mengakses data 28 insinyur senior Amerika yang ditempatkan di wilayah pendudukan dan terlibat dalam proyek-proyek militer. Data tersebut mencakup nama, nomor identitas, paspor, tempat tinggal, serta lokasi penugasan mereka, dan seluruh informasi tersebut diklaim telah diungkap.
Hanzala juga menegaskan bahwa para insinyur tersebut, yang selama bertahun-tahun berperan dalam posisi teknis penting bagi tentara pendudukan, telah terlibat dalam proyek-proyek sensitif seperti pemeliharaan pesawat tempur F-35 dan F-22, serta sistem pertahanan THAAD. Menurut kelompok tersebut, kini kerahasiaan teknis proyek-proyek tersebut telah tersingkap.
Kelompok peretas itu menyatakan bahwa dalam beberapa jam terakhir mereka telah menghubungi sebagian dari para insinyur tersebut untuk menunjukkan betapa rapuhnya penghalang digital. Dari pembicaraan mengenai minat sehari-hari mereka hingga detail kehidupan pribadi, semua itu dilakukan untuk membuktikan bahwa “privasi” hanyalah sebuah istilah dalam buku, bukan kenyataan.
Mereka menyatakan telah memberi tahu para insinyur tersebut tentang alamat tempat tinggal mereka, nama anak-anak mereka, makanan favorit mereka, kegiatan akhir pekan mereka, serta tempat tinggal keluarga mereka di Amerika Serikat.
Menurut Hanzala, para insinyur itu diberi tahu bahwa mereka memiliki waktu terbatas untuk mengubah pilihan mereka dan meninggalkan wilayah yang tidak lagi aman. Kelompok tersebut juga memperingatkan bahwa penundaan dalam mengambil keputusan berarti menyerahkan nasib mereka pada “badai yang telah dimulai”—badai yang bukan berasal dari asap dan api, melainkan dari data dan pengungkapan informasi.
Dalam pernyataan tersebut, Hanzala menegaskan bahwa para insinyur tersebut diberi waktu 48 jam untuk menghentikan kerja sama dengan rezim Zionis dan segera meninggalkan wilayah pendudukan. Jika tidak, rumah mereka akan dijadikan sasaran serangan rudal.
Baca juga: Al-Qassam: Serangan Kuat Iran Merupakan Respons Alami terhadap Pembantaian dan Agresi Zionis–Amerika
Kelompok itu juga menyatakan bahwa mereka memiliki teman-teman di Amerika Serikat yang, menurut mereka, lebih peduli terhadap keluarga para insinyur tersebut daripada para insinyur itu sendiri. Mereka memperingatkan bahwa jika para insinyur tidak kembali ke rumah, maka teman-teman tersebut akan mendatangi keluarga mereka.
Pernyataan itu ditutup dengan seruan:
“Segera pulang ke rumah sekarang.”





