Tehran, Purna Warta – Tim nasional sepak bola Iran menyampaikan terima kasih kepada rakyat Meksiko atas keramahan mereka, sekaligus mempertanyakan keadilan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 dalam sebuah pesan perpisahan yang dirilis menjelang keberangkatan mereka dari Tijuana setelah menjalani turnamen yang penuh emosi.
Pernyataan tersebut, yang dikeluarkan pada jam-jam terakhir keberadaan tim di kota perbatasan Meksiko itu, menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Tijuana atas sambutan hangat yang mereka berikan selama 24 hari tim bermukim di sana. Di saat yang sama, tim kembali mengungkapkan keprihatinan atas perlakuan yang mereka alami sepanjang turnamen.
“Kepada masyarakat Meksiko yang mulia dan warga Kota Tijuana, terima kasih,” demikian bunyi awal pernyataan tersebut.
Tim menyatakan bahwa Meksiko telah menunjukkan bahwa menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan hanya soal stadion dan penjualan tiket.
“Anda telah menunjukkan kepada kami bahwa menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan hanya tentang stadion dan tiket, tetapi juga tentang rasa hormat, kemanusiaan, dan martabat.”
“Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan masyarakat Tijuana. Mulai hari ini, Meksiko bukan hanya negara tuan rumah kami, tetapi juga negara kedua dan tim kedua kami.”
Iran menjalani turnamen dengan bermarkas di Tijuana setelah berbagai persoalan logistik dan penolakan visa oleh Amerika Serikat memaksa tim memindahkan pusat latihan mereka dari kamp yang semula direncanakan di Arizona.
Sejumlah anggota delegasi Iran tidak memperoleh visa Amerika Serikat sehingga tim harus berlatih di Meksiko dan bolak-balik melintasi perbatasan untuk menjalani pertandingan di Amerika Serikat. Dalam dua pertandingan pertama di Los Angeles, Iran secara kontroversial baru diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat hanya satu malam sebelum pertandingan dan diwajibkan kembali ke Meksiko segera setelah laga usai.
Meskipun menghadapi berbagai hambatan tersebut, skuad asuhan Amir Ghalenoei tetap tidak terkalahkan di babak penyisihan grup dengan hasil imbang melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir.
Iran sempat diyakini telah memastikan tiket bersejarah ke babak gugur ketika Shoja Khalilzadeh mencetak gol kemenangan pada masa tambahan waktu melawan Mesir. Namun, gol tersebut kemudian dianulir secara kontroversial karena dinilai offside setelah peninjauan VAR yang berlangsung cukup lama.
Kekecewaan itu semakin mendalam sehari kemudian ketika hasil pertandingan lain membuat Team Melli gagal lolos hanya karena berada satu peringkat di bawah tim-tim peringkat ketiga terbaik yang berhak melaju ke babak berikutnya.
Merefleksikan hasil tersebut, para pemain menyatakan bahwa mereka meninggalkan turnamen dengan rasa bangga, tetapi juga membawa pertanyaan yang belum terjawab.
“Kami meninggalkan Piala Dunia ini dengan penuh kebanggaan, tetapi juga dengan satu pertanyaan serius: apakah semua tim benar-benar menikmati kesempatan dan perlakuan yang setara?”
Para pemain mengatakan bahwa serangkaian keputusan, pengaturan penyelenggaraan, dan berbagai peristiwa selama turnamen telah mengurangi rasa keadilan yang mereka rasakan. Mereka menambahkan bahwa perkembangan yang terjadi pada hari-hari terakhir babak penyisihan grup semakin memperkuat keyakinan tersebut.
“Mungkin suatu hari nanti sejarah akan menilai siapa yang menyambut kehadiran Iran di Piala Dunia ini dan siapa yang lebih memilih agar perjalanan kami berakhir secepat mungkin.”
Tim juga kembali mengangkat tema yang berulang kali mereka sampaikan selama turnamen, yakni bahwa fair play seharusnya bukan sekadar slogan.
“Bagi kami, fair play bukan hanya slogan di papan-papan iklan; itu adalah identitas sepak bola,” tulis para pemain. “Namun Piala Dunia ini menunjukkan bahwa masih ada jarak yang sangat besar antara slogan yang indah dan tindakan yang sungguh-sungguh.”
Iran menyatakan bahwa mereka meninggalkan Tijuana dengan keyakinan bahwa dunia telah menyaksikan baik berbagai kesulitan yang dialami tim nasional mereka maupun keteguhan mereka dalam menghadapinya.
“Kami meninggalkan Tijuana dengan keyakinan bahwa dunia telah melihat ketidakadilan yang dialami sepak bola Iran sekaligus kekuatan sebuah bangsa yang, di tengah segala kesulitan, tidak pernah menukar kehormatan dan martabatnya.”
Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa pihak-pihak yang merayakan tersingkirnya Iran adalah orang-orang yang sebelumnya juga bersukacita atas penderitaan dan kematian warga Iran. Menurut tim, hal itu menunjukkan “perbedaan cara manusia memandang nilai kemanusiaan.”
Sebagai penutup, para pemain mengalihkan pembahasan dari sepak bola menuju sejarah. Mereka menyatakan bahwa Piala Dunia dan para penyelenggaranya akan datang dan pergi, tetapi peradaban akan tetap bertahan.
“Piala Dunia akan berakhir. Para penyelenggara akan berganti. Namun peradaban seperti Iran, Mesir, dan Meksiko, yang dibangun di atas kebenaran, rasa hormat, dan martabat manusia, akan tetap bertahan sepanjang sejarah.”
“Hasil pertandingan adalah bagian dari sejarah sepak bola, tetapi kehormatan bangsa-bangsa merupakan bagian dari sejarah kemanusiaan.”


