Syahid Nasrallah dalam Pandangan Pemimpin Revolusi: Dari “Saudara Tercinta” hingga “Permata Cemerlang Lebanon”

Rahbar

Tehran, Purna Warta – Selama tiga dekade terakhir, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran telah menggunakan berbagai istilah penuh penghormatan ketika berbicara tentang Syahid Sayyid Hassan Nasrallah. Dari sebutan awalnya sebagai “saudara yang tercinta dan pantas”, hingga penyifatan beliau sebagai “manusia tiada banding” di tahun-tahun akhir hidupnya, dan akhirnya “permata cemerlang Lebanon” setelah syahidnya, seluruh ungkapan ini menegaskan bahwa Sayyid Hassan Nasrallah merupakan aset berharga bagi dunia Islam sekaligus pembawa panji sebuah aliran pemikiran dan perjuangan melawan sistem hegemoni.

Baca juga: Hamas Peringati Hari Syahid Pemimpin Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrallah

Sejak awal kepemimpinan Sayyid Hasan Nasrallah di Hizbullah Lebanon, Ayatollah Khamenei menunjukkan rasa percaya dan kasih sayang yang istimewa kepadanya. Hanya sehari setelah penunjukan beliau sebagai Sekretaris Jenderal (3 Maret 1992), Pemimpin Revolusi menegaskan dalam sebuah pertemuan:
“Tanggung jawab ini kini berada di pundak Anda, saudara tercinta kami – Tuan Sayyid Hassan Nasrallah… Kami selalu menyayangi Anda dengan sepenuh hati dan menilai Anda layak. Kami memuji Allah atas pilihan yang baik ini.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa sejak awal, Pemimpin Revolusi telah mengakui kapasitas dan kelayakan pemimpin muda perlawanan Lebanon itu, serta menilainya sebagai penerus sejati Syahid Sayyid Abbas Mousavi.

Peran dalam Kemenangan Besar

Di bawah kepemimpinan Sayyid Hassan Nasrallah, Hizbullah Lebanon mencapai pencapaian bersejarah yang tercermin jelas dalam ucapan Pemimpin Revolusi. Setelah pembebasan Lebanon Selatan pada Juli 2000, Ayatollah Khamenei dalam pertemuan dengan Sekjen Hizbullah menggambarkan kelahiran Hizbullah di jantung kawasan yang berdekatan dengan rezim Zionis sebagai “ciptaan Ilahi” yang mampu menundukkan musuh yang sebelumnya tampak tak terkalahkan.

Beliau juga menyinggung pengaruh regional Sayyid Hasan Nasrallah. Dalam pidato Mei 2001, Pemimpin Revolusi menyebutkan bahwa para demonstran Palestina mengangkat gambar pemimpin Hizbullah tersebut dan mengibarkan bendera Hizbullah di atas kubah Masjid al-Aqsa, menjadikannya teladan bagi para pemuda Palestina. Fenomena ini menunjukkan bahwa pribadi Sayyid Hassan Nasrallah dan kemenangan perlawanan Lebanon telah melampaui batas geografis dan menginspirasi pejuang di seluruh dunia Islam.

Puncak kiprah medan tempur Sayyid Hassan Nasrallah adalah kepemimpinannya dalam Perang 33 Hari (Juli–Agustus 2006), yang mendapatkan sorotan luas dari Pemimpin Revolusi. Di tengah perang yang tidak seimbang itu, Ayatollah Khamenei dalam sebuah pesan pasca tragedi Qana menyebut Hizbullah sebagai “garis depan pembela umat Islam”, mengirimkan salam khusus kepada “pemimpin Arab yang berani dan beriman”, Sayyid Hassan Nasrallah.

Baca juga: Jihad Islami: Rencana Gaza Trump-Netanyahu Dimaksudkan untuk Melanggengkan Agresi terhadap Palestina

Pasca perang, Pemimpin Revolusi kembali mengirimkan pesan untuk mengucapkan selamat atas kemenangan bersejarah perlawanan. Beliau menulis kepada Sayyid Hasan Nasrallah:
“Apa yang Anda hadiahkan kepada umat Islam melalui jihad dan perlawanan luar biasa Anda, berada di luar kemampuan saya untuk menggambarkannya.”
Beliau menegaskan bahwa jihad penuh keberanian dan keikhlasan itu sekali lagi membuktikan bahwa senjata modern nan mematikan tidak berdaya di hadapan iman, kesabaran, dan ketulusan.

Dalam pertemuan dengan delegasi Lebanon pada November 2006, Ayatollah Khamenei menggambarkan sosok Sayyid Hassan Nasrallah sebagai “sosok istimewa di dunia Islam,” sebuah ungkapan yang mencerminkan kedudukan uniknya di tengah umat Muslim pasca Perang 33 Hari.

Oleh: Mohammad Sadegh Daneshjoo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *