Tehran, Purna Warta – Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap serangan terhadap aset minyak dan gas Iran akan dibalas dengan serangan terhadap kepentingan energi Amerika di seluruh kawasan.
Qalibaf menyampaikan peringatan keras tersebut dalam sebuah unggahan di X pada Senin, sebagai tanggapan terhadap ancaman terbaru Menteri Perang AS Pete Hegseth, yang mengklaim bahwa armada kapal tanker minyak Iran “tidak memiliki pertahanan” dan bahwa pesawat, kapal, serta kapal selam Amerika dapat menyerang seluruh kapal tersebut.
Pejabat tinggi parlemen Iran itu mengatakan perusahaan-perusahaan minyak dan gas AS yang beroperasi di seluruh kawasan, beserta fasilitas-fasilitas terkait, berada dalam jangkauan Iran. Ia memperingatkan, “Serang aset kami, dan Anda akan diserang.”
“Sederhana saja: rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, dapat dijangkau, dan terbuka terhadap serangan.”
Qalibaf mengatakan Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk memberikan respons yang setimpal, seraya menegaskan, “Tanyakan kepada pangkalan-pangkalan yang kini sudah tidak dapat digunakan.”
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Tehran dan Washington terkait Selat Hormuz.
Iran telah membatasi transit melalui Selat Hormuz sejak hari-hari awal perang agresi AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari dan berakhir dengan gencatan senjata pada awal April, setelah perlawanan berani dan operasi pembalasan yang berhasil dilakukan Republik Islam Iran.
Pada 17 Juni, Tehran dan Washington menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang dimediasi Pakistan. Pasal 5 MoU tersebut menempatkan tanggung jawab untuk membuka kembali dan mengelola selat tersebut sepenuhnya di tangan Iran.
Namun, AS berupaya merusak kedaulatan Iran atas jalur strategis energi global tersebut dengan membangun koridor yang tidak aman di dekat pesisir Oman. AS juga kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran dan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap negara tersebut, yang dinilai melanggar kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Langkah-langkah ilegal AS tersebut mendorong Iran untuk menyatakan Selat Hormuz ditutup bagi seluruh lalu lintas pelayaran.
Republik Islam Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut bergantung pada kepatuhan AS terhadap kewajibannya berdasarkan MoU.


