Sepuluh Orang Terluka dalam Kembali Pecahnya Pertempuran antara Pasukan Druze dan HTS di Sweida, Suriah

injured

Damaskus, Purna Warta – Sedikitnya sepuluh anggota bersenjata yang berafiliasi dengan rezim Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) yang berkuasa, terluka setelah terlibat dalam baku tembak sengit dengan anggota kelompok Druze lokal di Provinsi Sweida, wilayah selatan Suriah yang masih dilanda gejolak.

Media-media lokal, dengan mengutip apa yang disebut Komando Keamanan Internal di provinsi tersebut, melaporkan bahwa pasukan HTS menjadi sasaran serangan di dekat desa al-Mansoura, Walgha, dan Tall Hadid pada Senin malam.

Menurut laporan, pertempuran kembali pecah antara apa yang disebut pasukan Garda Nasional Druze yang dipimpin Sheikh Hikmat al-Hijri, seorang pemimpin agama Druze, dan pasukan HTS yang berafiliasi dengan mantan komandan al-Qaeda sekaligus presiden yang mengaku sebagai pemimpin negara Arab tersebut, Abu Mohammad al-Jolani. Pertempuran terjadi setelah dua warga sipil tewas dalam bentrokan serupa di sebelah barat Kota Sweida.

Seorang sumber keamanan Druze yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sebuah peluru yang ditembakkan pada Minggu dari wilayah yang dikuasai militan HTS “menargetkan pinggiran Kota Sweida, mengenai sebuah traktor dan menewaskan dua orang yang berada di dalamnya, yaitu pengemudi dan seorang perempuan yang bersamanya.”

Apa yang disebut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan dalam sebuah laporan bahwa pasukan HTS dan kelompok-kelompok bersenjata Druze lokal telah terlibat dalam pertempuran sengit sejak Sabtu malam.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin malam, Garda Nasional Druze menuduh militan yang terkait dengan HTS “menembakkan sejumlah mortir dan senapan mesin 23 mm secara membabi buta… dengan tujuan mencelakai warga sipil,” seraya menambahkan bahwa seorang anak terluka akibat serangan tersebut.

Kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka “merespons sumber-sumber tembakan dengan cara yang sesuai.”

Kelompok-kelompok hak asasi manusia dan warga setempat mengatakan bahwa pemerintahan HTS telah memperuncing perpecahan sektarian dan memicu gelombang kekerasan di berbagai provinsi di Suriah.

Sweida menjadi salah satu wilayah yang mengalami insiden paling mematikan. Provinsi tersebut dilanda bentrokan berdarah selama sepekan yang dimulai pada 13 Juli, dengan perkiraan jumlah korban tewas berkisar antara 814 hingga 1.653 orang.

Sebagian besar korban adalah warga Druze, meskipun belum jelas berapa banyak di antara mereka yang merupakan warga sipil dan berapa yang merupakan pejuang.

Kekerasan tersebut merupakan bagian dari pola kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah Suriah sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris melaporkan hampir 11.000 warga sipil tewas sejak faksi-faksi militan yang dipimpin HTS merebut kekuasaan pada Desember 2024.

Lembaga tersebut mendokumentasikan berbagai pelanggaran secara luas, termasuk eksekusi di lapangan, penyiksaan, penculikan, dan serangan secara membabi buta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *