Afghanistan Lima Tahun Setelah Kembalinya Taliban: Reruntuhan dari Perang Terpanjang dan Paling Bencana Amerika

Afghanistan

Oleh Syed Zafar Mehdi

Purna Warta – Lima tahun lalu, sekitar waktu yang sama, Taliban menguasai Kabul, mengakhiri secara dramatis perang terpanjang dan paling bencana yang pernah dijalankan Amerika Serikat setelah berlangsung hampir dua dekade.

Gambar-gambar dari hari-hari terakhir tersebut tetap menjadi salah satu simbol paling melekat dari sebuah intervensi militer yang gagal dan mahal: warga Afghanistan yang putus asa berdesakan di Bandara Kabul, pesawat-pesawat Amerika mengevakuasi personel dalam kondisi kacau, dan para pejuang Taliban memasuki ibu kota ketika pemerintahan boneka yang dibentuk dan didanai Washington runtuh hampir dalam semalam.

Satu foto menangkap momen tersebut dengan kejelasan yang nyaris sinematis. Mayor Jenderal Chris Donahue, tentara Amerika terakhir yang meninggalkan Afghanistan, tampak sebagai siluet di tengah kegelapan saat menaiki pesawat militer di Bandara Kabul pada 30 Agustus 2021.

Gambar itu menjadi simbol sebuah imperium yang sedang sekarat dan pergi dengan cara yang memalukan, sekaligus menegaskan apa yang terus diulang oleh masyarakat setempat: Afghanistan telah menjadi kuburan bagi imperium-imperium terkuat dalam sejarah.

Amerika Serikat menginvasi dan menduduki Afghanistan hampir dua dekade sebelumnya dengan kekuatan militer yang luar biasa, seraya menyatakan bahwa mereka akan menghancurkan al-Qaeda dan Taliban serta membawa Osama bin Laden, yang disebut sebagai dalang serangan 11 September, ke pengadilan.

Namun, setelah 20 tahun pendudukan militer yang brutal, pengeluaran triliunan dolar, dan penderitaan manusia yang sangat besar akibat kejahatan perang mengerikan yang dilakukan koalisi pimpinan AS, para penjajah tidak berhasil mencapai penyelesaian politik maupun melenyapkan kekuatan yang sebelumnya mereka berjanji akan kalahkan.

Taliban, yang sebagian besar hanya dipersenjatai dengan senjata ringan dan mengandalkan perang gerilya, mampu bertahan menghadapi kekuatan penuh aliansi militer terkuat di dunia. Afghanistan sekali lagi membuktikan mengapa negara tersebut mendapat julukan historis yang suram: “kuburan bagi imperium-imperium.”

Perang yang Dimulai dengan Balas Dendam dan Berakhir dengan Kekalahan

Invasi Amerika dimulai pada 7 Oktober 2001, kurang dari sebulan setelah serangan 11 September yang menewaskan 2.977 orang di Amerika Serikat. Washington menggambarkan petualangan militer yang gegabah tersebut sebagai pertempuran pembuka dalam apa yang disebut sebagai “perang global melawan terorisme”.

Presiden George W. Bush berjanji akan menghancurkan al-Qaeda dan Taliban yang, menurutnya, telah memberikan perlindungan kepada para perencana serangan 11 September. Serangan awal tersebut sangat menghancurkan. Posisi-posisi Taliban runtuh dengan cepat, dan kelompok tersebut berhasil disingkirkan dari kekuasaan hanya dalam beberapa minggu.

Seharusnya, itulah saat bagi Washington untuk mengevaluasi kembali misinya dan menarik diri. Namun, Amerika justru tetap bertahan karena kompleks industri-militer AS ingin mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat Afghanistan. Mesin perang Amerika berkembang melalui perang-perang di luar negeri.

Apa yang awalnya disebut sebagai operasi “kontraterorisme” secara bertahap berkembang menjadi proyek pendudukan yang luas. Washington mengklaim bahwa misinya adalah mencegah terorisme, tetapi pada saat yang sama menciptakan struktur pemerintahan yang menjadi resep menuju kegagalan karena negara tersebut semakin bergantung pada dukungan militer, keuangan, dan politik Amerika Serikat.

Tujuan yang lebih luas adalah mempertahankan Afghanistan agar tetap tunduk secara politik dan strategis kepada Washington serta mencegah negara tersebut berkembang menjadi negara yang benar-benar merdeka.

Hamid Karzai, yang dipilih sebagai presiden pertama Afghanistan setelah penggulingan Taliban, pada awalnya digambarkan sebagai sosok kesayangan koalisi pimpinan AS, mitra Afghanistan yang dianggap tepat untuk memberikan legitimasi kepada sebuah proyek yang dirancang dan diarahkan dari Washington.

Pada tahun-tahun berikutnya, ketika Karzai semakin menyadari berbagai pembatasan terhadap kedaulatan Afghanistan dan sejauh mana pemerintahan di Kabul dijadikan alat untuk melayani kepentingan strategis Amerika Serikat yang lebih luas, ia semakin sering mengkritik para pendukungnya terdahulu.

Washington mengklaim sedang membangun Afghanistan yang berdaulat dan demokratis, tetapi pada saat yang sama menjalankan pengaruh besar terhadap institusi politik, aparat keamanan, dan jalur kehidupan ekonomi negara tersebut—bahkan turut menentukan siapa yang akan memerintah Afghanistan dan dalam kapasitas apa.

Penarikan yang Kacau, Perang yang Kalah

Konsekuensinya sebenarnya dapat diprediksi. Kesepakatan antara pemerintahan Trump dan Taliban pada 29 Februari 2020 akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini enggan diakui oleh pemerintahan-pemerintahan AS sebelumnya: tidak ada kemenangan militer yang dapat diraih. Kesepakatan tersebut membuka jalan bagi penarikan pasukan Amerika, meskipun jadwalnya kemudian diubah oleh Presiden Joe Biden.

Pada 14 April 2021, Biden mengumumkan bahwa pasukan Amerika akan meninggalkan Afghanistan. Pada musim panas, para pejuang Taliban bergerak maju dengan cepat ke seluruh negeri. Ibu kota-ibu kota provinsi jatuh satu demi satu, sementara pasukan pemerintah Afghanistan, meskipun telah menerima pelatihan selama bertahun-tahun dan bantuan militer bernilai miliaran dolar, sering kali hanya memberikan sedikit perlawanan.

Ashraf Ghani, presiden yang didukung Amerika Serikat, melarikan diri dari negara itu bersama keluarga dan para pembantu dekatnya. Institusi-institusi pemerintahan runtuh. Pasukan keamanan Afghanistan tercerai-berai. Ribuan warga Afghanistan yang putus asa kemudian bergegas menuju Bandara Kabul untuk mendapatkan penerbangan keluar dari negara tersebut.

Perang yang dilancarkan Amerika Serikat 20 tahun sebelumnya dengan kekuatan militer yang sangat besar berakhir dengan evakuasi yang panik. Negara tersebut kembali diserahkan kepada Taliban, kelompok yang sebelumnya ingin dilenyapkan oleh mesin perang Amerika.

Kekalahan besar Amerika di Afghanistan tidak dapat dijelaskan hanya melalui taktik tempur Taliban. Kegagalan yang lebih mendalam bersifat politik. Selama dua dekade, Washington mengklaim telah membangun sebuah negara dan pemerintahan yang mampu bertahan setelah pelindung asingnya pergi.

Negara Afghanistan dilemahkan oleh korupsi yang merajalela, faksionalisme politik, ketergantungan terhadap bantuan asing, serta pemberdayaan para panglima perang dan tokoh-tokoh kuat di tingkat lokal. Pada saat yang sama, operasi militer AS dan NATO di berbagai wilayah negara berulang kali menimbulkan korban sipil dan menciptakan kemarahan serta kebencian yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh Taliban.

Catatan Kejahatan Perang AS

Serangan udara dan operasi penyerbuan pada malam hari menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak komunitas Afghanistan. Pembunuhan warga sipil dilaporkan terjadi setelah hampir setiap operasi Amerika di berbagai wilayah negara tersebut, termasuk pengeboman tahun 2008 di Afghanistan barat, pertempuran tahun 2009 di Provinsi Farah, dan serangan udara AS pada tahun 2015 terhadap rumah sakit Doctors Without Borders di Kunduz, serta banyak insiden lainnya.

Insiden-insiden tersebut bukan sekadar bencana hubungan masyarakat yang berdiri sendiri. Rakyat Afghanistan menyadari bahwa pasukan pendudukan asing sedang memaksakan kehendaknya atas negara tersebut dengan kekejaman yang brutal.

Amerika Serikat juga sangat bergantung pada sekutu-sekutu lokal yang terkenal buruk reputasinya, termasuk para panglima perang dan komandan milisi yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia serius. Alih-alih menghilangkan kondisi yang telah membantu memicu pemberontakan, Washington justru memberdayakan aktor-aktor yang perilakunya semakin memperdalam ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan di Kabul.

Taliban tidak perlu meyakinkan setiap warga Afghanistan bahwa sistem mereka sendiri adalah sistem yang ideal. Mereka hanya perlu meyakinkan cukup banyak orang bahwa alternatif yang ada tidak dapat lagi diterima. Itulah salah satu kegagalan strategis mendasar Amerika, dan sebagai akibatnya, pemerintahan Ghani yang didukung AS di Kabul runtuh bahkan sebelum Taliban perlu melepaskan satu tembakan pun.

Jatuhnya Kabul secara dramatis juga memperlihatkan rapuhnya pemerintahan yang selama bertahun-tahun ditopang oleh Washington. Pelarian Ghani menjadi salah satu episode paling memalukan dalam proses keruntuhan tersebut. Ia sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa dirinya tidak akan meninggalkan negaranya dan secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa pasukan Afghanistan mampu menahan laju Taliban.

Namun, ketika Kabul akhirnya berada di ambang kejatuhan, ia pergi. Karzai kemudian mengatakan bahwa kepergian Ghani yang mendadak dan tanpa pemberitahuan telah mengganggu upaya untuk merundingkan penyelesaian politik dengan Taliban. Menurut keterangan sejumlah pejabat Afghanistan, pembicaraan mengenai kemungkinan pembagian kekuasaan sedang berlangsung ketika Taliban mendekati ibu kota.

Apa pun keadaan persisnya, keruntuhan politik tersebut terjadi dengan kecepatan yang sangat mengejutkan. Tidak seorang pun benar-benar siap menghadapinya.

Pemerintahan Afghanistan bukan hanya kalah dalam perang, tetapi juga kehilangan kepercayaan dari berbagai institusi yang seharusnya menopangnya. Hal itu menimbulkan pertanyaan mendasar: apa sebenarnya yang telah dicapai oleh dua dekade pendudukan militer Amerika Serikat?

Amerika Serikat telah melatih ratusan ribu personel keamanan Afghanistan, menghabiskan dana yang sangat besar untuk peralatan militer, dan mengucurkan miliaran dolar untuk rekonstruksi. Namun, begitu payung perlindungan militer asing menghilang, seluruh struktur tersebut runtuh dengan kecepatan yang luar biasa.

Jawabannya memang tidak nyaman, tetapi tidak dapat dihindari: Washington telah membangun sebuah negara Afghanistan yang sangat bergantung, dan secara sengaja dibuat bergantung, kepada Washington.

Biaya Kemanusiaan dari “Perang Melawan Teror”

Konsekuensi invasi dan pendudukan Amerika Serikat di Afghanistan yang berlangsung selama dua dekade jauh melampaui medan perang.

Warga sipil Afghanistan mengalami dua dekade serangan udara AS dan NATO, operasi penyerbuan brutal pada malam hari, pembunuhan berdarah dingin, pengungsian, kemiskinan, serangan kelompok militan, korupsi, dan ketidakstabilan politik. Taliban juga melakukan pelanggaran berat, demikian pula kelompok teroris Daesh.

“Perang melawan teror” yang penuh ilusi tersebut menghasilkan sebuah paradoks yang seharusnya terus menghantui para pembuat kebijakan Amerika: terorisme seharusnya diberantas, tetapi dua dekade kemudian al-Qaeda masih tetap hadir dan Daesh telah membangun pijakan yang kuat di Afghanistan.

Bom bunuh diri di Bandara Kabul pada Agustus 2021, yang menewaskan lebih dari 170 warga Afghanistan dan 13 personel militer AS, menjadi gambaran yang sangat kelam dari kegagalan luar biasa tersebut.

Amerika mengklaim telah menghabiskan 20 tahun untuk memerangi “terorisme” di Afghanistan, tetapi pada akhirnya meninggalkan sebuah negara tempat kelompok-kelompok teroris masih mampu melancarkan serangan dahsyat ketika proses evakuasi Amerika berlangsung. Begitulah “keberhasilan” misi selama 20 tahun tersebut.

Upaya Mahkamah Pidana Internasional untuk menyelidiki kejahatan perang mengerikan yang dilakukan AS dan sekutu-sekutunya di Afghanistan juga menghadapi penolakan keras dari Amerika Serikat. Pelajaran yang lebih besar sulit untuk diabaikan: para penjajah asing dapat membunuh warga sipil, menghancurkan infrastruktur, dan menggulingkan pemerintahan, tetapi mereka tidak dapat begitu saja menciptakan institusi politik yang sah, mendamaikan kelompok-kelompok masyarakat yang bersaing, atau membangun kepercayaan publik.

Lima Tahun Kemudian, Afghanistan Masih Berada dalam Krisis

Kembalinya Taliban secara dramatis tidak menyelesaikan berbagai persoalan berat yang selama ini dihadapi Afghanistan. Lima tahun berlalu, negara yang hancur akibat perang tersebut masih menghadapi tantangan ekonomi dan kemanusiaan yang serius, yang sebagian besar didorong oleh sanksi Amerika Serikat dan penyitaan aset Afghanistan.

Kemiskinan masih meluas, tingkat pengangguran tinggi, dan sistem keuangan Afghanistan tetap rapuh. Jutaan warga Afghanistan masih bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Keputusan komunitas internasional untuk membekukan aset Afghanistan dan menjatuhkan sanksi setelah Taliban mengambil alih kekuasaan semakin memperparah krisis ekonomi. Washington juga membekukan miliaran dolar cadangan bank sentral Afghanistan, yang memicu protes di dalam maupun di luar Afghanistan.

Warga Afghanistan yang melarikan diri lima tahun lalu kini tersebar di berbagai penjuru dunia. Banyak di antara mereka masih hidup dalam ketidakpastian sambil menunggu suaka atau pemukiman kembali. Sementara itu, Amerika Serikat meninggalkan ribuan warga Afghanistan yang selama dua dekade telah bekerja bersama militernya, tanpa memenuhi janji kepada mereka yang telah membantu AS dan sekutunya. Banyak warga Afghanistan yang mendukung pasukan NATO-ISAF terdampar di negara-negara tetangga, terutama Pakistan, tanpa jalur yang jelas menuju keselamatan atau pemukiman kembali.

Namun, catatan Afghanistan setelah 2021 juga mencakup sejumlah perkembangan di beberapa bidang yang patut diakui. Taliban telah secara signifikan mengurangi budidaya opium setelah memberlakukan larangan nasional terhadap produksi narkotika. Penurunan budidaya tersebut merupakan perkembangan penting dalam upaya internasional memerangi narkotika.

Bagi Iran, yang memiliki perbatasan panjang dengan Afghanistan dan secara historis sangat terdampak oleh perdagangan narkotika, persoalan tersebut memiliki arti yang sangat penting. Tehran berulang kali menyerukan peningkatan kerja sama dengan Kabul dalam memerangi perdagangan narkoba.

Taliban juga memimpin penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa bentuk korupsi yang sebelumnya menjadi ciri tatanan politik lama, ketika lembaga-lembaga AS menoleransi dan mendorong praktik-praktik korup sebagai sarana untuk mempertahankan pengaruh terhadap institusi-institusi lokal.

Namun, semua itu tidak dapat membenarkan pemerintahan otoriter Taliban ataupun pembatasan keras yang mereka terapkan terhadap hak-hak fundamental, khususnya penolakan terhadap hak pendidikan perempuan dan anak perempuan. Dikeluarkannya perempuan dan anak perempuan dari sekolah dan universitas tetap menjadi salah satu aspek paling mengkhawatirkan dari pemerintahan Taliban dan telah mendapat kecaman luas dari masyarakat internasional.

Tantangan politik terbesar Taliban tetaplah persoalan pengakuan internasional. Taliban masih terisolasi karena perlakuannya terhadap perempuan dan anak perempuan, pembatasan kebebasan sipil, serta kebijakan politik yang eksklusif. Apa pun pencapaian mereka dalam meningkatkan keamanan atau membatasi perdagangan narkotika, penolakan terhadap pendidikan anak perempuan tetap menjadi hambatan utama bagi normalisasi hubungan internasional.

Pada saat yang sama, kebijakan internasional terhadap Kabul perlahan-lahan mulai berubah. Pengakuan Rusia terhadap pemerintahan Taliban merupakan perubahan diplomatik yang signifikan, sementara Tiongkok, Qatar, dan Uni Emirat Arab tetap menjalin hubungan dengan Kabul.

Hal ini bukan berarti Taliban telah memperoleh legitimasi internasional secara luas. Artinya, dunia mulai mengakui sebuah realitas praktis: Taliban memegang kekuasaan, dan Afghanistan tidak dapat dipahami ataupun distabilkan tanpa berhubungan dengan mereka.

Isolasi saja kemungkinan tidak akan mampu mengubah Afghanistan. Namun, keterlibatan tidak boleh berarti mengorbankan tuntutan terhadap hak-hak dasar. Komunitas internasional harus menemukan jalan tengah yang sulit antara normalisasi tanpa syarat dan isolasi tanpa hasil.

Pelajaran Sesungguhnya dari Afghanistan

Peringatan lima tahun kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan tidak seharusnya hanya dijadikan ajang perayaan oleh Taliban ataupun kecaman terhadap rakyat Afghanistan. Momen ini seharusnya menjadi kesempatan untuk mengkaji secara jujur dan kritis kegagalan intervensi asing di Afghanistan.

Afghanistan pada awalnya diserang karena Washington percaya bahwa kekuatan militer yang luar biasa dapat menyelesaikan persoalan yang pada dasarnya bersifat politik. Dua puluh tahun kemudian, gerakan Taliban yang sama kembali berada di Kabul—dan lima tahun setelah itu, mereka masih berkuasa.

Amerika Serikat memiliki satelit, rudal, drone, pesawat pembom, pasukan khusus, dan jaringan intelijen paling canggih di dunia, yang didukung oleh kekuatan militer negara-negara NATO. Taliban tidak memiliki satu pun dari semua itu. Namun, mereka mampu bertahan lebih lama daripada aliansi militer paling kuat di dunia.

Mengapa? Karena perang tidak dimenangkan hanya dengan keunggulan teknologi. Perang dimenangkan melalui legitimasi politik, kejelasan strategi, dan pemahaman terhadap masyarakat tempat perang berlangsung. Washington tidak pernah memberikan jawaban yang meyakinkan atas pertanyaan paling mendasar: sebenarnya Afghanistan hendak dijadikan seperti apa melalui perang agresi tersebut?

Apakah ini misi kontraterorisme? Perang melawan Taliban? Proyek pembangunan demokrasi? Kampanye untuk hak-hak perempuan? Upaya membendung rival-rival regional? Ataukah pada akhirnya merupakan proyek pendudukan yang berakhir dengan kegagalan strategis yang spektakuler?

Dua puluh tahun perang yang sembrono tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan, dan kembalinya Taliban ke Kabul lima tahun lalu memperlihatkan konsekuensi dari kegagalan tersebut.

Sejarah Afghanistan dipenuhi reruntuhan ambisi asing—mulai dari Alexander Agung dan Imperium Inggris hingga Uni Soviet dan akhirnya Amerika Serikat. Negara tersebut telah menanggung dampak bom-bom dahsyat, sanksi, pengungsian, kehancuran ekonomi, dan pergolakan politik yang ditinggalkan oleh berbagai intervensi asing secara berturut-turut.

Karena itu, pelajaran utama dari kegagalan Amerika di Afghanistan bukanlah bahwa Afghanistan secara unik mustahil untuk diperintah. Pelajarannya adalah bahwa bahkan negara-negara paling kuat di dunia tidak dapat selamanya memaksakan solusi politik kepada masyarakat yang tidak mereka pahami dan yang tidak benar-benar mereka percayai.

Amerika meninggalkan perekonomian yang kesulitan di bawah beban perang dan sanksi, jutaan warga Afghanistan yang terusir dari tempat tinggal mereka, serta sistem politik yang runtuh secara dramatis. Oleh karena itu, kembalinya Taliban menghadirkan dua kisah sekaligus. Bagi Taliban, itu merupakan kemenangan atas pendudukan asing. Bagi Afghanistan, itu adalah babak lain dalam sejarah panjang peperangan. Dan bagi Amerika Serikat, itu merupakan sebuah pertanggungjawaban strategis—sebuah kegagalan dalam skala yang sangat besar.

Lima tahun kemudian, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Taliban layak dipuji atau dikecam. Taliban layak diawasi dan dikritisi, sebagaimana pemerintahan mana pun. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah dunia telah belajar sesuatu dari bencana yang ditimpakan Amerika Serikat kepada Afghanistan selama 20 tahun yang panjang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *