Sedikitnya 29 Tewas dalam Gelombang Baru Serangan Israel di Lebanon

Lebanon

Lebanon, Purna Warta – Asap membubung setelah serangan Israel terhadap sebuah target di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan, pada 20 Juni 2026.

Sedikitnya 29 orang tewas dalam gelombang terbaru serangan Israel di Lebanon yang menyasar wilayah Lebanon selatan dan Lembah Bekaa bagian timur, hanya sehari setelah gencatan senjata diumumkan.

Badan Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan bahwa serangkaian serangan Israel di Distrik Nabatieh pada Sabtu menewaskan 16 orang dan melukai 12 lainnya.

Lembaga tersebut menambahkan bahwa personelnya telah bekerja sejak fajar untuk menangani dampak serangan yang terus berlangsung.

Sebuah serangan udara Israel terhadap Desa Barish di kawasan pesisir Tyre menewaskan empat anggota satu keluarga. Kantor Berita Nasional Lebanon (National News Agency) menggambarkan insiden tersebut sebagai sebuah “pembantaian”.

Selain itu, NNA melaporkan bahwa sedikitnya tujuh orang tewas dan 13 lainnya terluka akibat serangan Israel terhadap sebuah desa di dekat Kota Sidon.

Seorang warga lainnya tewas di Munisipalitas Shahour di Distrik Tyre, sementara satu korban jiwa lainnya dilaporkan di Kota Sohmor yang terletak di Bekaa Barat, Lebanon timur.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui platform X, militer Lebanon mengumumkan bahwa seorang perwiranya tewas akibat serangan udara Israel di Jalan Kfar Rumman–Nabatieh.

Militer Lebanon menegaskan bahwa “semakin jelas bahwa serangan brutal Israel yang terus berlanjut bertujuan menghambat setiap upaya penyelesaian yang dapat memulihkan stabilitas di Lebanon.”

Sebagai tanggapan, militer Israel menyatakan bahwa mereka menargetkan Hizbullah setelah terjadi serangan proyektil terhadap pasukan Israel yang ditempatkan di Lebanon selatan pada malam hari.

Hizbullah menyatakan bahwa para pejuangnya terlibat pertempuran dengan pasukan Israel pada malam sebelumnya ketika pasukan tersebut berusaha menyusup ke perbukitan strategis yang mengawasi wilayah Nabatieh.

Dalam pernyataannya, Hizbullah mengatakan bahwa “sekali lagi, dengan berlindung di balik gencatan senjata, musuh berusaha menyusup ke Perbukitan Ali Taher tadi malam.” Kelompok itu menambahkan bahwa para pejuangnya menyergap pasukan Israel dan menghadapi mereka dengan persenjataan yang sesuai.

Sementara itu, anggota parlemen Lebanon dari sayap politik Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengatakan pada Sabtu bahwa kelompok tersebut memiliki “hak penuh” untuk membalas serangan Israel. Menurutnya, gencatan senjata tidak akan memiliki arti selama Israel masih menduduki wilayah Lebanon.

Ia menegaskan bahwa Israel harus sepenuhnya mematuhi perjanjian gencatan senjata dengan menghentikan serangan terhadap wilayah Lebanon dan tidak merebut posisi-posisi baru.

“Perlawanan memiliki hak penuh untuk menghadapi musuh ini ketika mereka menyerang kami, karena merekalah pihak agresor dan pendudukan,” ujarnya.

MSF: Situasi di Nabatieh Seperti “Jebakan Maut”

Di sisi lain, organisasi medis internasional Médecins Sans Frontières menyatakan bahwa situasi di wilayah Nabatieh yang terus menjadi sasaran serangan Israel menyerupai sebuah “jebakan maut”.

Sejak tengah malam Jumat, Israel meningkatkan serangannya terhadap Nabatieh dan sejumlah wilayah lain di Lebanon selatan, bertepatan dengan rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss yang bertujuan merampungkan kesepakatan perdamaian sementara.

Menurut pejabat kesehatan Lebanon, sedikitnya 50 orang, termasuk seorang prajurit, tewas dalam serangan-serangan terbaru tersebut.

MSF melaporkan bahwa mereka sedang menangani lonjakan korban dari serangan di Nabatieh, termasuk paramedis yang terluka saat menjalankan operasi penyelamatan.

Organisasi kemanusiaan itu juga memperingatkan bahwa banyak korban yang masih terjebak di bawah gempuran hebat belum dapat dievakuasi karena tingginya risiko serangan lanjutan terhadap tim penyelamat.

“Para korban datang dengan cedera kepala berat, pendarahan serius, luka akibat pecahan proyektil, dan sejumlah kasus yang memerlukan amputasi,” kata Pierre Boulet-Desbareau.

Ia menambahkan, “Situasi saat ini di Nabatieh sangat katastrofik. Apa yang disaksikan tim kami menyerupai jebakan maut. Warga sipil terjebak di bawah pemboman berat sementara tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka dengan aman. Warga sipil dan petugas pertolongan pertama harus dilindungi, dan akses segera tanpa hambatan bagi tim penyelamat sangat dibutuhkan.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *