Washington, Purna Warta – Sebuah laporan dari surat kabar The Washington Post mengungkap bahwa badan-badan intelijen Amerika Serikat telah memperingatkan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan bahwa entitas Israel dapat mengambil langkah militer di Lebanon yang berpotensi berdampak negatif pada upaya Amerika untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.
Surat kabar tersebut menjelaskan bahwa laporan intelijen menunjukkan bahwa entitas pendudukan Israel tampaknya bertekad melanjutkan operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon, yang bertentangan dengan salah satu elemen utama dari kesepakatan yang sedang dirumuskan, yakni penghentian serangan di wilayah tersebut.
Menurut laporan itu, perkembangan ini terjadi di tengah tekanan politik besar yang dihadapi Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan kampanye militer di Lebanon. Situasi ini juga disertai meningkatnya ketegangan antara dirinya dan pejabat pemerintahan Trump, yang secara terbuka memperingatkan Israel bahwa serangan terhadap Hizbullah dapat menyebabkan runtuhnya kesepakatan yang sedang diupayakan oleh Trump.
Para pejabat menyebutkan bahwa penilaian intelijen terbaru menyimpulkan bahwa masa depan politik Netanyahu, menjelang pemilu yang dijadwalkan pada musim gugur, sangat bergantung pada upayanya meyakinkan basis pendukungnya bahwa ia tidak akan menarik pasukan Israel dari Lebanon dan siap meningkatkan eskalasi terhadap Hizbullah.
Menurut penilaian tersebut, Israel menunjukkan ketidakpuasan terhadap beberapa klausul dalam kesepakatan AS–Iran, karena dianggap melemahkan tujuan mereka untuk mempertahankan tekanan maksimum terhadap Tehran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat memperkirakan akan terjadi gencatan senjata penuh di semua front, termasuk Lebanon, setelah berlakunya memorandum kesepahaman antara Washington dan Tehran.
Namun meskipun Washington dan Tehran telah menandatangani MoU yang juga mencakup penghentian serangan di Lebanon, perang di wilayah tersebut masih berlanjut. Pada Jumat, 47 orang dilaporkan tewas dan 97 lainnya terluka akibat serangkaian serangan udara Israel yang intens di wilayah selatan dan timur Lebanon.
Perkembangan ini terjadi setelah tewasnya empat tentara Israel, termasuk komandan Batalyon 52, dalam pertempuran dengan Hizbullah, yang menuduh Israel melanggar gencatan senjata.
Sejak dimulainya eskalasi besar Israel terhadap Lebanon pada 2 Maret lalu, sebanyak 3.912 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 12.000 orang terluka, serta lebih dari satu juta orang mengungsi, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.


