Washington, Purna Warta – Scott Ritter menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki sistem pertahanan yang memadai untuk menghadapi rudal balistik Iran. Ia menegaskan bahwa Washington telah mengalami kekalahan militer dalam menghadapi Iran.
Mantan perwira militer Amerika Serikat, Scott Ritter, dalam wawancaranya dengan media Nujaba yang berafiliasi dengan gerakan perlawanan Irak, menegaskan bahwa Amerika tidak memiliki perisai pertahanan yang cukup untuk menghadapi rudal balistik Iran.
Ia menjelaskan bahwa kesempatan Iran untuk melancarkan serangan besar terhadap Israel justru akan merugikan Amerika Serikat.
Mantan perwira militer AS tersebut mengatakan bahwa Washington kini berbicara tentang rencana untuk meruntuhkan perekonomian Iran setelah meninggalkan upaya untuk mengalahkan negara itu secara militer. Menurutnya, ketidakmampuan Amerika untuk mengalahkan Iran di medan perang telah terbukti, sementara upaya untuk menundukkan Iran melalui tekanan ekonomi juga akan berakhir dengan kegagalan.
Berikut adalah pokok-pokok pernyataan Scott Ritter dalam wawancara tersebut:
“Berkenaan dengan perang Amerika Serikat melawan Iran, maksud saya, kita harus bersikap realistis dan bertindak berdasarkan kenyataan. Dalam perang ini, selama 39 hari pertama, Amerika Serikat telah menyerang Iran dengan seluruh kekuatan dan segala kemampuan yang dimilikinya.
Alasan perang berubah menjadi konflik berkepanjangan dan kemudian terhenti adalah karena persediaan amunisi Amerika Serikat telah habis. Kita belum memulihkan cadangan persenjataan kita secara memadai. Kita tidak memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mempertahankan diri secara efektif dari serangan rudal balistik Iran.
Karena itu, saya berpendapat bahwa setiap upaya untuk melanjutkan kembali konflik, yang kemudian berkembang menjadi kampanye udara strategis, akan gagal mencapai tujuannya. Upaya tersebut justru hanya akan berujung pada kehancuran fisik negara-negara Arab sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur minyak Irak atau infrastruktur minyak Iran, saya meyakini bahwa Iran juga akan membalas dengan menghancurkan infrastruktur di Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Akibatnya, kita akan menghadapi bencana terhadap keamanan energi global, sesuatu yang tidak akan mampu ditanggung oleh Amerika Serikat.
Oleh karena itu, saya tidak berpikir bahwa kita akan menyaksikan perang besar-besaran yang melibatkan seluruh kekuatan kedua belah pihak. Namun, saya meyakini bahwa letupan dan gelombang kekerasan militer akan terus berlanjut, sementara Amerika Serikat dan Iran berusaha menemukan jalan untuk mengakhiri konflik ini.
Akan tetapi, bukan kepentingan Amerika Serikat untuk membiarkan Iran memiliki kesempatan melancarkan serangan menentukan terhadap sekutu-sekutu regionalnya, termasuk Israel. Israel sendirilah yang meminta gencatan senjata kepada Amerika Serikat karena mengalami kerugian akibat serangan Iran yang, seiring berjalannya waktu, menjadi semakin tidak tertahankan.
Israel hingga kini belum berhasil menyelesaikan persoalan tersebut. Alih-alih berupaya mengalahkan Iran secara militer, Amerika Serikat kini mempertaruhkan strateginya pada keruntuhan ekonomi negara itu, dengan harapan dapat mencapai tujuan politik yang diinginkan Washington di hadapan rakyat Amerika.”


