Al-Quds, Purna warta – Sebuah media berbahasa Ibrani memperingatkan bahwa isolasi internasional yang dihadapi Israel, di tengah sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, merupakan ancaman eksistensial bagi negara tersebut.
etelah tiga tahun berlalu sejak Operasi Badai Al-Aqsa yang, menurut narasi laporan tersebut, menyingkap wajah Zionisme, kalangan Zionis memperingatkan bahwa meningkatnya isolasi internasional terhadap Israel dapat mengancam keberlangsungan negara itu.
Dalam konteks ini, Shuki Friedman, direktur jenderal lembaga yang dikenal sebagai Institut Kebijakan Rakyat Yahudi (Jewish People Policy Institute), memperingatkan melalui sebuah artikel yang diterbitkan oleh Israel Hayom bahwa sanksi yang terus meningkat terhadap Israel merupakan ancaman strategis. Menurutnya, jika kebijakan kabinet Israel di Tepi Barat terus berlanjut, ancaman tersebut dapat berkembang menjadi ancaman eksistensial.
Sanksi terhadap Israel Mencapai Tingkat yang Belum Pernah Terjadi Sejak Perang Gaza
Friedman, seorang dosen hukum di Peres Academic Center, menjelaskan bahwa basis data yang dihimpun lembaganya mencatat 121 tindakan penghukuman terhadap Israel sejak awal Oktober, yang dilakukan oleh 62 negara. Dari jumlah tersebut, 93 tindakan masih berlaku.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar tindakan dan sanksi yang diberlakukan terhadap Israel menyasar sektor persenjataan, akademik, serta kegiatan keuangan dan perdagangan. Menurutnya, langkah-langkah tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Di antaranya adalah larangan impor produk permukiman Israel dari Tepi Barat dan penerapan sanksi individual terhadap sejumlah menteri kabinet Israel.
Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa Irlandia dan Luksemburg menolak membantu penerbitan obligasi Israel di Uni Eropa. Sementara itu, Inggris, Prancis, dan Kanada mengumumkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Tepi Barat.
Sanksi tersebut diperkirakan dapat diperluas hingga mencakup seluruh kegiatan ekonomi di wilayah itu dan berpotensi mengancam aktivitas perbankan.
Dampak Sanksi terhadap Keamanan Israel
Penulis artikel tersebut menegaskan bahwa Belanda telah melarang impor produk dari Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan. Pada saat yang sama, sanksi akademik semakin diperketat sehingga menimbulkan dampak serius terhadap para peneliti dan kegiatan penelitian ilmiah di Israel.
Namun, menurut Friedman, risiko terbesar terletak pada sektor keamanan. Industri persenjataan Israel bergantung pada komponen asing, dan pada praktiknya, hampir tidak ada sistem persenjataan kompleks yang dibuat sepenuhnya menggunakan komponen buatan Israel sendiri.
Friedman menambahkan bahwa penerapan sanksi terhadap produk dwiguna (dual-use), seperti cip elektronik, dapat membuat produksi sistem persenjataan menjadi jauh lebih sulit.
Menurutnya, banyak sanksi terhadap Israel berkaitan dengan perang di Gaza dan pertimbangan politik domestik di negara-negara yang menjatuhkan sanksi tersebut.
Artikel itu juga menjelaskan bahwa sebagian besar sanksi lainnya berkaitan dengan kebijakan kabinet Israel di Tepi Barat. Kebijakan tersebut mencakup pemberian izin pembangunan permukiman dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya serta pengesahan sejumlah besar pos permukiman di wilayah Tepi Barat, yang pada praktiknya dinilai mengarah pada aneksasi wilayah tersebut.
Selain itu, artikel tersebut menyoroti tidak adanya sanksi terhadap kelompok ekstremis Yahudi atas tindakan kekerasan dan serangan mereka terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Direktur jenderal Institut Kebijakan Rakyat Yahudi itu menekankan bahwa dampak sanksi tidak terbatas pada individu atau wilayah yang menjadi sasaran, tetapi dapat meluas ke seluruh perekonomian Israel.
Kewajiban untuk memverifikasi asal-usul produk dapat mendorong para importir Eropa menghentikan seluruh impor dari Israel. Sementara itu, risiko sanksi dapat mendorong investor memindahkan modal mereka ke negara lain.
Isolasi Internasional Menjadi Ancaman Eksistensial bagi Israel
Menurut penulis artikel tersebut, Jerman di tingkat Uni Eropa dan Amerika Serikat di tingkat internasional sejauh ini telah mencegah penerapan langkah-langkah paling keras terhadap Israel. Namun, posisi tersebut dapat berubah.
Dalam konteks ini, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat Amerika Serikat telah mengusulkan rancangan kebijakan untuk membatasi pasokan senjata dan bantuan kepada Israel. Jika Partai Demokrat berhasil memperoleh mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilihan paruh waktu November, peluang bagi usulan tersebut untuk disahkan diperkirakan akan meningkat.
Friedman menyebut skenario paling berbahaya adalah ketika Dewan Keamanan PBB memberlakukan sanksi internasional terhadap Israel tanpa Amerika Serikat menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan langkah tersebut.
Menurutnya, ketergantungan Israel pada dunia internasional untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya menjadikan isolasi internasional sebagai ancaman strategis yang berpotensi berkembang menjadi ancaman eksistensial.
Penulis artikel itu memperingatkan bahwa jika kebijakan-kebijakan Israel saat ini terus berlanjut, bahkan sekutu-sekutu terdekatnya dapat terdorong untuk meninggalkannya. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membahayakan perekonomian, keamanan, dan keberlangsungan Israel.


