Refleksi Harian Perang terhadap Iran di Media Dunia

reaksi berita

Tehran, Purna Warta – Setelah 29 hari sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan saja tujuan yang diumumkan dari operasi ini belum tercapai, tetapi juga semakin terlihat tanda-tanda kebuntuan strategis serta kegagalan di lapangan dan secara politik bagi pihak-pihak penyerang. Perang yang dimulai dengan serangan luas dan pembunuhan warga sipil, termasuk para pelajar yang tidak bersalah, dengan cepat berkembang menjadi krisis dengan dimensi kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas serta memicu beragam reaksi di media internasional.

Media dunia, masing-masing dengan pendekatan tersendiri, berupaya membentuk narasi tentang perang ini. Penelaahan terhadap berbagai liputan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi nyata perang dan prospeknya ke depan.

Media Barat

Harian The Guardian dalam sebuah laporan menulis:
“Perang yang berbalik arah: bagaimana Trump, dengan membombardir Iran, justru menempatkan Amerika dalam posisi yang lebih buruk.” Empat minggu telah berlalu sejak perang yang semula diperkirakan tidak akan berlangsung lebih dari empat hari, namun hingga kini telah menelan biaya sekitar 30 hingga 40 miliar dolar bagi Amerika Serikat dan sekitar 300 juta dolar per hari bagi Israel. Washington kini berada lebih jauh dari kesepakatan diplomatik dengan Iran dibandingkan pada Mei 2025. Perang ini bukan saja gagal memaksa Iran untuk membongkar program nuklirnya secara total dan permanen, tetapi kini Washington bahkan harus bernegosiasi untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jalur air strategis ini sejak era kapal layar pertama selalu terbuka, kecuali dalam periode singkat pada 1980-an saat perang tanker antara Iran dan Irak. Kemunduran ini mengejutkan pimpinan militer Amerika. Menteri Pertahanan Pete Hegseth baru-baru ini mengatakan bahwa “satu-satunya hal yang saat ini menghalangi lalu lintas di selat itu adalah penembakan Iran terhadap kapal.” Namun pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat. Dalam beberapa pekan terakhir Iran tidak banyak menembaki kapal; yang membuat perusahaan asuransi dan pemilik kapal tanker mundur adalah ketakutan terhadap kemungkinan serangan Iran.

Kantor berita Reuters menulis dalam laporannya:
“Setelah satu bulan perang dengan Iran, hanya pilihan-pilihan sulit yang tersisa bagi Trump.” Dengan meningkatnya harga energi global dan menurunnya tingkat popularitas, Donald Trump menghadapi pilihan berat: menandatangani kesepakatan yang mungkin memiliki kelemahan dan keluar dari perang, atau meningkatkan tindakan militer dengan risiko perang jangka panjang yang dapat membayangi masa kepresidenannya. Meskipun terjadi berbagai upaya diplomatik, Trump menutup pekan lain dari kampanye bersama Amerika dan Israel dalam kondisi kesulitan mengendalikan krisis yang semakin membesar di Timur Tengah. Iran tetap mempertahankan kendali kuatnya atas jalur pengiriman minyak dan gas di Teluk Persia serta melanjutkan serangan rudal dan drone di berbagai wilayah. Para analis menilai pertanyaan utama sekarang adalah apakah Trump siap mengakhiri perang yang oleh para pengkritiknya disebut sebagai “perang pilihan” atau justru akan meningkatkannya—perang yang telah menimbulkan guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah dunia dan dampaknya melampaui kawasan.

NBC News juga melaporkan:
“Setelah satu bulan, akhir perang belum terlihat; Iran memberi tekanan pada ekonomi global.” Semua pihak mengklaim sedang menang. Namun setelah satu bulan sejak perang dimulai, satu hasil yang pasti tampak jelas: kerusakan besar terhadap ekonomi global. Setelah empat minggu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara tentang kemungkinan negosiasi untuk mengakhiri perang yang ia mulai bersama Israel. Namun respons Iran—yang sebelumnya telah diperingatkan oleh banyak pejabat kawasan dan para pengamat—berhasil menciptakan situasi yang dampaknya kini dirasakan di seluruh dunia. Teheran dengan menggunakan rudal dan drone berbiaya rendah secara efektif telah menutup Selat Hormuz, jalur vital yang sebelum perang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia setiap hari, sekaligus menyerang fasilitas minyak dan gas di beberapa negara Teluk yang terlibat dalam perang.

BBC dalam laporannya menulis:
“Perang Iran memecah kalangan konservatif tua dan muda; tekanan terhadap Trump untuk mencari jalan keluar meningkat.” Survei menunjukkan bahwa sejak hari pertama sebagian besar masyarakat Amerika menentang kampanye militer Amerika dan Israel di Iran. Meski demikian, Partai Republik pada umumnya tetap berada di belakang presiden mereka ketika perang mendekati akhir pekan keempatnya. Namun situasi ini tampaknya mulai berubah.

Media Arab dan Regional

Saluran Al-Mayadeen dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Mohammed Abdo membahas alasan Inggris tidak terlibat langsung dalam perang melawan Iran. Ia menulis bahwa peran Inggris dalam krisis Timur Tengah saat ini terutama terbatas pada dukungan udara dari pangkalan Akrotiri di Siprus dan koordinasi dengan sekutu Eropa. Alasan utama keterlibatan London yang tidak langsung adalah kelemahan struktural Angkatan Laut Kerajaan, yang kehilangan daya tangkal akibat pemotongan anggaran pertahanan sebesar 22 persen antara 2009 hingga 2017 serta fokus strategis pada Atlantik Utara. Penempatan hanya satu kapal perusak dan satu kapal selam di kawasan, dibandingkan kehadiran Prancis yang lebih besar, menunjukkan krisis operasional dalam angkatan laut Inggris. Hingga dekade 2030-an dan selesainya armada baru, London tidak mampu memainkan peran tempur langsung dan lebih memilih menyediakan pangkalan udara bagi pembom Amerika serta melakukan misi pertahanan udara terbatas.

Surat kabar Saudi Asharq Al-Awsat menilai ultimatum berulang Trump kepada Iran bukan ancaman mematikan, melainkan taktik negosiasi untuk menunjukkan kendali atas krisis dan membuka jalan bagi perundingan. Penulis artikel tersebut menekankan bahwa pengalaman menunjukkan presiden-presiden Amerika tidak mampu mengubah sifat sistem politik Iran.

Al-Jazeera dalam sebuah artikel menjelaskan alasan dukungan Rusia kepada Iran yang tidak sepenuhnya menyeluruh. Disebutkan bahwa pada awal 2026 kerja sama Rusia dan Iran berkembang menjadi kedekatan strategis namun tetap terbatas. Berdasarkan “Perjanjian Kemitraan Strategis”, Moskow bukan lagi penerima drone, tetapi justru memasok Iran dengan versi canggih “Geran-2” serta memberikan dukungan intelijen penuh. Namun Rusia menolak menyerahkan pesawat tempur Su-35 dan sistem S-400 karena memprioritaskan front Ukraina.

Situs Arabi21 menilai perang Amerika-Israel melawan Iran memiliki sejumlah konsekuensi utama. Meskipun Amerika tampak menang di medan perang, konflik ini justru mempercepat proses kemundurannya melalui biaya finansial besar, melemahnya tatanan internasional, dan meningkatnya perbedaan dengan sekutu. Di sisi lain Israel menghadapi risiko jangka panjang akibat rasa percaya diri berlebihan dari kemenangan yang diklaim serta meningkatnya kebencian terhadap hubungan dengan Israel di kalangan masyarakat Amerika.

Muhammad Biniji, analis dan penulis di surat kabar Turki Milli, menulis bahwa kesalahan terbesar dalam perencanaan strategis Amerika dan Israel adalah anggapan bahwa mereka dapat menghancurkan infrastruktur produksi rudal Iran. Ia menegaskan bahwa fasilitas produksi tersebut berada jauh lebih dalam dari kemampuan penetrasi bom penghancur bunker Amerika dan Israel. Gurun dan pegunungan Iran bukan hanya ciri geografis, tetapi juga tempat perlindungan strategis dengan fasilitas bawah tanah, gua alami, dan garis pertahanan yang dibangun di dalam pegunungan. Struktur ini membuat Iran berbeda dari lawan mana pun yang pernah dihadapi Amerika dan menjadikannya “hampir tak tersentuh dan sulit dikalahkan”.

Kolumnis surat kabar Turki Milliyet, Tunca Bengin, menulis bahwa Trump terus menyampaikan pernyataan ancaman dan klaim yang tidak benar. Menurutnya, masyarakat dunia memandang situasi ini dengan keheranan dan kekhawatiran. Ia menilai Trump ingin mendominasi dunia dan menganggap dirinya memiliki posisi tersebut, namun bahkan belum mampu meyakinkan rakyat negaranya sendiri.

Situs berita Pakistan Jang News menulis bahwa Timur Tengah berada di ambang pilihan sensitif antara eskalasi konflik atau menuju kompromi. Iran menekankan tuntutan keamanan, mempertahankan pengaruh regional, dan kompensasi kerugian; sementara Amerika menuntut pembatasan program nuklir Iran, pembatasan jaringan regionalnya, dan keamanan jalur laut. Meskipun perbedaan ini ada, tanda-tanda menunjukkan bahwa de-eskalasi bertahap dan kesepahaman terbatas lebih mungkin terjadi daripada perang besar. Dalam konteks ini Pakistan berperan sebagai mediator potensial antara Teheran dan Washington.

Media China dan Rusia

CGTN China membahas beberapa skenario masa depan perang:

Kesepakatan melalui negosiasi—opsi paling sulit dalam jangka pendek karena perbedaan posisi kedua pihak, meskipun gencatan senjata sementara mungkin terjadi.
Pengumuman sepihak Amerika tentang berakhirnya perang—dinilai tidak efektif karena Iran atau Israel belum tentu menerimanya.
Konflik panjang dan membeku—skenario yang paling mungkin, di mana tidak ada pihak mencapai tujuannya.
Eskalasi besar—yang dapat mencakup perluasan konflik ke Selat Bab al-Mandeb, serangan terhadap pulau strategis, fasilitas minyak seperti Pulau Kharg, atau bahkan operasi darat terbatas.

CGTN menekankan bahwa hambatan utama diplomasi adalah tidak adanya kemauan jelas dari Amerika dan Israel untuk menghentikan operasi militer.

Kantor berita Xinhua membahas konsekuensi politik negatif bagi Trump jika Amerika mengirim pasukan darat ke Iran. Para analis memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mengecewakan basis pemilih Trump yang menentang perang luar negeri yang mahal dan berkepanjangan.

Kantor berita Rusia TASS menyoroti meningkatnya ketidakpuasan negara-negara Teluk terhadap kebijakan Amerika dalam perang melawan Iran. Mereka secara pribadi mulai mempertanyakan nilai menjadi tuan rumah pangkalan Amerika karena membuat negara mereka menjadi target serangan.

Dalam wawancara dengan TASS, analis militer Amerika Scott Ritter menilai sistem pertahanan Patriot sangat rentan terhadap serangan Iran dan menyebut bahwa mengoperasikan sistem tersebut di Timur Tengah sama saja dengan “bunuh diri”.

Seorang pakar dari Higher School of Economics (HSE) Moskow dalam artikel di Russia Today menilai bahwa proses yang berlangsung saat ini bukan negosiasi nyata, melainkan pertukaran pesan tidak langsung melalui mediator. Menurutnya Amerika lebih membutuhkan jalur diplomatik ini dibandingkan Iran.

Media Israel

Harian Israel Maariv mengakui bahwa akibat serangan rudal harian Iran—lebih dari 400 rudal balistik dan ratusan drone sejak awal perang—Israel mulai merasionalisasi penggunaan rudal pertahanan Arrow karena stoknya menipis dan terpaksa menggunakan sistem David’s Sling yang sebenarnya dirancang untuk jarak lebih pendek.

Maariv juga menyoroti krisis manajemen di kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, termasuk tuduhan bahwa kantor tersebut dipenuhi individu yang tidak kompeten dan hanya melindungi kepentingan pribadi Netanyahu di tengah perang dengan Iran.

Dalam laporan lain, Maariv membahas masuknya Ansarullah Yaman ke dalam konflik melawan Israel dan meningkatnya ancaman maritim di Laut Merah serta Selat Bab al-Mandeb.

Surat kabar Israel Hayom melaporkan peningkatan tajam biaya penyeberangan bagi warga Israel melalui perbatasan darat Mesir di Taba di tengah perang dengan Iran. Pemerintah Mesir menaikkan biaya penyeberangan menjadi 120 dolar per orang ditambah 100 dolar untuk setiap kendaraan.

Situs Ynet News menganalisis kemungkinan strategi Amerika untuk menguasai pulau-pulau strategis Iran di Teluk Persia guna mengendalikan Selat Hormuz. Tujuh pulau—Abu Musa, Tunb Besar, Tunb Kecil, Hengam, Qeshm, Larak, dan Hormuz—membentuk “busur pertahanan” Iran. Para pejabat Iran menyebut pulau-pulau tersebut sebagai “kapal induk yang tidak dapat tenggelam”. Para analis militer Amerika memperkirakan bahwa setiap upaya merebut pulau-pulau tersebut dapat memakan waktu dua hari hingga dua minggu dan memerlukan sekitar 1.800 hingga 2.000 pasukan untuk mempertahankannya, dengan risiko korban yang sangat besar bagi pasukan Amerika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *