Tehran, Purna Warta – Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa keikutsertaan Iran dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini menjadi kesempatan untuk berdialog dengan negara-negara lain serta membela hak dan kepentingan rakyat Iran.
Berbicara kepada para wartawan di sela-sela sidang tersebut pada Rabu, kepala pemerintahan Iran itu mengatakan bahwa delegasi Iran datang untuk berdialog dengan berbagai negara serta membela hak-hak rakyat Iran yang “tertindas namun kuat”.
Ia mengatakan bahwa pidato yang telah dipersiapkannya untuk disampaikan di hadapan Majelis Umum PBB harus direvisi setelah pernyataan yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sehari sebelumnya, Trump menggunakan pidatonya di hadapan Majelis Umum untuk kembali menyampaikan retorika agresifnya terkait Iran. Ia mengatakan bahwa dirinya bersiap mengambil “keputusan besar” mengenai apakah akan mencapai kesepakatan atau “dengan cepat memusnahkan” Iran. Trump juga kembali mengulang tuduhannya bahwa Republik Islam Iran sedang berupaya memperoleh “senjata nuklir”.
Menurut Pezeshkian, perubahan tersebut dilakukan agar Iran dapat secara lebih tegas menyampaikan realitas terkait tindakan Amerika Serikat terhadap rakyat Iran dan negara-negara lainnya.
Pezeshkian mengatakan bahwa sejumlah tindakan Amerika Serikat tidak sejalan dengan hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Ia menilai Washington dalam beberapa tahun terakhir telah menerapkan pendekatan berbasis kekuatan di berbagai belahan dunia.
Ia menyebut Venezuela, Kuba, dan Greenland sebagai contoh dari pendekatan tersebut.
Presiden Iran itu mengatakan bahwa penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat memiliki sejarah panjang. Namun, menurutnya, pendekatan semacam itu jarang disampaikan secara terbuka seperti sekarang, termasuk dengan adanya pembicaraan mengenai “penghancuran sebuah negara”.
Ia menegaskan bahwa Iran memiliki akar sejarah dan peradaban yang sangat kuat sehingga tidak dapat dihancurkan.
Pezeshkian juga menyinggung dukungan terbuka yang ditunjukkan rakyat Iran terhadap negaranya, meskipun mereka menghadapi berbagai tekanan. Menurutnya, keteguhan tersebut patut diapresiasi.
Berbicara mengenai perkembangan regional, Pezeshkian mengatakan bahwa tindakan rezim Israel, khususnya di Gaza dan Lebanon, bertentangan dengan norma dan aturan hukum internasional. Ia merujuk pada berbagai laporan mengenai jatuhnya korban sipil dan penderitaan masyarakat di Gaza dan Lebanon.
“Melihat gambar-gambar dan laporan mengenai penderitaan serta terbunuhnya warga sipil merupakan sesuatu yang menyakitkan bagi setiap manusia yang bebas, sementara pada saat yang sama kita menyaksikan klaim mengenai kemanusiaan dan hak asasi manusia yang disampaikan oleh pihak Israel,” ujarnya.
Pezeshkian juga menanggapi reaksi sebagian warga Iran yang tinggal di luar negeri terhadap perkembangan di kawasan tersebut.
“Sayangnya, sebagian warga Iran yang tinggal di luar negeri telah menyelaraskan diri dengan arus tertentu dalam persoalan ini, sementara mereka yang merupakan warga asing dan bukan orang Iran justru menunjukkan simpati kepada para korban dan mereka yang kehilangan nyawa,” katanya.
Pezeshkian mengatakan bahwa delegasi Iran juga telah mengadakan sejumlah pertemuan diplomatik di sela-sela pertemuan PBB tersebut.
Ia mencatat bahwa pertemuan telah dilakukan dengan para pejabat dan pihak berwenang dari berbagai negara. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, dibahas “kesepahaman yang baik dan berbagai bidang kerja sama”.


