Damaskus, Purna Warta – Laporan dari selatan Suriah menunjukkan bahwa militer Israel tengah memperkuat posisinya di sepanjang garis gencatan senjata, sebuah langkah yang menurut sumber lokal telah menyebabkan kerugian signifikan bagi para petani.
Menurut laporan RT Arabic, sumber-sumber lokal di Provinsi Quneitra menyatakan bahwa tentara Israel telah memulai operasi penggalian dan pembangunan benteng baru di sepanjang garis gencatan senjata yang dikenal sebagai “Sofa 53” di wilayah pinggiran tersebut.
Laporan juga menyebutkan bahwa militer Israel sedang membangun jalan dengan lebar sekitar 8 meter di sepanjang garis pemisah dengan Dataran Tinggi Golan, yang diperkuat dengan tanggul tanah setinggi sekitar 5 meter.
Sumber lokal menegaskan bahwa aktivitas ini menyebabkan penyusutan lahan pertanian, yang pada akhirnya menimbulkan kerugian besar bagi para petani dan peternak. Hilangnya padang rumput dan hasil pertanian disebut telah berdampak serius terhadap mata pencaharian penduduk setempat.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah perbatasan Suriah–Israel, khususnya di sekitar Dataran Tinggi Golan yang telah diduduki Israel sejak 1967. Wilayah ini tetap menjadi titik sensitif dalam konflik regional, dengan aktivitas militer yang sering memicu kekhawatiran eskalasi lebih lanjut.
Dalam beberapa bulan terakhir, laporan juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas militer Israel di Suriah selatan, termasuk serangan udara dan penguatan posisi darat, yang dikaitkan dengan upaya membatasi pengaruh Iran dan kelompok sekutunya di kawasan tersebut.
Selain dampak militer, aktivitas ini juga membawa konsekuensi kemanusiaan dan ekonomi bagi warga sipil Suriah, terutama petani dan peternak yang bergantung pada lahan dan sumber daya lokal. Penyusutan lahan pertanian serta kerusakan infrastruktur pedesaan memperburuk kondisi kehidupan di wilayah yang sebelumnya sudah terdampak konflik berkepanjangan.
Para pengamat menilai bahwa langkah-langkah seperti pembangunan infrastruktur militer di zona sensitif ini dapat memperkuat kontrol lapangan, namun sekaligus meningkatkan risiko konfrontasi serta memperdalam krisis kemanusiaan di wilayah perbatasan tersebut.


