Cerminan Harian Perang Terhadap Iran di Media Dunia

Baztab

Tehran, Purna Warta – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan tidak tercapai, tetapi juga semakin banyak bukti yang menunjukkan adanya kebuntuan strategis serta kegagalan lapangan dan politik bagi pihak penyerang.

Beberapa pemberitaan melaporkan bahwa perang ini—yang dimulai dengan serangan luas dan menewaskan warga sipil termasuk pelajar tak bersalah—dengan cepat berkembang menjadi krisis dengan dimensi kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas, serta memicu beragam reaksi di media internasional. Meski sempat tercapai gencatan senjata selama dua minggu yang kemudian diperpanjang oleh Donald Trump, jalan menuju berakhirnya konflik secara nyata masih panjang dan kompleks.

Media dunia, masing-masing dengan pendekatan tersendiri, berupaya membentuk narasi perang ini; kajian atas pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang realitas konflik dan prospeknya.

Media Arab dan Regional

Media Al Jazeera menjelaskan bahwa perang Iran telah melampaui krisis energi dan transportasi, menjadi gangguan serius dalam rantai pasokan teknologi global. Krisis ini berpusat pada kelangkaan bahan baku penting untuk produksi papan sirkuit cetak (PCB) dan semikonduktor—komponen utama perangkat modern.

Serangan terhadap kompleks petrokimia, khususnya di kawasan Teluk, menyebabkan penurunan pasokan bahan seperti resin epoksi serta lonjakan harga. Kenaikan biaya logam seperti tembaga dan lamanya waktu pengadaan (dari beberapa minggu menjadi beberapa bulan) menunjukkan bahwa krisis tidak hanya soal harga, tetapi juga gangguan produksi nyata.

Di sisi lain, permintaan chip—terutama untuk kecerdasan buatan dan pusat data—terus meningkat, sehingga memberi tekanan tambahan pada perusahaan dan berpotensi menaikkan harga produk seperti ponsel dan laptop.

Sementara itu, Al Mayadeen menyoroti pentingnya kemungkinan pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping. Pertemuan ini, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ekonomi antara AS dan China, menjadikan krisis Iran dan perkembangan di Selat Hormuz sebagai salah satu isu utama. China menginginkan pembukaan selat dan pengakhiran sanksi, tetapi tidak ingin sepenuhnya mengikuti tuntutan AS, sementara Washington mencoba memanfaatkan tekanan terhadap Iran sebagai alat tawar terhadap Beijing.

Media Raialyoum melaporkan meningkatnya ketegangan antara Iran, AS, dan Israel serta kemungkinan pecahnya perang luas. Disebutkan bahwa Benjamin Netanyahu melihat kondisi ini sebagai “kesempatan emas,” sementara Iran dinilai tidak akan menyerah di bawah tekanan. Situasi ini digambarkan sebagai “permainan kekuatan” di mana masing-masing pihak menunggu pihak lain mundur.

Situs Arabi21 juga menyoroti aspek hukum di AS terkait Undang-Undang Kewenangan Perang 1973, yang membatasi durasi operasi militer tanpa persetujuan Kongres. Pemerintahan Trump disebut mencoba menghindari batasan ini melalui interpretasi hukum tertentu, termasuk mengklaim “penghentian waktu” selama masa gencatan senjata.

Media China dan Rusia

Peneliti China, Li Zixin, dalam siaran China Central Television menyatakan bahwa operasi militer AS dan Israel terhadap Iran telah berujung pada kebuntuan strategis bagi Washington. Ia menekankan bahwa eskalasi konflik berisiko memicu perang besar yang bertentangan dengan tujuan AS untuk mengurangi kehadiran di Timur Tengah.

Ia juga menegaskan bahwa meski tidak ada pihak yang sepenuhnya menguasai Selat Hormuz, Iran memiliki keunggulan geografis untuk mengganggu pelayaran.

Sementara itu, analis geopolitik Amerika, Christopher Helali, dalam wawancara dengan RT menyatakan bahwa serangan terhadap Iran tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil seperti rumah sakit, sekolah, dan klinik. Ia menggambarkan masyarakat Iran sebagai “tangguh dan bermartabat,” bertentangan dengan klaim Washington.

Media Israel

Harian Haaretz melaporkan bahwa meskipun terdapat ancaman keras, Trump tampaknya tidak ingin kembali ke perang penuh dengan Iran. Namun, ketegangan di kawasan Teluk meningkat sejak pengumuman rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.

Media The Times of Israel menyoroti ancaman baru dari drone Hezbollah, khususnya drone berbasis serat optik yang sulit dilawan oleh sistem perang elektronik. Penggunaan drone ini dinilai dapat mengubah keseimbangan perang dan mengancam strategi zona penyangga Israel di Lebanon selatan.

Media tersebut juga mencatat bahwa pengalaman konflik di Mosul, Suriah, Karabakh, dan Ukraina telah menunjukkan bahwa drone murah dapat mengubah dinamika perang—sesuatu yang dinilai kurang diantisipasi oleh Israel.

Sementara itu, situs ekonomi Globes melaporkan lonjakan biaya hidup di wilayah pendudukan. Biaya rata-rata barang dan jasa sekitar 21% lebih tinggi dibanding negara Eropa maju, dan hingga 68% lebih tinggi dibanding negara berpendapatan lebih rendah. Kondisi ini menyebabkan penurunan tingkat kesejahteraan sekitar 14% serta meningkatnya keinginan untuk bermigrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *