Washington, Purna Warta – Kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap target militer di Pulau Khark—terminal utama ekspor minyak Iran—serta ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz telah mengguncang pasar energi global. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memperoleh keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga minyak Brent, namun pada saat yang sama menghadapi risiko gangguan ekspor serta kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi mereka.
Menurut analisis Brookings Institution, penutupan Selat Hormuz dapat menimbulkan kerugian hingga 15 miliar dolar AS per hari bagi perekonomian global. Kondisi ini menempatkan Riyadh dan Abu Dhabi dalam posisi yang dilematis.
Peran Strategis Pulau Khark
Dalam skenario kemungkinan serangan Amerika terhadap target militer di Pulau Khark, peristiwa tersebut dapat menjadi titik balik dalam konflik Iran–Israel–Amerika Serikat. Pulau yang terletak di Teluk Persia ini saat ini mengelola sekitar 90 persen ekspor minyak Iran dan memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 31 juta barel.
Berdasarkan analisis yang dikaji oleh Reuters, serangan semacam itu dapat mendorong Iran untuk secara serius mempertimbangkan penutupan total Selat Hormuz. Jika hal tersebut terjadi, ekspor minyak kawasan diperkirakan dapat turun hingga 36 persen, dari sekitar 12,3 juta barel per hari menjadi 7,8 juta barel per hari.
Menurut laporan Atlantic Council, ancaman Iran bahwa “setiap kapal non-Iran akan menjadi target” berpotensi menghentikan aliran sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang melewati Selat Hormuz.
Selain itu, laporan Congressional Research Service memperingatkan bahwa penutupan selat tersebut dapat mengganggu hingga 20 juta barel minyak per hari dalam perdagangan global.
Risiko Ekonomi bagi Arab Saudi
Dari sisi ekonomi, Arab Saudi menghadapi sejumlah risiko jika krisis ini meningkat. Laporan S&P Global menunjukkan bahwa sekitar 80 persen ekspor minyak mentah Saudi melewati Selat Hormuz.
Arab Saudi dapat mengurangi sebagian dampak gangguan dengan mengaktifkan jaringan pipa alternatif berkapasitas sekitar 7 juta barel per hari. Namun dalam empat minggu pertama krisis, negara tersebut diperkirakan dapat mengalami kerugian sekitar 15,2 miliar dolar AS.
Meskipun kenaikan harga minyak Brent memberikan keuntungan jangka pendek, gangguan yang berkepanjangan dapat meningkatkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, terdapat pula risiko kemungkinan serangan Iran terhadap fasilitas energi di negara-negara Teluk.
Risiko Ekonomi bagi Uni Emirat Arab
Dalam skenario yang sama, Uni Emirat Arab juga menghadapi risiko ekonomi yang signifikan, termasuk gangguan operasional di Pelabuhan Fujairah serta potensi serangan langsung.
Menurut laporan S&P Global (3 Maret 2026), sekitar 65 hingga 68 persen ekspor minyak UEA melewati Selat Hormuz. Jalur pipa Habshan–Fujairah dengan kapasitas sekitar 1,5 hingga 1,8 juta barel per hari dapat diaktifkan untuk mengurangi dampak gangguan.
Namun jika Iran melancarkan serangan terhadap kota-kota utama seperti Abu Dhabi dan Dubai, kawasan tersebut berpotensi mengalami kerugian hingga 50 miliar dolar AS. Dampak ekonomi lainnya termasuk peningkatan inflasi serta gangguan pada sektor pariwisata.
Dampak Regional dan Global
Secara keseluruhan, laporan dari Anadolu Agency memperkirakan potensi kerugian regional dapat mencapai 50 miliar dolar AS, disertai lonjakan tajam harga minyak global.
Laporan Congressional Research Service juga memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu sekitar 20 persen perdagangan global. Dampak ekonominya diperkirakan mencakup peningkatan inflasi serta penurunan investasi internasional.
Di sisi lain, sebagian analis menilai bahwa situasi ini dapat membuka ruang diplomasi baru dengan BRICS serta memperkuat peran Tiongkok dalam dinamika energi global.
Dalam satu perspektif analisis, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tetap memprioritaskan kepentingan nasional mereka dalam menjaga kelancaran ekspor energi dengan mengaktifkan jalur pipa alternatif. Namun dari perspektif lain, kemungkinan serangan terhadap Pulau Khark dapat mengguncang keseimbangan geopolitik kawasan dan memicu efek berantai dalam ekonomi global.


