Pemerintahan Al-Jolani Menyatakan Israel Bertanggung Jawab atas Serangan terhadap Bandara Abu al-Duhur

Zuhur

Damaskus, Purna Warta – Kementerian Luar Negeri pemerintahan Ahmad al-Sharaa—yang juga dikenal sebagai Abu Mohammed al-Jolani—menyatakan bahwa Israel merupakan pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pangkalan udara militer Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah.

Menurut laporan kelompok internasional kantor berita Tasnim, Kementerian Luar Negeri pemerintahan al-Jolani pada Selasa mengeluarkan pernyataan yang menyatakan Israel sebagai pelaku serangan terhadap pangkalan udara militer Abu al-Duhur di Idlib dan mengecam keras tindakan tersebut.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri pemerintahan al-Jolani mengatakan, “Ini merupakan agresi yang tidak dapat dibenarkan, pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah, serta eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan.”

Kementerian tersebut menyatakan bahwa pihaknya menganggap “penjajah Zionis” bertanggung jawab atas agresi tersebut dan menyerukan kepada masyarakat internasional serta Dewan Keamanan PBB untuk mengecamnya.

Utusan AS Hanya Menyatakan Keprihatinan atas Serangan Israel terhadap Suriah

Utusan Amerika Serikat untuk Suriah menanggapi serangan Israel terhadap pangkalan udara militer Abu al-Duhur dengan menyatakan keprihatinan.

Menurut pejabat AS tersebut, serangan udara Israel terhadap pangkalan Abu al-Duhur merupakan “eskalasi yang tidak perlu dan tidak berkontribusi terhadap stabilitas kawasan.”

Perkembangan dan fakta terkait

Peristiwa tersebut terjadi pada 18 Agustus 2026. Associated Press melaporkan bahwa delapan serangan udara menghantam pangkalan Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah barat laut. Serangan terutama mengenai landasan pacu dan menyebabkan kerusakan material, tetapi tidak ada korban jiwa atau luka yang dilaporkan. Militer Israel pada saat laporan tersebut belum memberikan komentar mengenai serangan itu.

Yang cukup penting, versi sumber mengenai pelaku serangan perlu diberi atribusi. Pemerintah Suriah dan Utusan Khusus AS untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, menyatakan bahwa Israel berada di balik serangan tersebut. Barrack mengatakan Washington “sangat prihatin” dan menyebut serangan itu sebagai “eskalasi yang tidak perlu”. Namun, laporan The Jerusalem Post menyebut sumber-sumber Israel tidak mengakui keterlibatan Israel dan menyatakan bahwa Israel tidak terlibat. Dengan demikian, fakta bahwa serangan terjadi telah dilaporkan secara luas, tetapi tanggung jawab Israel tetap perlu disajikan berdasarkan atribusi pihak yang menyatakannya.

Pernyataan Barrack menjadi menarik karena menunjukkan adanya perbedaan antara tindakan Israel dan sikap diplomatik Washington dalam kasus ini. Barrack mengatakan pemerintah Ahmad al-Sharaa tidak mengambil sikap agresif terhadap Israel dan tidak mempertahankan pasukan proksi, bahkan berulang kali menunjukkan preferensi terhadap deeskalasi. Karena itu, menurutnya, serangan terhadap Abu al-Duhur tidak membantu stabilitas regional.

Pangkalan Abu al-Duhur sendiri memiliki sejarah militer yang panjang. Pangkalan tersebut merupakan salah satu pangkalan udara utama Suriah di Idlib dan selama perang saudara Suriah pernah dikuasai kelompok pemberontak sebelum kembali direbut pasukan pemerintah pada 2018. Setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024, pangkalan tersebut kembali berpindah tangan dalam perkembangan perang dan perubahan kekuasaan di Suriah.

Serangan kali ini juga berlangsung di tengah ketegangan yang semakin kompleks antara Israel, pemerintah Suriah yang baru, dan Turki. AP mencatat bahwa setelah jatuhnya pemerintahan Assad pada Desember 2024, Israel telah melakukan berbagai serangan terhadap fasilitas militer Suriah dengan alasan mencegah aset militer Suriah digunakan oleh pemerintahan baru. Pada saat yang sama, Ankara meningkatkan pengaruhnya di Suriah, sehingga keberadaan pangkalan-pangkalan militer dan rekonstruksi kemampuan militer Suriah memiliki implikasi regional yang lebih luas.

Dari sudut pandang pemerintah Suriah, serangan tersebut merupakan persoalan kedaulatan nasional. Pernyataan Kementerian Luar Negeri pemerintahan al-Jolani menekankan bahwa serangan udara Israel merupakan pelanggaran terhadap wilayah Suriah dan meminta Dewan Keamanan PBB mengambil sikap. Posisi ini juga mendapat sebagian dukungan retoris dari Washington, karena utusan AS secara terbuka menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi yang tidak perlu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *