Pejabat Kementerian Pendidikan Iran: Penargetan Sekolah Merupakan Kejahatan Perang

'limi

Tehran, Purna Warta – Dalam wawancara khusus dengan kantor pemberitaan di Iran, Farhadi menyatakan bahwa penargetan sekolah dan institusi pendidikan oleh Amerika Serikat dan Israel merupakan kejahatan perang di forum internasional. Menurutnya, puncak tragedi tersebut terjadi di Sekolah “Shajarat Tayyiba” di Kota Minab, di mana 168 anak dilaporkan tewas.

Serangan terhadap sekolah disebut pelanggaran hukum internasional

Menjawab pertanyaan mengenai bagaimana hukum internasional memandang serangan terhadap sekolah, Farhadi mengatakan bahwa sekolah dalam seluruh perjanjian internasional dan di berbagai masyarakat—tanpa memandang agama, mazhab, pandangan politik, atau filosofi—dianggap sebagai tempat aman yang harus dilindungi.

Ia menyampaikan hal tersebut saat berada di sebuah sekolah berasrama untuk siswa berprestasi, Sekolah Allameh Helli di Teheran. Farhadi mengatakan bahwa sekolah itu termasuk salah satu fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan akibat serangan yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Menurutnya, selama konflik yang disebut sebagai “Perang Ramadan”, sekitar 924 sekolah di Iran mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, sekitar 18 sekolah hancur sepenuhnya dan harus dibangun kembali dari awal, sementara sekolah lainnya mengalami kerusakan antara 20 hingga 80 persen.

Farhadi menambahkan bahwa pemerintah Iran berupaya membangun kembali seluruh sekolah tersebut agar dapat kembali beroperasi dan memberikan layanan pendidikan pada tahun depan.

Ia menegaskan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap sekolah merupakan kejahatan perang di forum internasional. Tragedi terbesar, katanya, terjadi di Sekolah “Shajarat Tayyiba” di Minab, yang menewaskan 168 anak.

Kementerian Pendidikan Iran bersama Kementerian Luar Negeri, lanjutnya, telah mengambil langkah hukum melalui organisasi internasional seperti UNESCO dan UNICEF. Ia juga menyatakan bahwa peristiwa di Sekolah Minab seharusnya dijadikan simbol kejahatan perang terhadap lembaga pendidikan di dunia dan tetap hidup dalam kesadaran kemanusiaan global.

Pemerintah pastikan pendidikan tetap berjalan

Menanggapi situasi pendidikan saat ini di Iran, Farhadi menegaskan bahwa pendidikan di negara tersebut tidak akan pernah berhenti.

“Iran, sebagai salah satu peradaban tertua di dunia, tidak akan menghentikan pendidikan. Bahkan jika sekolah tidak ada, di setiap keluarga Iran terdapat seorang ibu yang berperan sebagai guru dan pembimbing,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa Iran telah lama menjadi sumber ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban bagi dunia. Farhadi menyebut karya para sastrawan, insinyur, ilmuwan, dan dokter Iran di berbagai belahan dunia sebagai kebanggaan nasional. Ia juga merujuk pada tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Hafez, Saadi, dan Rumi sebagai simbol tradisi intelektual Iran.

Farhadi menambahkan bahwa saat ini para siswa Iran tetap mengikuti pembelajaran setiap hari melalui platform pendidikan daring “Shad”. Menurutnya, tidak ada gangguan besar dalam proses pendidikan, kecuali perubahan metode pembelajaran dari tatap muka menjadi jarak jauh.

Selain itu, sekolah televisi Iran juga terus menyiarkan program pendidikan melalui jaringan televisi pendidikan nasional. Pemerintah juga menyediakan paket pembelajaran offline bagi siswa yang tidak memiliki akses internet atau televisi, sehingga proses pendidikan tetap dapat berlangsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *